Perjalanan Cinta Alisha

Perjalanan Cinta Alisha
Episode 64


__ADS_3

Alisha menghela nafasnya kemudian menarik kedua tangannya dari genggaman tangan William


Ia menutup kembali kedua kaki William dengan celana yang ia singkap tadi


Kemudian ia membuka kedua matanya dan menggenggam erat kedua tangan William dengan kedua tangan nya yang terbungkus sarung tangan


"William, suatu saat nanti kau akan menikah dengan orang yang kau cintai serta memiliki anak, begitu juga dengan Daren nantinya, lalu bagaimana aku bisa terus tetap di sini?" Alisha tersenyum tipis dengan nada lembut menjelaskan pada William


"Kalau begitu nanti aku suruh calon istriku dan anakku nantinya menerima keberadaan mu di sini sebagai teman ku, selesai kan masalah?" ucap William


Alisha merasa tersentuh dengan ucapan William


Ia mencoba tegar dan tersenyum penuh arti


"Lalu bagaimana jika mereka menolak keberadaan ku di rumah ini?"


Ucapan Alisha tadi sukses membuat William terdiam sejenak


"Kalau begitu aku akan menceraikannya! aku tetap tidak akan membiarkan mu pergi walaupun harus menceraikan calon istri ku nantinya" jawab William


Alisha terdiam sejenak menatap raut wajah William yang jelas tersirat kesungguhan dalam semua ucapannya


'Aku tidak boleh menyakiti hati William' batinnya


Ia semakin menggenggam erat kedua tangan William dan menatapnya dalam


"William, ketahuilah bahwa seorang istri tidak akan pernah merasa nyaman jika melihat ada perempuan lain di rumah tangga nya apalagi jika sampai dekat dengan suaminya" ucap Alisha selembut mungkin


Kali ini William sangat tersentuh dengan ucapan lembut Alisha


Ingin sekali ia memeluk erat temannya itu namun dirinya tersadar Alisha akan menjadi marah jika ia memeluk nya


"Jika kau pergi aku akan kesepian lagi Isha" ucap William dengan suara benar-benar parau, seperti putus asa


Alisha sampai merasa tidak tega melihat temannya menjadi seperti itu


"Boleh kan aku memanggil mu Isha? sama seperti Daren" ucapnya pula


"Siapa yang bilang aku akan meninggalkan mu? kan aku hanya bilang meninggalkan kastil ini, bukan dari kehidupan mu" ucap Alisha mencoba menyembunyikan rasa sesak di hatinya dengan senyuman lebar di bibirnya yang manis


"Benarkah? kau janji tidak akan memutuskan pertemanan kita?" kali ini raut wajah William terlihat lebih bersemangat


Alisha tersenyum tipis dan mengangguk pelan


"Aku hanya akan meninggalkan mu saat kau sudah sembuh nanti dan juga sudah menikah William" ucap Alisha melepas genggaman tangannya dari tangan William


William menatap kedua mata Alisha dengan dalam


"Alisha, apa kau tahu? kau adalah wanita yang paling unik dan berbeda yang belum pernah aku temui sebelumnya dari wanita manapun, kau baik, ramah, lembut, sopan, dan taat agama, sungguh sudah sangat langka wanita seperti mu di dunia ini"


"Jika kita nantinya berjodoh aku mungkin akan menjadi pria paling bahagia di dunia ini bisa memiliki istri seperti mu" William menatap wajah Alisha dengan dalam dan intens


Alisha langsung mengacak rambut William sampai berantakan


Kemudian ia tertawa kecil


"Kau ini sepertinya ketularan virus gombal Daren, sekarang sudah bisa gombal rupanya" ucapnya


"Aku tidak sedang menggombal Isha, aku sungguh-sungguh" ujar William serius

__ADS_1


Seketika tawaan di bibir Alisha lenyap begitu saja


"Jika umurku panjang mungkin yang kau katakan benar" gumamnya pelan tanpa sadar


"Apa?" William menautkan kedua alisnya mendengar samar ucapan Alisha


"Ah tidak apa-apa, ini sudah malam sebaiknya kau tidur sekarang" Alisha bangkit berdiri dan menarik selimut kemudian menyelimuti setengah badan William


William hanya diam membiarkan dirinya diselimuti Alisha


"Selamat malam" Alisha tersenyum manis kemudian keluar kamar William


Ceklek....


