
"Kenapa kau marah dengan Kelvin?" tanya Alisha
William langsung melempar sebuah dokumen bulanan berisi laporan keuangan ke hadapan Alisha
Alisha mengambilnya kemudian membacanya dengan teliti
"Jadi permasalahannya ini? dia hanya tidak sengaja menambah satu angka 0 Will" ucap Alisha
"Hanya kau bilang? gara-gara dia aku harus menanggung kerugian $1 juta Dollar karena kecerobohannya!!" seru William dengan sorot mata tajamnya
Alisha terdiam sejenak memandangi isi dokumen tersebut
Ia kembali menutupnya dan menaruhnya di atas meja
"William, Kelvin juga manusia, sama seperti kita, wajar jika dia membuat kesalahan, kau juga pasti pernah kan melakukan kesalahan yang lebih dari ini sebelumnya?" ucap Alisha tersenyum lembut
Kini giliran William yang terdiam, ia langsung teringat bagaimana cerobohnya dirinya dulu saat bekerja di salah satu perusahaan kecil hingga membuatnya harus di pecat
"William, kau puasa kan?"
"Ya jelaslah, kau lupa kah aku tadi malam makan sahur!" ketus William mengalihkan pandangannya
"Bagus kalau kau tidak lupa kalau kau sedang puasa, terus kenapa kau marah-marah hmm?"
"Apa hubungannya aku marah dengan puasa?" William terkekeh kecil melirik Alisha duduk di depannya
"Will, puasa itu bukan hanya tentang menahan lapar dan haus saja, tetapi juga harus mengontrol diri dan emosi selama berpuasa" Alisha tersenyum tipis menatap wajah garang temannya itu
William hanya diam menanggapi perkataan Alisha tadi yang terdengar menasehatinya
"Jika kau tidak bisa mengendalikan emosi mu saat berpuasa maka sia-sia saja kau berpuasa seharian tapi tak diterima oleh Allah dan akhirnya batal puasa mu"
William mendengus sebal dan melipat kedua tangannya di depan dadanya
"Jadi maksud mu aku harus diam kalau dia membuat kesalahan yang membuat ku rugi, begitu?!"
"Bukan begitu maksud ku Will, jangan marah dulu!" Alisha langsung bangkit berdiri dan menghampiri William
Ia duduk di lantai bersampingan dengan William dan memakai sarung tangannya
"Hadap aku!" Alisha menghadapkan kursi rodanya William menghadapnya
Ia memegang kedua tangan William dan menatap wajahnya
"William, aku bukan bermaksud mengatakan seperti itu hingga membuatmu tersinggung" ucap Alisha tersenyum tipis
"Ckk!" William memutar bola matanya dengan jengah dan memalingkan wajahnya tetapi ia membiarkan kedua tangannya dipegang oleh Alisha
"Iya aku tahu kau pasti sangat marah dengan kecerobohan Kelvin, tapi kan dia tidak sengaja, mungkin dia kecapekan kerja sampai dia tidak sengaja menambah satu angka 0 di laporan keuangan mu" ucap Alisha menduga
William hanya diam dengan muka masamnya itu, dalam pikirannya ia juga menebak hal itu
"Lagipula kan kau juga.... sangat kaya Will, Sang Penguasa Eropa, kau tidak mungkin akan mempermasalahkan uang sekecil itu, benar bukan?"
'Iya juga yah, kenapa aku bisa semarah itu hanya karena rugi kecil, sedangkan dulu saat aku rugi banyak aku tidak mempermasalahkan nya, entah kenapa sekarang aku merasa mudah marah?' batin William tersadar
'Mungkin dia sudah menyadari kesalahannya' batin Alisha melihat mimik wajah William yang berkerut seperti tengah berpikir
"Sebaiknya kau maafkan saja dia Will untuk kali ini, jika dia membuat kesalahan lagi kau bisa menegurnya tapi jangan memarahinya sampai seperti tadi yah" ucap Alisha menengadah menatap wajah William yang memalingkan wajahnya
"Hmm" hanya deheman
Alisha tersenyum tipis dan mengacak-acak rambutnya William
"Pria baik tidak boleh merajuk"
Deg....
