Perahu Apung

Perahu Apung
07


__ADS_3

...Mulainya Kisah Awal di Malam Senin...


...****************...


Penciptaan manusia tidak terlepas dari sejarah pengisian Bumi ini. Bumi ini juga diciptakan tidak terlepas dari cinta dan ke Agungan Tuhan yang Maha Pengasih. Sebuah lambang tertinggi diantara lambang cinta yang pernah tersejarah kan dalam hubungan Adam As bersama Ibu semua wanita.


Agak unik seperti perahu apung, sebuah kapal Phinisi yang berlabuh di dermaga Karumpa, tetap menunggu pemiliknya.


Dia, Rindu adalah wanita Kota yang datang membawa amanah kedalam sebuah kisah yang haru, bahagia, untuk mengenalnya, dia datang lewat kapal Phinisi yang berlabuh di dermaga Karumpa dari hari pertama nya dia tiba.


Ya... malam ini. Malam senin berdebar, aku menyebut nya sebagai malam sakral selama ini dalam rentang hidupku selama aku menjalani nikmat tumbuh dewasanya diriku. Malam ini, tiba sesosok kehangatan yang menyentuh sedikit kulitku, aku merasakan kedinginan.


Ketika riak-riak angin malam selepas Isya. Dia duduk bersama dua temannya di didepan rumah kecil kami. Bersama Ibuku dan beberapa orang yang juga ada disitu. Aku ingin gabung tapi karena kulihat tidak ada laki-laki, aku pamit ke Ibuku untuk menikmati suasana pantai di malam sejuk ini.


Kedengarannya agak keren ditelinga Rindu hingga dia memutuskan untuk ikut bersamaku. Dua temannya wanita yang ingin juga ikut bersama kami, dilarang !.


"Hanya berdua, ya..." Tanya dua sahabatnya itu pada Rindu setelah memberinya instruksi isyarat untuk tidak mengikuti kami.


"Hanya berdua !. Lagian ini masih dini untuk sebuah malam yang panjang" jawabnya.


Mendengar itu, aku hampir tidak percaya. Sebab selama ini, kemanapun Rindu pergi, dua sahabatnya itu pasti ikut.


Riang, girang, bahagia dalam diriku. Ternyata aku berhasil setelah kejujuran menegur diriku sendiri sewaktu pulang dari sekolah.


"Ayok !" aku mengajaknya dihadapan semua yang hadir disitu.


Ibuku yang selalu memperingati ku untuk menjaga hatiku agar tidak terjatuh, di malam ini malah terdiam. Hanya matanya yang memperlihatkan agak menolak. Ibuku terjebak diantara adanya orang yang masih cerita didepan rumahku hingga hanya mampu berkata, "Eden, Rindu, jangan lama-lama dipinggir pantai. Di sana banyak setan ! Apakah kalian tidak takut setan ?."


Ibuku sengaja mengatakan itu pada kami. Aku tahu alasannya, alasannya agar kami tidak semakin dekat dan untuk menghindari perbincangan orang-orang tentang kami.


Sahutku pada Ibuku yang terlihat khawatir itu, "Bu. Eden dan Rindu, tidak akan lama, Bu. Hanya sebentar saja, habis itu, kami akan kembali sebelum jam sepuluh malam."


"Biarkan saja Bu Yul. Mereka sudah dewasa dan pasti tahu mana baik dan mana buruk. Lagian mereka pergi hanya sebentar dan itupun mereka pamit pada kita yang ada disini."

__ADS_1


Alhamdulillah....! atas dukungan Ibu Noni, akhirnya, Ibuku terlihat tenang. Tidak ada lagi bahasa-bahasa jangan, yang ada hanya kata cepat pulang ya.


"Sebelum jam sepuluh malam, kalian harus sudah ada dirumah. Rindu itu adalah wanita yang jauh, kamu harus menjaganya, Eden !" perintah Ibuku.


"Siap, Bu !. Eden akan melaksanakan titah dan amanah Ibu sebaik-baiknya."


...****************...


Rindu malah tertawa sembunyi-sembunyi mendengar jawaban-jawabanku pada Ibuku.


Kamipun pergi, berjalan menuju pantai ditemani harapan-harapan kecil yang masih membeku yang sebentar lagi akan mencair didepan desiran ombak pantai malam ini.


Sama sekali tidak ada ucap-ucap dari kami berdua. Seperti orang asing yang telah lama mengenal namun kaku disaat berdua. Bersua hanya sekedar memperdengarkan suara batuk yang bermakna masa depan.


Kenapa kami begini ? malam pun tidak ingin menjawab bahkan mata yang melihat kedepan arah jalan kesandung oleh bulu mata. Dia juga sepertiku, kalem, diam dan sesekali menggaruk lengan tangannya.


