
Setelah bersusah payah melepas pakaiannya terutama celananya dalam posisi duduk di kursi roda, akhirnya William telah melepas semua pakaian di tubuhnya menyisakan hotpants nya
Ia mendorong kursi rodanya tepat di bawah shower air
"Bagaimana cara aku meraih kran shower nya?" gumamnya bingung
"Ternyata mandi dengan kondisi seperti ini sangat sulit" gumamnya pula
Setelah bersusah payah menggapai kran shower akhirnya ia bisa mendapatkan guyuran air shower dengan lega
Beberapa menit kemudian, William keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk kimono nya
Kelvin yang sudah ada di dalam kamar William langsung membantu William mendorong kursi rodanya
"Mulai malam ini kau akan menjadi pengasuh pribadi ku juga, gaji mu ku naikkan 5 kali lipat!" ucap William membuka lemari bajunya
Kelvin mengangguk paham dan membantu William memilih pakaiannya
Setelah memilih pakaian untuk William, Kelvin membantu William memakainya baju
"Kau kembali lah ke kantor, datang langsung ke sini setiap kali aku memanggil mu!" ucap dingin William
"Baik tuan, saya permisi dulu" jawab Kelvin dan meninggalkan William yang tengah duduk di depan cermin rias
Sepeninggalan Kelvin, William mendorong kursi rodanya ke arah balkon kamarnya lagi dan merenung mengingat perkataan Dave beberapa bulan lalu
"Benar kata pak Dave, sampai kapan aku akan selalu sendiri, apalagi di saat aku seperti ini seharusnya istri ku lah yang merawat ku bukan Kelvin atau Daren yang mengurus ku, aku tidak bisa terus-terusan merepotkan mereka" gumamnya
"Tapi..... siapa yang mau dengan monster seperti ku? apalagi kondisi ku yang lumpuh begini" gumamnya dengan suara parau
Tiba-tiba ia mengacak rambutnya karena frustasi kemudian mendorong kursi rodanya keluar kamar menuju ruang kerjanya
Saat ia hendak melewati tangga, matanya melihat ruang tamu serta ruang makan dari atas
"Aku tidak akan bisa ke sana lagi menggunakan kaki ku sendiri lagi, bahkan rasanya tidak mungkin aku berjalan melewati tangga dengan kaki lumpuh ku ini" gumamnya kemudian masuk ke ruang baca
Braakkk
Pintu ia banting kasar demi meluapkan emosi dan kekesalannya terhadap dirinya sendiri
Alisha yang tengah menyapu di halaman terkejut mendengar suara bantingan dari dalam
Ia pun segera menghampiri suara tersebut di lantai atas
"Sepertinya dari sini" gumamnya melihat pintu ruang baca William tertutup
Toktoktok
"Tuan, anda di dalam?" tanya Alisha mengetuk pintu
Tak ada jawaban ataupun respon dari dalam
Alisha pun memberanikan diri memutar handle pintu dan perlahan membukanya
Terlihat William tengah fokus di depan laptopnya dengan kacamata bacanya terpasang di matanya
Alisha menghela nafasnya dan tersenyum tipis dan hendak menutup kembali pintu itu
"Ambilkan aku teh!" ucap William menatapnya sekilas dengan suara bariton khasnya
Alisha sedikit tercekat mendengar suara William yang tak biasa di dengarnya
Ia memasang senyuman tipis dan pergi dari sana setelah menutup pintu
Sedangkan William kembali fokus pada laptopnya, sebenarnya ia mendengar suara ketukan di pintu namun mulutnya merasa malas untuk menjawabnya
Tak berapa lama kemudian, Alisha kembali masuk dengan membawa secangkir teh hangat
"Ini teh hangatnya tuan" ucap Alisha namun diabaikan oleh William
Alisha menaruhnya persis di samping file-file yang menumpuk di atas meja William
"Tuan" ucap Alisha sembari menaruh sebuah lonceng di depan William
William menatap benda yang diberikan Alisha padanya kemudian beralih menatapnya
"Apa ini?" tanyanya
__ADS_1
"Tuan, jika anda membutuhkan sesuatu, anda bisa membunyikan lonceng itu dan saya akan segera datang" ucap Alisha lembut
William pun kembali fokus bekerja mendengar jawaban Alisha
Alisha kembali tersenyum setelah diacuhkan tuan pertamanya itu
"Saya permisi dulu tuan" ucap Alisha sedikit menunduk hormat kemudian pergi
William melirik kepergian Alisha dari ruangannya dan fokus bekerja
Alisha yang tengah mencuci sayuran di dapur untuk menyiapkan makan malam melirik sekali ke arah meja dimana sepasang sarung tangannya berada di sana
Ia sudah menyiapkan sarung tangannya itu untuk berjaga-jaga jika harus terpaksa menyentuh William nantinya
Ting....Ting.....Ting......
