
Alisha menghela nafasnya kemudian menarik kedua tangannya dari genggaman tangan William
Ia menutup kembali kedua kaki William dengan celana yang ia singkap tadi
Kemudian ia membuka kedua matanya dan menggenggam erat kedua tangan William dengan kedua tangan nya yang terbungkus sarung tangan
"William, suatu saat nanti kau akan menikah dengan orang yang kau cintai serta memiliki anak, begitu juga dengan Daren nantinya, lalu bagaimana aku bisa terus tetap di sini?" Alisha tersenyum tipis dengan nada lembut menjelaskan pada William
"Kalau begitu nanti aku suruh calon istriku dan anakku nantinya menerima keberadaan mu di sini sebagai teman ku, selesai kan masalah?" ucap William
Alisha merasa tersentuh dengan ucapan William
Ia mencoba tegar dan tersenyum penuh arti
"Lalu bagaimana jika mereka menolak keberadaan ku di rumah ini?"
Ucapan Alisha tadi sukses membuat William terdiam sejenak
"Kalau begitu aku akan menceraikannya! aku tetap tidak akan membiarkan mu pergi walaupun harus menceraikan calon istri ku nantinya" jawab William
Alisha terdiam sejenak menatap raut wajah William yang jelas tersirat kesungguhan dalam semua ucapannya
'Aku tidak boleh menyakiti hati William' batinnya
Ia semakin menggenggam erat kedua tangan William dan menatapnya dalam
"William, ketahuilah bahwa seorang istri tidak akan pernah merasa nyaman jika melihat ada perempuan lain di rumah tangga nya apalagi jika sampai dekat dengan suaminya" ucap Alisha selembut mungkin
Kali ini William sangat tersentuh dengan ucapan lembut Alisha
Ingin sekali ia memeluk erat temannya itu namun dirinya tersadar Alisha akan menjadi marah jika ia memeluk nya
"Jika kau pergi aku akan kesepian lagi Isha" ucap William dengan suara benar-benar parau, seperti putus asa
Alisha sampai merasa tidak tega melihat temannya menjadi seperti itu
"Boleh kan aku memanggil mu Isha? sama seperti Daren" ucapnya pula
"Siapa yang bilang aku akan meninggalkan mu? kan aku hanya bilang meninggalkan kastil ini, bukan dari kehidupan mu" ucap Alisha mencoba menyembunyikan rasa sesak di hatinya dengan senyuman lebar di bibirnya yang manis
"Benarkah? kau janji tidak akan memutuskan pertemanan kita?" kali ini raut wajah William terlihat lebih bersemangat
Alisha tersenyum tipis dan mengangguk pelan
"Aku hanya akan meninggalkan mu saat kau sudah sembuh nanti dan juga sudah menikah William" ucap Alisha melepas genggaman tangannya dari tangan William
William menatap kedua mata Alisha dengan dalam
"Alisha, apa kau tahu? kau adalah wanita yang paling unik dan berbeda yang belum pernah aku temui sebelumnya dari wanita manapun, kau baik, ramah, lembut, sopan, dan taat agama, sungguh sudah sangat langka wanita seperti mu di dunia ini"
"Jika kita nantinya berjodoh aku mungkin akan menjadi pria paling bahagia di dunia ini bisa memiliki istri seperti mu" William menatap wajah Alisha dengan dalam dan intens
Alisha langsung mengacak rambut William sampai berantakan
Kemudian ia tertawa kecil
"Kau ini sepertinya ketularan virus gombal Daren, sekarang sudah bisa gombal rupanya" ucapnya
"Aku tidak sedang menggombal Isha, aku sungguh-sungguh" ujar William serius
__ADS_1
Seketika tawaan di bibir Alisha lenyap begitu saja
"Jika umurku panjang mungkin yang kau katakan benar" gumamnya pelan tanpa sadar
"Apa?" William menautkan kedua alisnya mendengar samar ucapan Alisha
"Ah tidak apa-apa, ini sudah malam sebaiknya kau tidur sekarang" Alisha bangkit berdiri dan menarik selimut kemudian menyelimuti setengah badan William
William hanya diam membiarkan dirinya diselimuti Alisha
"Selamat malam" Alisha tersenyum manis kemudian keluar kamar William
Ceklek....
