
Seketika William mengalihkan pandangannya ke arah Alisha dan mengerutkan kening
"Tuan, sebelum pak Dave mengundurkan diri dia memberikan saya sebuah buku berisi semua yang tuan sukai dan tidak tuan sukai" ucap Alisha menatap lurus ke depan
'Ya, dia memang seperti itu, dia adalah orang yang paling mengerti aku setelah Daren' gumam William dalam hatinya
"Di buku itu pak Dave menuliskan bahwa tuan sangat menyukai warna-warna gelap, seperti hitam, coklat, atau biru tua" lanjut Alisha lagi
William menaruh garpu di tangannya ke piring kembali mendengarkan perkataan Alisha
"Tuan, apa tuan tahu? pak Dave sangat menyayangi anda, dia sudah menganggap anda sebagai anaknya sendiri" lirih Alisha menatap wajah William di sampingnya
"Darimana kau tahu?" tanya William ikut juga memelankan suara
Alisha terdiam agak lama sambil terus menatap ke depan
"Saya..... saya membaca buku diary nya tuan" jawab Alisha pelan
"Diary?" tanya William
Alisha mengangguk pelan kemudian memberikan buku itu pada William
"Buku itu yang pak Dave berikan pada saya dan di lembar-lembar terakhir terdapat curahan hatinya tentang tuan, bacalah" ucap Alisha
William mengambil buku dengan cover hitam klasik dan membukanya dari halaman terakhir
*Teruntuk tuan William*
Nak
Bapak tahu nak Will kesepian setiap harinya
Hidup kaya raya namun sebatang kara apa gunanya?
Dapat bapak lihat setiap hari senyuman jarang terukir di bibir nak Will
Bapak juga sering mendengar tuan Will mengigau memanggil orang tua nak Will
Tapi jika yang namanya takdir sudah berkehendak, kita sebagai manusia bisa apa nak Will?
Bapak juga tahu kenapa nak Will nekad membunuh ayah tiri nak Will sewaktu kecil
Nak Will, lupakan masa lalu dan lanjutkan hidup
Nak Will tidak akan bisa hidup tenang jika terus memikirkan masa lalu
Semua orang pasti punya masa lalu yang buruk
Bapak juga demikian
Pesan bapak untuk kamu
Lanjutkan hidup
Jangan menyerah dan percaya dirilah nak
Jangan dengarkan cemooh orang
Biarkan orang lain mengatai nak Will monster
Bagi bapak dan nak Daren
Nak Will sangat baik seperti malaikat tak bersayap
Anda selalu mendanai banyak panti asuhan tanpa sepengetahuan publik
Yang publik tahu hanyalah nak Will itu orang yang bengis dan juga kejam
Serta menikahlah agar nak Will punya orang yang mengurus nak Will di masa depan
__ADS_1
Memangnya nak Will tidak mau punya anak-anak yang lucu dan menggemaskan?
Memangnya nak Will tidak iri dengan teman-teman nak Will nantinya mereka sudah berkeluarga dan punya anak?
