
"Liontin nya belum juga aku temukan, bagaimana ini?" gumam Alisha duduk di bangku taman depan kebun bunga mawar biru
Ia menyeka keringatnya dan melihat matahari sudah hendak tenggelam
"Sebentar lagi tuan Daren akan pulang, tapi aku belum juga menemukan liontin nya, bagaimana ini?"
"Ya sudah sebaiknya aku pasrah saja, sudah ku cari kemana-mana tetap tidak ada, lagipula juga bukan aku yang mengambilnya" ujarnya pula
Alisha yang frustasi menopang wajahnya dengan kedua tangannya dan mendekap kedua lututnya
Tak lama kemudian Alisha melihat sepasang sepatu di bawah sana lalu ia mengerutkan keningnya
Ia menengadah menatap ke atas dan menatap tuan keduanya tengah menatapnya juga
"Tuan Daren" lirih pelan Alisha
Daren mengeluarkan sebuket bunga dari belakangnya dan memberikannya pada Alisha
"Untukmu" ucap Daren dengan datar
Alisha sedikit terkejut dan menurunkan kedua kakinya namun masih dalam posisi duduk di kursi panjang itu
Ia melihat sebuket bunga berada di depannya dengan tatapan bingung
"Untuk apa tuan memberikan saya bunga?" tanya Alisha, ia belum menerima buket pemberian Daren
Daren terdiam sejenak dan Alisha dapat melihat dengan jelas ada guratan bingung terukir di wajah tampannya itu
"Aku.... aku minta maaf sudah menuduh mu tadi pagi" jawab Daren pelan tanpa melihat Alisha
Ia merasa malu meminta maaf padanya, apalagi hanya karena lupa
Baru kali ini ia meminta maaf pada seorang perempuan
Kini Alisha yang terdiam mendengar perkataan Daren dan Daren pun duduk di samping Alisha
Ia sedikit membuat jarak pada Alisha dengan duduk paling ujung kursi panjang itu
Alisha hanya diam dan menatapnya
"Maaf" lirih pelan Daren menaruh buket bunga nya di tengah-tengah mereka dan menundukkan kepalanya
Alisha tersenyum tipis dan mengambil bunga itu kemudian menghirup aroma segarnya
"Tuan darimana tahu kalau saya suka bunga?" tanya Alisha lembut sambil melihat ke arah Daren yang di sampingnya
Daren menoleh ke arahnya dan dapat ia lihat bagaimana Alisha tersenyum tulus padanya
__ADS_1
"Biasanya.... wanita suka dengan bunga jadi aku...."
"Terimakasih tuan atas bunganya, saya suka bunga nya warna-warni!" ucap Alisha tersenyum lebar
Deg deg deg.....
'A...ada apa ini? kenapa jantungku berdetak kencang saat melihatnya tersenyum?' gumam Daren bingung dan mengalihkan pandangannya ke arah lain
"Sekali lagi aku minta maaf sudah menuduh mu tadi pagi, aku pikir kau yang mengambilnya tapi ternyata aku lupa kalau aku meminjamkannya pada William" ucap Daren menarik nafasnya menetralisir detak jantungnya
"Tidak apa-apa tuan, saya paham kok, pasti liontin itu pemberian seseorang yang sangat spesial pada tuan maka tuan sangat marah liontin itu hilang" jawab Alisha tersenyum ramah
Daren kembali menatapnya dan meneduhkan pandangannya pada Alisha
Alisha dapat melihat ada kesedihan di matanya Daren di balik kacamatanya itu
"Ya, liontin itu pemberian seseorang padaku, dia orang yang sangat spesial buatku" lirih pelan Daren dan menatap lurus ke depan dengan tatapan meneduh
"Ternyata dugaan saya benar, apa itu pemberian keluarga anda?" tanya Alisha merasa penasaran
Daren terdiam sejenak kemudian melepas kacamatanya dan mengambil sesuatu dari balik saku jas nya
"Aku tidak punya keluarga, liontin ini pemberian teman masa kecil ku" jawab Daren sambil menatap dalam liontin di tangannya
"Oh jadi begitu" kini pandangan Alisha tertuju dengan benda yang ada di tangan Daren
"Aku.... aku tidak tahu, kami berpisah 18 tahun yang lalu di panti asuhan, saat itu aku berusia 10 tahun dan dia 7 tahun, ada seseorang yang ingin mengadopsi ku, ia memberikan ku liontin ini sebagai tanda perpisahan kami...." ucap Daren terhenti dan membuka liontin itu
Alisha tak bisa melihat foto yang ada di dalam kalung liontin tersebut
"Kataya.... jika kami bertemu lagi dia akan langsung mengenaliku jika aku memakai ini" ucap Daren selanjutnya
Kini Alisha sudah tahu mengapa Daren sangat marah padanya tadi pagi karena liontin itu menghilang
"Jika tuan sudah bertemu dengannya? apa yang akan tuan lakukan?" tanya Alisha semakin penasaran
"Aku.... aku akan menikahinya"
Alisha sedikit terkejut dengan perkataan Daren tadi, ia pikir teman masa kecilnya Daren itu seorang laki-laki
'Ku pikir laki-laki, ternyata perempuan' gumamnya
"Kenapa tuan ingin menikahinya?"
