Perahu Apung

Perahu Apung
50


__ADS_3

...Malam...


...********...


Ada apa hingga Eden ingin memeluk Rindu. Ia sedang mencari waktu yang pas. Katanya hanya ingin bersandar di bahunya Rindu tapi dia justru menjolorkan tangannya hingga kebagian sebelah badanya Rindu.


"Eden jangan begitu, malu dilihat Mad dan si gondrong. Kalau mau tidur, kamu bisa tidur tapi jangan memelukku. Gimana kalau Mad melapor pada Daeng ku. Aku tidak akan diberikan lagi izin untuk bertemu denganmu apalagi sampai harus menjagamu."


"Kamu kok pelit gitu. Aku cuma meluk sedikit doang. Tidak banyak !. Mad, hentikan mobilnya ya !."


Eden menyuruh Mad untuk memberhentikan mobil. Mereka berhenti pas di ujung jalan mau keluar ke jalan poros jalan raya. Tidak jauh dari kampus Unismuh Makassar.


"Mad bisa minta tolong belikan aku suprite di toko itu. Gondrong temani Mad ya, kami tunggu di mobil."


"Tapi Pak, aku baru saja menerima SMS dari Ayahnya Rindu untuk tidak singgah-singgah dijalan. Pulang langsung kerumah !." Mad memberitahu Eden mengenai pesan Ayahnya Rindu.


"Ah, sebentar saja, masa tidak boleh !. Aku lapor nanti pada Daeng nya Rindu kalau kamu tidak mau."


"Baik Pak !."


Mad dan gondrong keluar dari dalam mobil. Mereka pergi ke toko yang ada disamping penjual pulsa. Dari dalam mobil, Eden memperhatikan Mad dan gondrong apakah sudah agak jauh atau belum.


"Eden, kamu ngapain pake alasan menyuruh mereka beli minum dingin. Kan bisa dirumah minumnya, lagian kamu tidak haruskan ?."


"Masa kamu tidak tahu kalau aku haus. Bukan soal hausnya tapi aku ingin memelukmu. Kan, tadi kamu malu dipeluk saat Mad dan gondrong masih ada didalam mobil. Sekarang malah bertanya lagi, aku memang cuma buat alasan supaya aku bisa memelukmu."


"Eden, jangan main-main ya. Aku tidak ingin dipeluk. Kita belum sah suami istri dan kamu tidak boleh memelukku hanya untuk alasan ingin berdua denganku."


"Sejak kapan kamu tidak mau aku peluk. Aku tidak pernah memintamu untuk menemaniku sepanjang waktu. Aku heran padamu, dulu diatas kapal Phinisimu kamu bersandar didadaku hanya untuk foto bersama ditemani senja sore. Sekarang malah tidak mau dipeluk, aku juga cuma ingin mengabadikan kenanganku bersamamu, apa itu tidak bisa ?."

__ADS_1


Rindu tidak percaya dengan barusan yang Eden katakan. Dia mengingatkannya pada masa yang lampau yang pernah mereka lalui.


"Kamu kenapa bisa mengingat masa itu Eden. Apakah ini benar kamu atau aku yang bermimpi mendengar ucapanmu tadi. Ini nyatakan kalau kamu sadar mengatakan itu ?."


"Aku sadar, aku tidak mimpi, aku bahkan mengingat semuanya tentang kita."


"Tapi bagaimana bisa ? bukankah kamu masih lupa ingatan. Kamu lupa siapa aku, kamu bahkan tidak ingat namaku lalu bagaimana bisa kamu mengingat masa indah yang sudah berlalu cukup lama itu ?."


"Aku juga tidak tahu bagaimana aku mengingatnya."


"Itukan, mulai lagi. Makanya aku tidak percaya kalau kamu yang mengatakan barusan. Kamu pasti bermimpi saat matamu tertutup sedikit. Ternyata ada juga baiknya kita kerumah anak yatim tadi. Kalau begini, aku bisa membawamu setiap hari kesana agar setiap hari juga kamu bisa mengingat semua tentang kita."


"Makanya malam ini aku ingin memelukmu. Aku ingat saat pertama kamu datang ke rumahku malam itu, aku ingat saat kamu mengajakku pergi melihat lampu pijar yang cahayanya begitu indah dilihat dari atas kapal Phinisimu. Aku juga ingat dengan ucapan cintaku padamu di malam Senin dipantai laut kampungku. Aku ingat saat aku membopongmu bahkan pertikaianku dengan guru laki-laki waktu aku diajak masuk kedalam ruangan kelas, aku ingat semua tentang kita"_


"Apakah kamu masih belum percaya padaku bahwa aku sudah sembuh ?."


"Ada apa ?. Aku kira, jika kekasih sudah pulih maka pasti kebahagiaan menjadi alasan untuk memelukku. Kamu malah tidak percaya padaku. Ini aku, aku kekasihmu, kekasihmu sudah kembali dari masa absurd nya. Kalau kamu masih tetap tidak percaya, okelah ! aku bisa kembali ke kondisiku lagi yaitu lupa ingatan."