Menikahlah nak
Hanya itu yang bapak inginkan*
William merasa matanya mulai berkaca-kaca membaca lembaran-lembaran terakhir buku itu
Tak sanggup lagi membacanya semua curahan hati Dave, William menutup buku itu
Ia menopang wajahnya ke sisi kursinya menyembunyikan kedua matanya yang mengeluarkan air mata
Sekejap kemudian terdengar isakan pelan dari William yang terdengar jelas Alisha di depannya
"Mungkin bagi dunia anda adalah monster tapi bagi saya, pak Dave, tuan Daren, dan tuan Kelvin anda adalah malaikat tuan William" ucap Alisha lembut
William yang tak kuasa menahan tangisnya langsung membenamkan kepalanya di kedua tangannya yang terlipat di ujung meja kerjanya
"Hiks...hiks.... hiks...." isakan tangis William membuat Alisha menjadi iba padanya
Alisha meraih sarung tangan di saku bajunya kemudian memakainya
"Tuan" Alisa memegang bahu William yang bergetar akibat ia menangis
"Tanpa Anda sadari banyak di sekeliling anda yang menyayangi anda, jadi jangan merasa sendiri lagi atau merasa kesepian" ucap Alisha lemah lembut
Dengan perlahan, William mengangkat kepalanya dan mengusap air mata di kedua pipinya
"Lalu apa yang harus ku lakukan sekarang?" tanya William menatap sendu wajah Alisha
Alisha terdiam sejenak menatap mata William yang memerah
"Tuan terapi ya?" pinta Alisha dengan suara selembut mungkin
Kini William yang diam mendengar permintaan Alisha
"Tapi..... apa aku bisa sembuh?" lirih William
"Insyaallah tuan, tuan kan hanya mengidap lumpuh kaki yang bersifat sementara, pasti anda akan sembuh dengan catatan anda harus terapi dengan rutin agar kaki anda tidak lumpuh lagi" ucap Alisha meyakinkan
William terdiam memikirkan perkataan Alisha tadi
"Jika tuan keberatan dengan psikiater nya, kita bisa kok hanya memakai dokter yang ahli dalam bidang ini" ucap Alisha lagi
William menatap wajah Alisha dengan intens dan dalam
"Mau ya tuan?" bujuk Alisha selembut mungkin
Bak dihipnotis dengan suara lembutnya Alisha, William mengangguk samar
"Alhamdulillah akhirnya tuan menyetujui nya, baiklah saya akan menghubungi tuan Kelvin sekarang!" ucap Alisha dan hendak pergi
Sontak William memegang pergelangan tangan Alisha yang terbalut kan lengan baju gamisnya
"Ada apa tuan?"
"Bisakah kau menemani ku sebentar lagi?" pinta William dengan nada memelas
Alisha tersenyum tipis kemudian mengambil piring yang sudah kosong di depan William
"Tuan, di dapur Rainbow Cake nya masih ada, mau tidak saya bawakan lagi untuk tuan?" tawar Alisha
"Boleh, tapi kau juga harus makan ya" jawab William mengangguk pelan
"Ok, ditunggu ya" ucap Alisha kemudian pergi membawa piring tadi
'Dia persis seperti Dave, dia mengerti dengan keadaan ku dan perasaan ku' gumam William memikirkan Alisha
__ADS_1
Pagi harinya
Setelah menyiapkan sarapan, Alisha langsung berjalan ke arah telepon rumah dan buku telepon
"Aku akan memberitahu tuan Kelvin kalau tuan William sudah setuju untuk berobat dan terapi" gumamnya seraya membuka buku telepon
Baru saja berucap demikian terdengar suara mobil yang baru datang
Refleks Alisha menaruh kembali buku itu dan menghampiri pintu kastil
"Eh tuan Kelvin?" sapa Alisha ketika melihat Kelvin keluar dari mobilnya
Serta seorang pria memakai jas putih seperti dokter keluar dari pintu lainnya
"Nona, terimakasih sudah membujuk tuan William untuk terapi, saya yakin sebelumnya anda pasti bisa membujuk tuan" ucap Kelvin
"Darimana kau tahu?"
"Tadi malam tuan William menyuruh saya datang pagi ini bersama dengan seorang dokter yang ahli dalam mengobatinya"
"Oh jadi tuan William sudah memberitahu mu? baguslah, ayo silahkan masuk, tuan masih ada di kamarnya" ucap Alisha membuka lebar pintu kastil
Kelvin langsung menaiki tangga menuju kamarnya William sedangkan dokter menunggu mereka di ruang tamu
Dan Alisha pun pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman untuk tamu William
"Silahkan diminum pak dokter" ucap Alisha ramah seraya menaruh secangkir kopi di meja
Sang dokter pun tersenyum lebar menanggapi Alisha
Alisha lalu menaiki tangga menuju kamarnya William dan membuka lemari pakaiannya
Dengan cekatan ia memilihkan baju untuk William yang berada di kamar mandi bersama sang sekretaris nya
__ADS_1
Setelah menaruh pakaian untuk William di atas ranjang, Alisha langsung keluar