
...Dikejar Ajudan...
...*************...
Bukan aku tidak menghargai mu didepan suamimu. Aku menjaga yang tidak seharusnya terjadi walau aku tahu begitu aku ingin bersama mu. Sejak aku meninggalkan kampung menuju tengah laut menaiki Pajero miliki Resky, pikiranku, pertanyaanku, dan harapanku, hanya aku fokuskan kepadamu. Aku tidak pernah membayangkan yang lain selain wajah dan dirimu, ditangan laut, aku ingin segera berjumpa denganmu.
Namun, setelah aku melihat mu, ada hal yang ternyata membuat ku untuk tidak mewujudkan impian-impian kecilku. Kamu tahu, bukan aku tidak menghendaki nya melainkan ada hal yang membuat kita harus menjaga jarak.
Kamu telah bahagia...! melihatmu menangis ketika aku pergi bersama Resky, rasanya aku ingin kembali untuk menghapus air mata itu. Kamu bahkan sudah tidak perduli pada suamimu hingga Ajudan mu mengejar ku hanya untuk memberikan penjelasan dan teguran kepadaku.
Tak lama, dengan linangan air matamu, kamu mendatangiku. Mungkin karena kamu merasa bersalah padaku hingga kamu tetap mengejar ku.
Kamu menjelaskan padaku penuh serius, penuh makna, penuh kesungguhan agar aku bisa percaya dan mengatakan, "oh, kamu tidak diberikan izin oleh keluarga mu untuk kembali menemui ku di kampung."
"Eden, tidak perduli seberapa bencinya kamu padaku, seberapa tidak perduli nya kamu padaku, seberapa rendahnya aku dimatamu. Aku ingin, kamu tahu ? selama aku meninggalkan janjiku padamu, dari saat itu aku sudah menjadi milikmu. Lihatlah air mataku, wajahku, lihatlah denyutan nadiku, di sekujur tubuhku sekaan berlomba berdenyut memanggil namamu. Kamu bahkan tidak ingin mendengar penjelasan dariku, kamu bahkan langsung pergi tanpa bertanya padaku, siapa yang menemaniku saat ini. Apakah begini cinta yang kita pertahankan, Eden ? atau memang kedatangan mu kesini hanya untuk melihatku menangis. Andai bukan hari ini, aku sudah berencana untuk menemui mu dikampung, Eden."
"Sudahlah ! katakan semua yang ingin kamu sampaikan padaku. Hatiku sudah terlalu sering mendengar kata-kata seperti itu. Bahkan batu yang pernah mengeras dalam diriku dahulu yang sempat kamu lunakan, saat ini telah mengeras kembali. Siapa coba yang tidak akan sakit bila telah sekian lama aku menunggumu di kampung hanya untuk hidup bersama mu. Bahkan kedua orang tuaku setiap hari selalu menyuruhku untuk menikah. Kamu tahu apa alasanku ? alasanku pada orang tuaku, aku ingin menunggu mu kembali, ingin menemanimu berlayar dengan Phinisimu. Tapi, ternyata hal indah yang aku pikirkan hanyalah suatu pemanis cinta yang dengan setia kamu memberiku kekuatan untuk tetap memegang tongkat hidup yaitu janji kita berdua, memegang motivasi hati, memegang harapan kita berdua. Kalau bukan hari ini, kedatangan ku disini, mungkin aku tidak akan pernah bisa melihatmu lagi"
__ADS_1
"Rindu, ketika dulu kamu pamit padaku. Kamu tahu tidak ?! setiap malam, aku menunggu mu dipantai bahkan setiap malamnya juga bantal guling yang biasa kamu pakai tidur, menjadi teman curhatku selama kamu tidak ada. Jangan menangis ! hapus air matamu ! aku bilang jangan menangis ! bahkan aku melupakan siapa sebenarnya diriku ini. Cintamu hanyalah dongeng yang datang dengan Phinisi dan pergi dengan Phinisi setelah semua barang-barang dihatiku telah kamu rampas"
"Ibuku terkadang mengatakan padaku bahwa aku sudah tidak benar, aku sering kali dimarahin oleh Ibuku hanya karena hari-hariku, kuhabiskan untuk mencari jejak-jejak bekas hidup yang kamu tinggalkan untukku. Jangan menangis ! hapus lah air mata itu dihadapanku, air mata itu pernah aku lihat saat kamu pergi meninggalkanku. Selama kamu pergi, aku tidak tahu lagi kemana hendak mencari arti dari impian yang kutabur dalam dirimu. Nyatanya, hari ini, aku melihatmu dengan seorang laki-laki yang lebih pantas, lebih ganteng, lebih bersih, berkulit putih, dan memiliki segalanya. Apa pentingnya kamu menyuruh Ajudan mu untuk mengejar ku, toh ! tidak ada lagi yang perlu dibicarakan antara kita berdua."