Ada keceriaan, ada kebahagiaan, ada tangis, ada haru, ada penantian, ada perasaan yang cukup lama menanti saat ini. Rindu merasakan semuanya bahkan nyawanya pun jika Eden memintanya pasti akan diberikannya padanya. Begitu semangatnya, Rindu langsung mengambil hpnya untuk menelpon ke Daeng nya. Dia ingin memberitahukan keajaiban yang terjadi pada Eden, dia juga ingin mengatakan kepada Daeng nya bahwa pernikahan mereka harus secepatnya diadakan.


"Eden, kemari lah jika kamu ingin memelukku maka peluklah aku dengan semaumu. Jangan biarkan aku tersesat sendiri karena menantikan waktu ini denganmu. Jangan ragu lagi, peluklah aku Eden sebab waktu yang telah membuatku lelah menunggu siuman mu menjadikan aku sebagai wanita yang hanya ingin memberimu kebahagiaan. Perasaanku bahkan tidak bisa lagi menolak jika malam ini ada obat gelisah ku darimu, aku ikhlasan apapun yang akan terjadi. Peluk aku Eden ! masihkah kamu melihat bagaimana Phinisiku mencium lautan, masihkah kamu melihat bagaimana layarnya memeluk angin. Kalau kamu masih mengingatnya maka akulah lautan itu, akulah angin itu. Rapatkan badanmu padaku Eden, selimuti aku dengan dua tanganmu, aku hanya ingin mendapatkan kehangatan malam ini tapi ingatkan aku pada waktu dimana kita akan menikah"_


"Setelah itu, kamu bukan hanya bisa memelukku untuk durasi menit yang berdetak lepaskan tanganmu tapi sepanjang malam kamu tidak akan bisa melepaskan tanganmu dariku."


Setiap asah kalimat romantis yang keluar dari Rindu. Tidak bisa membuat Eden untuk menunggu terlalu lama lagi mendengarnya. Eden hanya ingin memeluk kekasihnya.


"Ada apa ?." Kata Mad pada gondrong karena melihat mobilnya yang agak lain-lain.


"Aku juga tidak tahu, mobilnya seperti bergerak-bergerak gitu. Ah, sudahlah ! kita mungkin salah lihat, Mad." Jawab gondrong.

__ADS_1


Mereka tidak ingin tahu apa yang sedang terjadi dengan mobil itu.


Diruang yang sama, Rindu menanyai Eden tentang kembalinya ingatannya.


Kali ini agak sensitif...! Tapi tunggu dulu ya, di jeda.


"Den, apa yang terjadi dengan ingatanmu. Padahal sejak tadi pagi, siang, sore, aku masih melihatmu dalam keadaan terbelenggu oleh Amnesia mu. Sekarang, setelah kita kembali dari rumah anak yatim itu, kamu langsung mengingat semuanya ?."


"Tadi, waktu disana ! ketika kamu cerita dengan pengelola pondok, aku sempat main kuda-kudaan dengan anak-anak pondok itu. Diluar kendaliku dan tidak ada yang melihatku, kepalaku terbentur kelantai dan sontak aku merasakan sakit yang begitu hebat. Aku menahannya, mataku saat melihat seakan aku melihat sekelilingku berputar dan gelap. Berapa menit aku menundukkan wajahku dan kupegang kepalaku. Pas agak baikan hanya ada satu dipikirkan ku yaitu pergi makan. Di dalam warung, sebenarnya aku sudah mengingat pelan tentang siapa diriku dan siapa kamu. Namun karena masih agak pusing, aku mengacuhkan siapa kamu. Dan ketika kamu mengajakku untuk pulang, aku menjawabmu ingin tidur bersama anak-anak itu. Bukan karena apa ? tapi karena aku masih merasa pusing. Makanya aku bilang padamu didalam mobil bahwa aku mau sandar di bahumu. Sebenarnya aku ingin bilang bahwa aku begitu sangat mencintaimu, Rindu."


"Oh, aku ingin sekali mendengar kata itu darimu. Apakah kamu masih mau memelukku Eden ? aku ingin melupakan rasa lelahku, penantianku selama ini kuingin dimalam ini kuserahkan kepadamu."


"Tetaplah seperti itu bahkan satu permintaan darimu, aku akan memenuhinya seribu pemberian. Tapi, jangan sampai ada yang intip, Rindu."


"Siapa ?."


"Itu mereka dua orang dan satu orang lagi yang tidak kita lihat."


"Maksudmu Mad dan gondrong ?."


"Iya Rinduku."


Hanya sekedar mengucap cinta bahkan mobil sampai bergerak ditempatnya. Saking bahagianya, mereka ingin seperti pasangan suami istri namun takut ada yang intip.


Rindu kemudian menatap kearah luar untuk memastikan apakah Mad dan gondrong sudah datang. Eh, Eden malah menciumnya.


"Ih kamu !."


Pelan tapi pasti. Kedua tangannya Rindu lalu mendarat di punggungnya Eden. Malam ini, mereka sedang menitip cintanya untuk suatu alasan pernikahan.

__ADS_1


__ADS_2