'Astaga!! kenapa jantungku serasa ingin melompat melihatnya tersenyum seperti itu?!!' batin William dengan pipi merona
__ADS_1
"J-j-jangan mengacak rambutku?! rusak jadinya!" ketus William menangkis tangan Alisha
Alisha terkekeh kecil dan bangkit berdiri
"Ya sudah, aku pergi dulu yah" ucapnya hendak pergi
"Bawakan aku kopi panas, tak pakai lama!" ucap William menghentikan langkahnya Alisha
"Ternyata bukan Daren saja ya yang lupa kalau hari ini puasa"
'Oh astaga!!! kenapa aku bisa lupa?!! bikin malu saja!!' batin William tersadar
"Pergi sana!!" ketusnya mengalihkan pandangannya menyembunyikan rasa malunya
'Aneh' batin Alisha terkekeh kecil kemudian pergi dari sana
Daren menghela nafasnya menutup sebelah kupingnya mendengar suara Sam membacakan laporannya
"Diam! lama-lama kupingku terasa sakit kau mengoceh terus dari tadi!"
"Maaf tuan, tapi kan tuan sendiri yang meminta saya membacakan ini?" ujar Sam mencoba membela diri
"Oh iya aku lupa" Daren memijat pelipisnya dan menggelengkan kepalanya
Sam pun kembali membacakan laporannya pada Daren
'Lapar sekali perutku.... mana jam 6 masih lama lagi! jika aku tahu aku akan selapar ini aku akan makan banyak tadi sahur!!' batin Daren merasa tersiksa dengan rasa laparnya
Ia melirik jam weker di sudut mejanya yang menunjukkan pukul 11.20
"Ckk!! aku sudah tidak tahan lagi!!!"
Daren langsung bangkit berdiri dari kursinya dan keluar dari ruang kerjanya
"Eh tuan? anda mau kemana? saya belum selesai membacakan laporannya?!" Sam mengikutinya menuruni tangga
"Aku lapar!!" Daren terus melangkahkan kaki panjangnya pergi ke dapur
"Tuan, tapi kan anda puasa?"
__ADS_1
"Aku tidak peduli!" Daren terus melangkah menuju dapur tak perduli dengan sahutan Sam dari belakang yang terus mengikutinya
Seketika Daren berhenti di ambang pintu dapur dengan terkejutnya, diikuti Sam yang mengikutinya dari belakang
"Apa apa tuan?!"
Daren langsung terduduk lemas di ambang pintu dengan bersandar di pintu dapur yang tertutup rapat
Ia menengadah ke atas menatap langit-langit dapur
"Dapur dikunci Alisha" gumam Daren pasrah
Sam sampai tak sampai hati melihat kepasrahan tuan nya itu
"Tuan..... apa anda ingin saya meminta pada nona Alisha untuk membiarkan Anda tidak puasa?" tawar Sam
"Tidak usah, aku tidak ingin membuatnya kecewa padaku, lagipula juga aku ini seorang pria, aku tidak akan goyah hanya karena lapar saja!" ujar Daren
"Apa anda tidak makan sahur dulu tuan tadi malam?" ucap Sam
"Sudah, tapi hanya sedikit karena aku masih ngantuk, jika aku tahu akan jadi seperti ini kan ku habiskan semua makanan yang ada di meja saat sahur tadi!" ucap Daren merasa kesal
Sam hanya diam di tempatnya melihat wajah pucat tuannya itu tengah duduk bersandar di pintu dapur
"Kalian ngapain di situ?" refleks Daren dan Sam mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara yang berada di belakang mereka
Alisha yang baru tiba dari kebun menghampiri mereka
"Kenapa pucat sekali mukamu Daren?" ucap Alisha meneliti wajah pucat Daren
Daren hanya menggeleng pelan dan bangkit berdiri
"Ya... wajar saja kalau kau merasa lapar apalagi di hari pertama puasa, tapi aku yakin kau pasti bisa melewati semua ini, semangat ya!" Alisha menampilkan senyuman manisnya pada Daren merasa paham dengan kondisinya
Daren ikut tersenyum dan mengangguk paham
__ADS_1