"Karena dialah yang sering membantu ku saat-saat di panti, dia seringkali meminjamkan ku buku-buku sekolahnya agar aku bisa belajar dan terkadang ia juga mengajariku belajar" jawab Daren lesu mengingat masa kecilnya
"Saat aku pergi meninggalkannya dan juga panti asuhan aku berjanji padanya akan segera kembali dan menikahinya, tapi karena suatu hal aku tidak pernah kembali ke panti asuhan itu untuk mencarinya"ucap Daren
__ADS_1
"Kemudian beberapa tahun terakhir ini aku mencarinya ternyata ia sudah tidak ada di sana lagi" ujarnya lagi menutup ceritanya
Jawaban dari Daren membuat Alisha sedikit terharu kemudian ia menengadahkan kepalanya melihat matahari yang mau tenggelam
"Tuan, apa anda tahu 3 perkara apa yang sudah ditetapkan di Lauhul Mahfudz?"
Daren menatapnya dengan tatapan bingung
"Apa itu lau...lau...."
"Lauhul Mahfudz itu adalah kitab tempat Allah menuliskan segala seluruh catatan kejadian di alam semesta yang artinya semua takdir kita sudah ditetapkan oleh Allah bahkan sebelum kita lahir ke dunia ini" jawab Alisha menyela perkataan Daren
"Lalu.... 3 perkara apa yang sudah di tetapkan di kitab Tuhan mu itu?" tanya Daren menatap wajah Alisha yang menatap matahari
Alisha tersenyum tipis kemudian balik menatapnya
"Jodoh, Rezeki, dan Maut"
Jawaban dari Alisha sukses membuat Daren terkejut dalam diamnya
"Tuan, anda tidak perlu bersedih jika tidak menemukannya, jika anda berjodoh dengannya, maka kalian jika sampai dipisahkan pun akan tetap bersama pada akhirnya, tapi jika kalian tidak berjodoh sampai kapanpun kalian tidak akan bisa bersama" ujar Alisha menatap teduh wajah Daren yang di sampingnya
"Lalu..... apa yang harus aku lakukan? aku sudah sangat tersiksa dengan merindukannya setiap hari" ujar Daren menahan sesak di dadanya
"Apa tuan yakin dia masih sendiri saat ini dan belum memiliki pasangan?"
Pernyataan dari Alisha sukses membuat Daren skakmat, kenapa ia tidak pernah berpikir ini sebelumnya?
"Lanjutkan lah tuan mencarinya sampai ia ditemukan jika itu membuat tuan puas, tapi ingatlah sesuatu tuan, jika kita berani mencintai maka kita harus berani juga untuk pahat hati jika tidak diterima" jawab Alisha tersenyum
"Jika dia sudah memiliki pasangan apa aku harus....."
"Tuan, lebih baik anda melepaskannya dari janji yang anda buat jika dia sudah memiliki pasangan" jawab Alisha
Daren dapat melihat betapa tulusnya semua perkataan Alisha yang terlontar padanya
"Terimakasih sudah mau mendengarkan ku bercerita, baru kali ini aku mencurahkan isi hati ku pada seorang wanita, sekarang aku merasa beban di hatiku terasa hilang saat berbicara dengan mu" ucap Daren tersenyum tipis
Alisha membalas senyuman tipis Daren dengan mengangguk pelan
"Tuan, anda tidak perlu merasa sendiri lagi, anda masih mempunyai tuan William yang merupakan sahabat anda, bukankah dia anda anggap sebagai saudara anda? jadi anda tidak perlu bersedih lagi"
"Serta jika anda sulit untuk meluapkan isi hati anda, datanglah pada saya, saya akan selalu siap menjadi tempat curahan hati anda"
Jawaban tulus dari Alisha sukses membuat Daren terenyuh
"Kenapa kau begitu baik padaku dan William, bukankah kami selalu bersikap acuh padamu?"
__ADS_1