Ia menutup pelan pintu kamar William dari luar


William membaringkan tubuhnya ke atas ranjang dan menatap langit-langit kamarnya


"Apa....aku sudah jatuh cinta pada Alisha?" gumamnya pelan


"Kenapa aku sendiri tidak tahu perasaanku sendiri?" gumamnya frustasi


"Kalaupun iya kami juga tidak akan bisa menikah" gumamnya pula


Tapi sedetik kemudian ia tersenyum tipis dan mengingat sesuatu


"Tapi... setidaknya aku sudah merasa sangat nyaman dan damai di dekatnya sebagai seorang teman, itu tidak masalah bagiku" gumamnya pula


William mengambil bantal guling di sampingnya dan memeluk erat


"Tapi semoga saja pada akhirnya dia yang menjadi istriku, aku akan sangat bahagia jika bantal guling yang selalu ku peluk tiap malam berubah menjadi dirinya" gumamnya tersenyum lebar


Ceklek....


Alisha membuka pintu kamarnya kemudian menutupnya kembali


Ia berjalan di ruangan yang temaram itu yang hanya diterangi cahaya bulan yang menembus kaca jendela kamarnya


Serta kain gorden putih yang berterbangan terkena hembusan angin malam membuat kamarnya menjadi lebih sunyi dan damai


Alisha mengambil sebuah buku lusuh dari laci mejanya


Kemudian ia menarik kursi dan duduk tepat menghadap jendela kamarnya


Alisha menutup kedua matanya merasakan udara angin malam menghembus menerpa wajah dan dirinya


Ia meringkuk di atas kursi dengan buku di pangkuannya dan juga sebuah pensil


Tess.....


Alisha membiarkan setitik air matanya jatuh tepat di atas cover bukunya


Ia menatap kosong melihat rembulan malam bersinar menyinari seluruh bumi dan juga ruangannya yang menjadi temaram


Alisha kembali menghela nafasnya dengan berat, sangat berat, seperti terdengar sangat putus asa


"Will, seandainya saja Allah memberiku panjang umur sampai tua mungkin aku akan menerima diri mu dan juga aku sendiri yang akan mengubah diri mu dan kembali ke jalan Allah" Alisha terus saja menatap bulan di luar jendelanya


Tess.....

__ADS_1


Setetes air matanya kembali jatuh ke cover bukunya


Ia menyeka air matanya dan membuka halaman tengah buku itu


Sudah setengah dari buku itu ia isi semua curhatannya tentang segala kehidupannya


Alisha kembali menulis curhatan di bukunya itu


*Apa kau tahu kapan terakhir kali aku menangis?


2 tahun lalu saat sahabat ku di panti meninggalkan aku untuk selamanya


Dia berpesan padaku untuk jangan pernah mengeluh pada takdir


Apalagi jika sampai menangis


Aku pun berjanji padanya dan juga pada diriku sendiri


Aku tidak akan pernah membiarkan air mata ku mengalir setelah kematiannya


Sejauh ini aku sudah menepati janjiku padanya


Tapi kenapa....


Sekarang air mata ku mengalir lagi??


Aku sudah sangat menahan air mata ini untuk tidak keluar


Tapi saat majikan ku sekaligus teman baruku mengatakan sesuatu yang sangat menyentuh hati ini


Pertahanan hati ini roboh begitu saja hingga membuat aku mengingkari janji ku pada sahabatku untuk tidak menangis lagi


Sungguh...


Jika saja aku diberikan umur panjang dari Allah mungkin aku akan terima pinangan nya


Tapi takdir dan ketentuan Allah siapa yang bisa merubah?


Kita hanyalah manusia biasa yang sama sekali tidak ada apa-apa nya dibanding Dia


Andai saja...


Aku ikut denganmu wahai Sahabatku


Mungkin aku tidak akan melihat ataupun merasakan penderitaan ini lagi


Terkadang aku merasa Allah sangat tidak adil padaku


Dia merebut mu dariku tanpa meminta ijin ku


Kemudian ia merebut kebahagiaan ku


Juga kesehatan ku


Pernah aku bertanya pada-Nya


Kenapa dia melakukan ini padaku?


Tapi sampai sekarang aku tidak mendapat jawaban apapun dari nya

__ADS_1


Aku pun memutuskan untuk mengikuti alur kehidupan ku yang akan kujalani semestinya*


__ADS_2