Perahu Apung

Perahu Apung
23


__ADS_3

...Sebuah Misi...


...****************...


Dikesempatan yang lain dalam perjumpaan ku dengan Rindu selain sudah disetting sedemikian unik, kali ini, aku dibawa ke sebuah tempat yang tidak jauh dari ruangan tempat aku di sekap.


Entah kemana ? aku hanya mengikuti jejak sang kekasih yang melangkah. Dari mulai pintu di buka, bodyguard-bodyguardnya berdiri rapih berderetan. Di kampung, aku hanya melihatnya empat orang tapi disini lebih dari tujuh orang. Mereka semua memakai baju yang serba campur. Ada loreng, baret biru, ada yang bintang satu dan mereka semua begitu hormatnya pada Rindu.


Cek per cek, bukan kaleng-kaleng tapi semuanya adalah pembesar-pembesar aparat dari masing-masing kantor yang dipercayakan menjaga keamanan rumah Gubernur.


Tepat nya halaman belakang rumahnya. Aku dibawa kesana untuk bertemu dengan Ayahnya yang lagi asyiknya berlatih memanah. Karena tidak biasa melihat semacam itu, keringatku bercucuran, aku gemetaran, aku hanya berpikir semoga Rindu tidak membohongi dan melukaiku. Pikiran negatifku seharusnya lebih menakutkan ku saat melihat Ayahnya yang memegang busur dan mengarahkan anak panahnya nya kepadaku sambil berkata, "anakku yang cantik, itukah laki-laki yang sering kamu ceritkan padaku ?."


Anak panahnya masih tetap mengarah padaku. Aku melangkah mengikuti Rindu menuju Ayahnya sambil bersembunyi dibelakang nya.


Ayahnya mungkin lupa atau pura-pura tidak ingat sebab sebelum ini, dia mendatangiku bersama Istrinya diruangan tadi. Memberiku ancaman, mengata-ngatai ku sekehendaknya. Sekarang justru bertanya pada Rindu.


"Kemari lah Nak, mendekat pada Daeng. Daeng mu ini akan mengajarimu bagaimana cara memanah musuh saat dalam kesulitan. Bukan untuk mencari musuh tapi sekedar menjaga-jaga diri agar tidak terluka."


Rindu yang cantik itu, wanita yang begitu aku sayangi. Dia mendekat pada Ayahnya, memegang busur panah dan mengambil anak panah dari sarungnya. Anak panah nya di letakan dengan baik, mantap, dan searah. Aku saja, mungkin tidak bisa melakukannya. Latihan seperti ini belum pernah aku coba dan aku hanya melihatnya biasa di televisi, itupun nonton TV nya orang.


"Dan kamu anak desa. Tunggu disitu !. Ayok Nak, tarik busurnya, arahkan anak panah itu kepada kepala laki-laki yang kamu bawa kesini. He Pak Loreng tolong ambilkan buah jeruk itu dan simpan diatas kepala anak muda itu. Lalu pegangi dia agar tidak bergerak-bergerak."


"Siap, Pak. Sesuai perintah, kami laksanakan !."


"Daeng, aku khawatir jangan sampai tidak mengenai sasaran. Kasihan Eden !. Coba lihat dia, dia bahkan ketakutan dengan latihan ini. Rindu tidak bisa Daeng !."


"Ah ! ini cuma latihan Nak. Daeng mu ini ingin menguji calon suamimu, apakah dia bermental pemberani atau tidak. Jika kamu khawatir, Daeng mu lebih khawatir lagi padamu. Jangan sampai, dia tidak bisa menjagamu untuk selamanya. Mencari pasangan hidup itu harus bernyali Nak, nyalinya bagus di agama, bagus di keamanan, bagus di didikannya, agar kelak saat Daeng mu sudah tua, tidak mampu lagi menjagamu. Suamimu bisa menggantikan posisiku untuk menjagamu. Bukankah ini baik, Nak ?."


"Tapi Daeng, Rindu tetap tidak berani melepaskan anak panah ini mengarah padanya. Gimana jika bukan buah jeruk yang di kenai, gimana kalau kepalanya yang di kena. Rindu tidak bisa, Daeng !."

__ADS_1


Takut sih iya. Aku harus tampil bersiap diri, jangan terlihat gugup. Ini hanya latihan, tidak mungkin Ayahnya ingin aku mati dengan anak panah yang di arahkan Rindu padaku.


Walau demikian keberanian yang aku coba tampilkan dihadapan Ayahnya Rindu tetap saja ada sedikit rasa kekhawatiran menghantuiku.


"Biarlah aku terkena anak panah asal bisa bersamanya." Aku menyemangati diriku sendiri.


Hal uniknya adalah, selama ini jika Rindu bersama dengan orang lain atau siapa saja yang menemaninya curhat, jalan-jalan, dia memanggil Ayahnya dengan sebutan Ayah tapi disini, dihadapan Ayahnya langsung ternyata dia memanggilnya Daeng. Apakah orang Bugis Makassar memang dilabeli sebagai Daeng atau Daeng itu adalah watak keturunan asli Bugis Makassar.