Aku memberanikan diri untuk menyapanya dalam kekalutan yang membungkus aura-aura rasa masing-masing diri kami.


Kami telah berada dipinggir pantai. Memandangi pelabuhan dipenuhi perahu-perahu kecil milik nelayan kampungku, sebuah pemandangan indah yang memberi warna setakjub diri pada Tuhan.


Dia agak menjauh dariku. Biasanya, dia yang akan memanggilku duduk didekatnya. Namun kali ini, dia terlihat agak minder, malu, dan ingin bersembunyi dari kenyataan yang sebentar lagi akan aku utarakan padanya.


...****************...


Sendaku kumulai dari sekarang.


"Rindu, mengapa kamu duduk agak jauh dariku. Aku tidak akan memakanmu, biasanya kamu yang memanggilku untuk duduk didekatmu. Sekarang terbalik, malam ini justru kamu yang menjauh dariku. Ada apa Rindu ?."


Dia mengalihkan perhatian pertanyaanku padanya. Sepertinya, memang dia sudah tahu. Maklum, wanita itu memang pemalu. Saat-saat seperti ini pada intinya adalah saat paling istimewa, berharga dalam hidup seorang wanita ketika benar-benar ada seorang laki-laki yang menyatakan cintanya.


Dengan keacuhannya, aku semakin tertantang untuk segera mengatakannya.


"Wahai Tuhan, berikan aku keberanian untuk menyatakan semua isi hatiku yang selama ini tertampung dalam diriku."

__ADS_1


Ku optimalkan diriku, kubuang jauh-jauh ketidak percayaan ku. Aku harus harmonis sebelum mengatakannya padanya atau dia sengaja ingin memancingku agar aku harus lebih berani.


Sesaat setelah kupikirkan resiko penolakan yang akan aku terima darinya. Kupilihkan keadaanku, dengan pelan aku memanggilnya untuk kedua kalinya.


"Rindu, duduklah didekat ku. Mengapa kamu duduk agak jauh dariku ?."


Tangannya mengambil sesuatu ditanah, melempari ku sambil mendatangiku duduk didekatku.


"Ada apa, Eden ?. Apa beda jika aku duduk agak jauh denganmu ?."


"Sama tapi agak beda. Selama ini kamu yang telah banyak bercerita padaku bila bersama. Aku ingin kamu mendengar ceritaku sebelum kita kembali kerumah."


"Apa itu, Eden ?. Ceritalah, aku akan mendengarkan mu dengan terbuka."


"Ada rasa di angkasa sana, bintang-bintang bersinar semalaman tiada henti. Ombak-ombak datang hanya membawa cinta pada pantai lalu kembali lagi. Perahu-perahu berlabuh didepan kita miring ke kanan miring ke kiri. Aku sebenarnya seperti itu, Rindu."


"Seperti apa ?. Tadi, kamu mengatakan mau cerita. Cerita apa yang ingin kamu sampaikan padaku."


"Tapi kumohon dengarkan dengan seksama. Kasitahu aku bila kamu tidak menyukai ceritaku dan kasitahu aku bila kamu menyukainya."


"Iya. Aku akan memberitahumu, Eden !."


"Aku ingin bercerita, bahwa di malam ini akan ada kejadian unik, ajaib dan menakjubkan hati. Ketika hal itu terjadi, mungkin ada keterangan menerima kenyataan yang terjadi atau mungkin tidak ingin melihat kejadian malam ini. Rindu, sejujurnya, sudah penuh hatiku menyimpan rasa padamu. Aku mencintaimu dalam masa yang tidak aku tahu sampai kapan. Sejak kamu datang kesini, aku melihat seorang wanita yang kuanggap bisa memberiku segalanya. Malam ini, kuingin kamu tahu bahwa Tuhan menjadi saksi dari kejujuran ku padamu"


"Rindu, jangan diam. Aku malu bila kamu diam seperti ini. Aku tidak tahu apakah ini salah atau ini adalah kebodohan ku. Entahlah ! yang aku pahami setelah mengatakan ini padamu, diriku menjadi lebih bersemangat untuk melihat wajahmu yang bahagia."


"Eden, kita harus pulang kerumah sekarang. Aku duluan pulang Eden !."


Dia berdiri, menengok kebelakangnya hanya untuk melihatku, hanya untuk berbicara sebelum dia berlalu, setitik cahaya, dia meninggalkannya untukku. Sambil berjalan, Rindu memberiku harapan, "Eden, sebenarnya, aku juga mencintaimu."


Setelah itu dia tetap berjalan. Aku masih dipantai, berlompat-lompatan karena senang, kebahagiaan malam ini adalah awal dimana aku mendapatkan pengakuannya padaku.


Rindu, tunggu aku ! aku akan menemuimu dirumah...!

__ADS_1


__ADS_2