"Eden..., dengarkan aku ! dengarkan penjelasan ku !."
"Tidak !. Aku ingin kembali !."
Suasana genting di dermaga hari ini telah mengundang perhatian orang banyak. Kapal-kapal Phinisi yang berlabuh berderetan dari ujung ke ujung, hampir semua orangnya keluar dari dalam kapal hanya untuk melihat tangis cinta diatas dermaga. Resky yang tadinya banyak bicara, dia diam tak berkata apa-apa.
Tidak terkendali, tiba-tiba saja laki-laki yang bersama Rindu menerobos jantung kegentingan kondisi ini. Aku tidak menyangka bahwa laki-laki itu akan memberiku kecutan dihadapan banyaknya orang. Rindu pun tidak menyadari nya, ketika dia duduk menundukan kepalanya ketanah didampingi dua teman wanita yang selalu mengikuti nya. Mendarat diwajahku sebuah tamparan yang menyakitkan.
Sungguh menyayat hatiku. Mau melawan, mereka berlima. Aku hanya diam mendengar hinaan itu, "ia, aku memang tidak pernah sekolah."
Mataku memerah, amarahku meluap. Untung saja Resky membesarkan ku dihadapan mereka.
"Iya, kamu benar ! kalian memang orang berpunya, sekali bicara seribu orang yang akan percaya. Coba kamu tanyakan pada Rindu atau Aliya itu, dimana dia mengenal Eden ? atau beritahukan kepada kami, mengapa semua orang dikampung nya Eden tahu bahwa dia pernah kesana ?. Jangan karena kamu melihat Rindu menangis lalu kamu main hakim sendiri, jangan karena kalian adalah orang-orang penting dengan banyak Ajudan lalu seenaknya memukul orang lain. Eden, tidak akan mungkin mengatakan padanya bila dia tidak pernah mengenalnya. Harusnya kamu sadar, lihatlah Rindu yang tetap masih menangis setelah bertemu dengan Eden. Mereka hanya bertemu sesaat untuk meluapkan beban-beban dalam hati masing-masing, bertatap hanya sekedar memberi informasi bahwa kehadiran nya ada disini untuk sekarang. Karena apa ? Eden jauh-jauh datang kesini hanya satu alasannya yaitu agar dia bisa menemui atau melihat dia yang masih menangis itu"
__ADS_1
"Bisa-bisanya kamu langsung main hakim sendiri. Rindu, suruh Ajudan mu untuk tidak mengejar Eden lagi ?. Wanita macam apa kamu ini ? sudah berjanji tapi lupa dengan janjimu. Sebagai wanita, aku malu melihat dan mendengar ada seorang wanita yang berjanji untuk hidup bersama dengan pilihannya tapi nyatanya santai-santai saja bahkan dia tidak pernah lagi berpikir akan janji yang dia buat"_
"Eden, ayok kita pergi ! jangan hiraukan mereka. Biarkan Tuhan yang membalas tamparan laki-laki pengecut itu."
Bersama Resky, aku melangkah pergi menjauh dari mereka. Kami masih harus ke Pajero mengambil barang-barang milik Resky.
Masih ada yang membekas, Rindu masih mengejar ku dengan linangan air matanya. Tidak perduli lagi apakah dia anak seorang Gubernur atau bukan, dia hanya mengejar ku untuk mendapat kata maaf dariku.
Kasihan, ibaku lebih besar, cintaku menyuruh ku untuk kembali padanya. Aku membalik arahku untuk meraih mendekapnya namun Resky tetap menarik ku.
"Eden, jangan perdulikan dia, hari ini kamu ingin memaafkannya dan memperbaiki hubungan cinta yang lama tak terjaga. Ingat suatu saat Eden, suatu hari, kamu pasti akan dikucilkan lagi olehnya.
Rindu maafkan aku ! kita mungkin sama-sama merasai perasaan dalam hubungan kita. Tapi benar ! aku sudah melihat mu bersama seorang laki-laki.
Cintailah dia, aku adalah masa lalumu. Aku tetap berjalan pergi meninggalkan nya, hanya air mata sedihnya yang nampak dimataku seikhlas cintaku padanya.
Jodoh itu seperti Phinisi yang berlayar dan berlabuh membawa harapan dan seperti Pajero milik Resky yang telah membawaku kesini. Paling tidak, aku sudah melihat mu walau sakit disini, aku bahagia sebab Rinduku ternyata masih mencintaiku.
__ADS_1
Aku kesal padamu dan kuharap dilain waktu, kita berdua memiliki kesempatan untuk berucap kembali dalam urusan ini.
Ingatlah Rindu ! janjimu masih harus kamu penuhi.