Perjalanan Cinta Alisha

Perjalanan Cinta Alisha
Episode 37


__ADS_3

"Ada apa tuan?" tanya Alisha sesaat setelah dokter keluar


"Tadi saat berenang kakiku terasa kram, bisakah kau pijatkan?"


Alisha mengangguk kemudian mengambil sarung tangan di saku bajunya dan memakainya


Kemudian ia mengambil balsem dan duduk di sisi ranjangnya William


"Dua-duanya ya tuan?"


"Hmm"


Alisha menutup kedua matanya dan menyingkap selimut William kemudian mengeluarkan kedua kakinya


Ia memijat kedua kaki William dengan telaten serta memberikan pijatan hangat dan lembut di kakinya


Alisha yang menutup matanya tak sadar jika William terus memandangnya dengan tatapan aneh


Apalagi pijatan pijatan lembut yang diberikan Alisha sungguh sangat nyaman bagi William


Ia menyandarkan kepalanya ke belakang sisi ranjang sambil terus memandang pengurus kastil nya itu


"Lama-lama kau jadi seperti istriku saja" William berkata tak sadar


Sontak Alisha yang menutup matanya terkejut bukan main mendengar majikannya berbicara seperti itu


William yang tersadar akan ucapannya tadi langsung menjadi salah tingkah dan mengalihkan pandangannya


Sedangkan Alisha hanya tersenyum kikuk menanggapi perkataan William


Setelah agak lama memijat kaki William, Alisha menghentikan gerakan-gerakan tangannya


"Tuan?" panggilnya dalam keadaan mata tertutup


"Tuan??" masih tak ada jawaban dari William


Alisha menghela nafasnya kemudian memasukkan kembali kaki William ke dalam selimut


Ia perlahan membuka matanya kembali dan melihat William tengah tertidur di posisinya yang duduk bersandar di sisi ranjangnya


"Tidur rupanya" gumamnya pelan seraya bangkit berdiri


Alisha jalan mengendap-endap agar yang punya kamar tidak terbangun olehnya


Ia pun segera keluar dari sana dan menutup kembali pintu kamarnya


"Eh, pak dokter?" mata Alisha langsung menangkap sosok dokter yang tengah duduk di sofa tamu ketika ia sedang melewati ruang tamu


Dokter itu bangkit berdiri dan dihampiri Alisha


"Kenapa anda belum pulang?" tanya Alisha


"Saya sedang menunggu anda keluar dari kamar tuan William nona, ada yang ingin saya bicarakan"


"Oh begitu, jika aku tahu tadi aku tidak akan berlama-lama di dalam sana, ayo duduk" Alisha mempersilahkan dokter itu kembali duduk


Kemudian ia duduk persis di depan dokter itu


"Apa yang ingin anda katakan?" tanya Alisha to the point


"Apa nona melakukan yang saya usulkan waktu itu?"


"Ya, setiap harinya saya menyiapkan air hangat untuk tuan William mandi dan juga memijat kedua kakinya" jawab Alisha mengangguk kecil


"Baguslah kalau begitu, untuk sesi terapi kali ini berjalan cukup baik, hanya saja tadi ada sedikit kendala, tuan William mengalami kram di kaki kanannya sehingga membuat dia hampir tenggelam tadi, tapi untung tuan Kelvin langsung menolongnya"


"Ya, saya sudah dengar tadi dari tuan William, oleh karena itu saya tadi memijatnya"


"Lalu, apa yang ingin anda katakan sebenarnya dok?" tanya Alisha


"Saya hanya ingin memberitahu jika sesi terapi untuk dua hari mendatang mungkin akan membuat tuan William lebih merasakan nyeri di kakinya yang lumpuh"


"Apa sesakit itu dokter? apa tidak ada cara terapi lain?" tanya Alisha sedikit khawatir


"Anda tenang saja nona, tuan William hanya mengalami Hemiplegia Sementara, ia tidak lumpuh total atau permanen, oleh sebab itu saya merekomendasikan fisioterapi dan obat-obatan terlebih dahulu untuknya, dan wajar jika pasien fisioterapi merasakan nyeri saat terapi" jawab sang dokter


"Baiklah dokter, lakukan apa yang menurut anda terbaik untuk tuan William, saya ingin dia segera sembuh dari penyakitnya" ujar Alisha mengangguk paham


"Baiklah nona, kalau begitu saya permisi dulu" sang dokter bangkir sendiri


Alisha mengangguk kemudian mengantar dokter itu keluar kastil




Malam harinya.....



Daren yang sedang bersantai di balkon kamarnya seraya terus meneguk minuman haram itu sesekali melirik ke arah ponselnya yang berada di sampingnya

__ADS_1



Sudah jadi kebiasaannya jika malam hari ia selalu meminum minuman haram itu apalagi jika sedang stress



Drrttttt..... drrrtt....