Memikirkan hal itu sampai aku tidak melihat dengan jelas, Pak Loreng yang mana yang sudah menaruh buah jeruk di kepalaku.


Sekarang anak panah yang ditarik Rindu telah diarahkan padaku.


Kata Ayahnya, "dalam hitungan ketiga, lepaskan anak panah itu pada sasaran. Daeng akan menghitung nya mulai sekarang ya. Ayok semangat Nak !. Satu, dua, tiga...! ."


Anak panah itu terbang bersamaan dengan teriakan peringatan dari Rindu, "Awas, Eden !."


"Jangan lari ! takut juga ternyata pada kematian." Mengatai mereka dalam amarahku yang tidak bisa aku ungkapkan.


Alhamdulillah; Tuhan masih menjagaku dengan aman walau bukan buah jeruk yang di kena melainkan sedikit merobek daun telingaku.


Kejadian ini menyobek hatinya Rindu. Dia ingin sekali marah pada Ayahnya tapi tidak bisa. Baginya Ayahnya adalah sosok yang paling bijaksana. Ayahnya bersama Rindu serta beberapa orang yang tadi memegangku berlarian menuju ke arahku.


Kali ini bukan aku yang pusing, khawatir, atau tidak aman melainkan mereka yang terlihat begitu susahnya. Bagaimana tidak, aku menahan kesakitan yang cukup perih. Darah mengalir sedemikian deras nya dari ujung daun telingaku.


Dalam keadaan duduk seperti sekarang, aku menekan luka yang masih mengeluarkan darah.


"Cepat, cepat, cepat...!, kataku panggil Dokter." Perintah Ayahnya Rindu pada keamanannya.


"Daeng, telpon Dokter kesini. Itukan, Rindu sudah bilang sama Daeng, jangan arahkan anak panah padanya. Eden terluka Daeng !."

__ADS_1


"Kalian telpon Dokter cepat !. Jangan diam, cepat angkat, angkat, angkat dia bawa ke mobil."


"Darahnya terus keluar Daeng. Tidak mau berhenti !."


Kepanikan mereka semua membuatku melihat ada kepedulian yang tidak mereka sadari. Apakah karena rasa khawatir atau mungkin karena rasa lain. Bukan semacam ketakutan tapi semacam itu, lantaran aku terluka makanya mereka terlihat seperti ini.


Aku juga melihat wajah penyesalan Ayahnya Rindu.


"Hu..., coba aku tidak begini, tidak terluka, pasti kalian tetap mau mengujiku dengan berbagai permainan kalian."


Sakit karena luka masih bisa aku tahan tapi sakit karena tidak pernah melihat seorang wanita yang aku cintai lebih perih.


"Rindu, jangan panik. Aku baik-baik saja. Luka ini kecil bagiku, yang besar adalah luka ketika aku tidak bersamamu. Beritahu Ayahmu untuk tidak menelpon Dokter, aku tidak mau di bawa kerumah sakit. Lagian luka ini adalah sebuah ujian bagimu. Ayahmu ingin mengujimu apakah mampu melukaiku untuk sebuah hidup yang aman atau tidak."


"Diam, jangan bicara lagi. Daeng ku sudah datang, mungkin mobil sudah siap. Menunggu Dokter yang datang kesini, lama !. Jadi, kamu diantar kerumah sakit dengan mobil dinasnya. Aku juga ikut, maafin Rindu ya, Eden !. Aku sama sekali tidak berniat ingin melukaimu."


Akupun di angkat dari halaman belakang rumah menuju mobil yang sudah siap membawaku kerumah sakit. Dalam keadaan aku masih diangkat, sialnya, Ayahnya Rindu malah berbicara padaku, "jangan cengeng, kamu hari ini lulus ujian. Besok-besok masih ada ujian lain yang harus kamu lalui. Untuk sekarang nikmati dulu luka ditelinga mu di rumah sakit. Biar Rindu yang menjagamu selama dirumah sakit."


Haduh ! haruskah begini, kutarik nafasku dalam-dalam, apalagi setelah ini ?. Aku hanya berani bertanya pada kekuasaan resah nya pikiranku.


Mendengar ucapan Ayahnya, Rindu senyum padaku, "kamu semangat ! aku akan tetap ada untukmu." katanya membisik pelan ditelinga ku.


Mobil dinas dengan plat 2S (Dia sayang) kini telah berangkat menuju rumah sakit.


Aku, Rindu, dan Ibunya, duduk di kursi belakang. Ayahnya duduk didepan dengan sopir pribadinya.


Ah ! biarkan telinga ini sakit asal aku bisa memegang jemari tangannya Rindu. Curi-curi kesempatan dibalik kondisiku saat ini. Bukan aku yang ingin begini tapi kalian yang memintanya hingga aku harus mengedipkan mataku pada Rindu agar tetap membiarkan tanganku berada di atas punggung tangannya.


Misi belum berakhir...!

__ADS_1


__ADS_2