Ia menutup pelan pintu kamar William dari luar
William membaringkan tubuhnya ke atas ranjang dan menatap langit-langit kamarnya
"Apa....aku sudah jatuh cinta pada Alisha?" gumamnya pelan
"Kenapa aku sendiri tidak tahu perasaanku sendiri?" gumamnya frustasi
"Kalaupun iya kami juga tidak akan bisa menikah" gumamnya pula
Tapi sedetik kemudian ia tersenyum tipis dan mengingat sesuatu
"Tapi... setidaknya aku sudah merasa sangat nyaman dan damai di dekatnya sebagai seorang teman, itu tidak masalah bagiku" gumamnya pula
William mengambil bantal guling di sampingnya dan memeluk erat
"Tapi semoga saja pada akhirnya dia yang menjadi istriku, aku akan sangat bahagia jika bantal guling yang selalu ku peluk tiap malam berubah menjadi dirinya" gumamnya tersenyum lebar
Ceklek....
Alisha membuka pintu kamarnya kemudian menutupnya kembali
Ia berjalan di ruangan yang temaram itu yang hanya diterangi cahaya bulan yang menembus kaca jendela kamarnya
Serta kain gorden putih yang berterbangan terkena hembusan angin malam membuat kamarnya menjadi lebih sunyi dan damai
Alisha mengambil sebuah buku lusuh dari laci mejanya
Kemudian ia menarik kursi dan duduk tepat menghadap jendela kamarnya
Alisha menutup kedua matanya merasakan udara angin malam menghembus menerpa wajah dan dirinya
Ia meringkuk di atas kursi dengan buku di pangkuannya dan juga sebuah pensil
Tess.....
Alisha membiarkan setitik air matanya jatuh tepat di atas cover bukunya
Ia menatap kosong melihat rembulan malam bersinar menyinari seluruh bumi dan juga ruangannya yang menjadi temaram
Alisha kembali menghela nafasnya dengan berat, sangat berat, seperti terdengar sangat putus asa
"Will, seandainya saja Allah memberiku panjang umur sampai tua mungkin aku akan menerima diri mu dan juga aku sendiri yang akan mengubah diri mu dan kembali ke jalan Allah" Alisha terus saja menatap bulan di luar jendelanya
Tess.....
__ADS_1
Setetes air matanya kembali jatuh ke cover bukunya
Ia menyeka air matanya dan membuka halaman tengah buku itu
Sudah setengah dari buku itu ia isi semua curhatannya tentang segala kehidupannya
Alisha kembali menulis curhatan di bukunya itu
*Apa kau tahu kapan terakhir kali aku menangis?
2 tahun lalu saat sahabat ku di panti meninggalkan aku untuk selamanya
Dia berpesan padaku untuk jangan pernah mengeluh pada takdir
Apalagi jika sampai menangis
Aku pun berjanji padanya dan juga pada diriku sendiri
Aku tidak akan pernah membiarkan air mata ku mengalir setelah kematiannya
Sejauh ini aku sudah menepati janjiku padanya
Tapi kenapa....
Sekarang air mata ku mengalir lagi??
Aku sudah sangat menahan air mata ini untuk tidak keluar
Tapi saat majikan ku sekaligus teman baruku mengatakan sesuatu yang sangat menyentuh hati ini
Pertahanan hati ini roboh begitu saja hingga membuat aku mengingkari janji ku pada sahabatku untuk tidak menangis lagi
Sungguh...
Jika saja aku diberikan umur panjang dari Allah mungkin aku akan terima pinangan nya
Tapi takdir dan ketentuan Allah siapa yang bisa merubah?
Kita hanyalah manusia biasa yang sama sekali tidak ada apa-apa nya dibanding Dia
Andai saja...
Aku ikut denganmu wahai Sahabatku
Mungkin aku tidak akan melihat ataupun merasakan penderitaan ini lagi
Terkadang aku merasa Allah sangat tidak adil padaku
Dia merebut mu dariku tanpa meminta ijin ku
Kemudian ia merebut kebahagiaan ku
Juga kesehatan ku
Pernah aku bertanya pada-Nya
Kenapa dia melakukan ini padaku?
Tapi sampai sekarang aku tidak mendapat jawaban apapun dari nya
__ADS_1
Aku pun memutuskan untuk mengikuti alur kehidupan ku yang akan kujalani semestinya*