Alisha menyambar sepasang sarung tangannya kemudian memakainya dengan cepat sembari berjalan ke arah ruang baca
"Ya, ada apa tuan?" tanya Alisha sedikit panik karena baru kali ini ia dipanggil William
"Kkkkaki ku kram" lirih William menahan rasa sakit di kaki kanannya
Alisha langsung menghampiri William dan dapat melihat jelas bagaimana raut wajah William meringis kesakitan dengan meremas lutut kanannya
Sedangkan William yang melihat Alisha pergi hanya bisa meringis kesakitan di kakinya
Tak lama kemudian, Alisha datang dengan membaca balsem dan langsung duduk bersimpuh di hadapan William
"Tuan, maaf sebelumnya jika tidak sopan" ucap Alisha menutup matanya dan menaikkan celana longgar William sebatas paha
William yang merasa kesakitan hanya mengangguk pelan membiarkan Alisha menaikkan celananya sebatas paha
Dengan lihainya, Alisha memijat kaki kanannya William menggunakan balsem dengan mata tertutup serta tangannya yang terbalut kan sarung tangan
'Lihai sekali dia memijat ku dengan mata tertutup seperti itu' gumam William yang merasakan sakit di kakinya perlahan-lahan berkurang akibat pijatan lembut Alisha
"Bagaimana tuan? apa sudah baikan?" tanya Alisha yang masih menutup mata
"Kaki ku sudah tidak kram lagi, hanya masih sedikit sakit" jawab William merasakan kram di kaki kanannya sudah hilang
"Kalau sudah tidak sakit lagi bilang ya tuan" ucap Alisha tersenyum manis dengan mata tertutup
__ADS_1
William menarik sudut bibirnya membentuk lengkungan ketika melihat Alisha bersikap manis padanya
Jujur William sangat menikmati pijatan demi pijatan di kaki kanannya oleh Alisha yang tampak telaten sekali
"Kau belajar memijat di mana?" tanya William membuka percakapan setelah agak lama mereka saling berdiam
"Saya belajar dari ibu panti tuan" jawab Alisha ramah masih menutup matanya
William hanya membulatkan mulutnya berbentuk huruf O mendengar jawaban Alisha
Kini kram dan rasa sakit di kaki kanannya sudah tidak ada lagi berkat pijatan Alisha
"Sudah membaik kaki ku" ucap William
Alisha pun menurunkan celana William dan bangkit berdiri sembari membuka matanya
"Ternyata merepotkan sekali ya wanita seperti mu, hanya untuk membantu pria lain saja harus menutup mata dan tidak boleh bersentuhan" ujar William dengan nada menyindir
Alisha tersenyum lebar menanggapi sindiran sang tuannya itu
"Ya, karena wanita seperti saya ini hanya di khususkan untuk yang sudah di halalkan, suami saya contohnya" jawab Alisha tersenyum lebar
William sontak menatapnya dengan terkejut
"Kau tidak tersinggung aku menyindir mu?"
Alisha menggelengkan kepalanya
"Kenapa saya harus tersinggung, yang anda katakan tadi benar kok tuan, memang agak merepotkan, tapi itulah saya, dan lagipula saya juga sudah berjanji pada tuan Daren akan menjaga tuan sebisa dan semampu saya" jawab Alisha tersenyum manis
William meneduhkan pandangannya menatap wajah Alisha
"Kenapa kau begitu baik padaku? padahal aku selalu saja bersikap dingin pada mu dan tadi pagi aku membentak mu, apa kau tidak marah?"
Alisha sedikit terenyuh melihat tuan pertamanya itu bersikap teduh padanya untuk pertama kalinya
Kemudian ia duduk kembali di lantai berhadapan William yang duduk di kursi rodanya
__ADS_1
"Karena tuan telah menolong saya" jawab Alisha tulus menengadah menatap wajah William di atasnya