Daren menerima panggilan telfonnya dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya



"Hmm?" tanyanya



"Tuan, saya sudah menemukan wanita yang anda inginkan, sebentar lagi dia akan datang ke apartemen"



Tanpa aba-aba ataupun berbicara Daren langsung menutup panggilan telfonnya dan meneguk minuman keras itu sampai tandas langsung dari botol hijaunya



"Sungguh aku tidak kuat lagi menahan rasa cinta ini Alisha, tidak kuat! aku akan lebih memilih membunuh orang daripada harus menghadapi rasa sakit ini!!" gumamnya sendiri mengacak-acak rambutnya



Ia kembali mengambil ponselnya dan menelfon seseorang



Ttuuttt.....ttutttt


Tanda panggilan terhubung tetapi belum diangkat



Daren semakin frustasi dibuat oleh yang ia telfon tak mengangkat telfonnya



"Halo?"




"Hai, apa kabar?" tanya Daren langsung



"Hahhaha jangan bertanya kabarku, aku kan sudah bilang kemarin aku baik-baik saja"



Daren kembali terdiam, sungguh ia tidak punya topik untuk dibicarakan dengan wanita yang sudah mencuri hatinya selama bertahun-tahun itu



"Daren? kau kenapa selalu diam? apa kau ada masalah?"



"Ya" lirih pelan Daren seraya duduk kembali



"Masalah? katakan padaku apa masalahmu? mungkin aku bisa memberi saran"



Daren menyelonjorkan kedua kakinya dan menyandarkan kepalanya ke belakang sofa bed nya



'Kau Alisha, masalah ku adalah kau' batin Daren terasa tersiksa menutup kedua matanya



"Daren? katakanlah"



Daren membuka matanya dan mengerjapkan nya beberapa kali saat matanya berkaca-kaca



"Aku.... aku mencintainya, sahabat masa kecilku" ujarnya pelan, sangat pelan

__ADS_1



"Ya, aku sudah tahu, lalu apa masalahnya?"



"Tapi.... dia sama sekali tidak tahu bagaimana perasaan ku padanya" ujar Daren dengan nada sendu



"Daren, jika kau tidak mengatakan perasaan mu padanya lalu bagaimana dia bisa tahu isi hati mu hmm"



Daren tersenyum tipis menanggapi perkataan Alisha di sebrang sana dengan suara lembut khasnya



"Tapi... aku takut" ucapnya



"Takut kenapa?"



"Ditolak" jawab Daren singkat



Alisha terdiam di sebrang sana dan terdengar suaranya yang tertawa kecil



"Kenapa kau tertawa?" tanya Daren



"Karena kau aneh Daren, kau mencintai nya bukan?"



"Ya, aku mencintainya, sangat mencintainya bahkan mungkin lebih daripada hidupku sendiri"



"Kalau begitu katakanlah padanya, aku kan pernah bilang padamu, jika kau berani mencintai maka kau harus berani juga untuk patah hati jika dia menolak mu, ingat Daren, jika kalian berjodoh maka kalian akan bersama pada akhirnya tapi jika kalian tidak berjodoh sampai kapanpun kalian tidak akan bisa bersama, oleh karena itu katakanlah perasaan mu padanya, setidaknya setelah kau mengatakan perasaan mu padanya hatimu bisa sedikit tenang kan? kau pasti merasa tersiksa saat ini"



Daren hanya tersenyum tipis menanggapi semua perkataan Alisha panjang lebar di telfon



"Aku masih merasa takut Alisha, maukah kau membantuku?" ucapnya



"Tentu saja, apa yang bisa ku bantu?"



"Aku ingin latihan mengungkapkan perasaan ku padanya, bisakah kau berpura-pura menjadi dirinya dan menjawab pertanyaan ku nanti dari lubuk hati mu sebagai dirinya?" pinta Daren berjalan ke arah lukisannya



"Baiklah"



Daren tersenyum lebar dan menyentuh lukisan Alisha



"Aku mencintaimu" ucapnya dengan mata berkaca-kaca



"Aku juga mencintaimu Daren"



Tak kuat lagi menahan tangisnya Daren langsung mematikan telfonnya



Tiba-tiba ia ambruk ke lantai dengan menutup sebelah wajahnya dengan telapak tangan kanannya



"Hikh....hiks.... sungguh sakit rasanya harus seperti ini, kenapa bibir ku terasa kelu untuk mengatakan padamu Alisha, kenapa?!!" serunya dengan tangisan terisak menggema ke seluruh ruangan

__ADS_1


__ADS_2