
William hanya tersenyum miring menanggapi perkataan Alisha
"Saya paling suka semua bunga tuan, kalau tuan suka bunga sejak kapan?" tanya Alisha melihat wajah William
Perlahan senyuman di bibir William menghilang ketika mendengar ucapan Alisha
"Maaf tuan jika ucapan saya membuat anda tersinggung" Alisha dapat melihat ekspresi wajah William kembali murung
"Sejak.... sejak aku masih kecil" lirih William pelan menatap sendu kebun bunganya
"Oh" jawab Alisha pelan juga, ia tidak ingin menyakiti perasaan William lagi dengan bertanya-tanya yang aneh-aneh
Mereka pun kembali saling mendiamkan satu sama lain sampai matahari hampir tenggelam
"Apa... aku memang jahat?" gumam William pelan, sangat pelan namun terdengar jelas Alisha di sampingnya
Seketika Alisha menoleh ke arahnya
"Tuan, anda tidak jahat kok" Alisha tersenyum tipis menghibur William dengan perkataannya
William terdiam sejenak dan melipat kedua tangannya di kedua sisi kursi rodanya
"Lalu..... kenapa dia memenjarakan ku?" lirih pelan William menundukkan kepalanya
Alisha mengerutkan keningnya tak mengerti dengan ucapan William
"Tuan, jika anda ada masalah sebaiknya cerita, tidak baik menyimpannya sendiri" Alisha berkata lembut
William menoleh ke arah Alisha dengan pandangan kosong kemudian menatap lagi ke depan
"Dulu.... sewaktu aku kecil ayahku meninggal" William memulai ceritanya dengan tatapan kosong ke depan dan suara yang pelan
Alisha pun hanya diam menyimak dan memasang telinganya baik-baik mendengar suara William yang sangat pelan itu
"Kemudian... beberapa bulan setelahnya ibuku menikah lagi" lanjutnya
William menelan saliva nya dan menghela nafasnya
"Aku tidak tahu kenapa ibuku menikahinya, padahal pria itu sudah sangat jelas jelas buruk" ucapnya lagi dengan suara gemetar
Sedangkan Alisha yang mendengar William bercerita menggigit bibir bawahnya
"Ibuku.... sering sekali dipukul oleh suaminya itu, tapi aku... aku tidak bisa berbuat apa-apa.....arrggghhh!" seketika William tak bisa lagi menahan tangisnya dan menelungkup kan wajahnya di sisi kursi rodanya
Alisha hanya bisa mengelus pundaknya William dengan tangannya yang terbalut sarung tangan
"Hiks hiks hiks.... aku... aku hanya bisa diam melihat ibuku setiap hari dipukul oleh si brengs*k itu!" William sesegukan menangis di dekapan tangannya sendiri
"Yang sabar tuan" ucap Alisha tak tega melihat majikannya itu menangis
__ADS_1
"Aku.... aku memang tidak berguna! tidak berguna!! aku bahkan tidak bisa melindungi ibuku sendiri!" William memukul kaki kirinya dengan sangat keras
"Tuan, hentikan, tidak baik seperti ini!" ucap Alisha sedikit keras dan memegang kedua pergelangan tangan William
"Hiks...hiks.. aku tidak berguna Alisha, ayahku meninggal gara-gara aku sehingga ibuku membenci ku, aku tidak berguna" ucap William dengan nada melemah
Alisha semakin merasa iba dengan majikannya itu
"Lepaskan aku Alisha, lepaskan!" seru William melepas kasar kedua tangannya dari tangan Alisha
"Pergilah Alisha! pergi! jangan pernah kau dekat-dekat dengan monster seperti ku ini!" seru William dengan berurai air mata
Kemudian Alisha menggenggam erat kedua tangan William
"Tuan, saya memang tidak tahu dengan masa lalu anda tapi yang saya tahu anda adalah orang yang paling baik yang pernah saya kenal, oleh karena itu jangan pernah mengatakan hal itu lagi, anda bukan monster tuan, bukan!" seru Alisha dengan mata berkaca-kaca
"Hiks...hiks... aku monster Alisha, monster, bahkan saat aku masih kecil pun aku sudah membunuh ayah tiri ku! dan aku dipenjarakan oleh ibuku sendiri!!"
Jeduarrrrrrrrr
Tiba-tiba terdengar suara petir menyambar dan awan sudah mulai menggelap
Alisha diam dengan mata berkaca-kaca mendengar ucapan William
"A...apa?" lirihnya pelan sambil terus memegang erat kedua tangannya William
William menangis sejadi-jadinya di kursi rodanya dan hanya bisa menundukkan kepala
Tak lama kemudian hujan pun turun menghujani mereka yang masih berada di kebun bunga itu
"Hiks...hiks... pergilah Alisha, sekarang kau sudah tahu jika aku ini pembunuh, seorang pembunuh sejak aku masih kecil" William masih menunduk dengan suara sesegukan karena masih menangis
Alisha hanya bisa diam membiarkan hujan membasahi tubuhnya dan juga William
Entah kenapa bibirnya terasa terkunci tak bisa berbicara semenjak William mengatakan hal yang sejujurnya
Alisha menengadah ke atas dan bangkit berdiri
Kemudian ia meninggalkan William sendirian di sana, di bawah hujan deras
Sedangkan William masih terus menangis di bawah hujan deras itu
'Alisha juga meninggalkan ku rupanya' gumamnya dan menengadah ke atas membiarkan rintik-rintik hujan membasahi wajahnya
Ia menutup matanya erat dan memori masa kecilnya kembali terekam di otaknya
William pun kembali menangis dengan posisi kepala mendongak ke atas dan mata tertutup
Tiba-tiba ia merasakan tak ada lagi rintikan hujan membasahi wajahnya
__ADS_1
Perlahan William membuka matanya dan menatap instens sosok wanita yang berdiri di depannya dengan memegang payung meneduhi William
"Saya berjanji pada anda tuan saya tidak akan pernah meninggalkan anda sendirian!" ucap Alisha tersenyum manis
"Kenapa kau masih ingin setia di sisiku padahal kau sudah tahu latar belakang ku"
"Karena saya sudah berjanji pada pak Dave untuk menjaga tuan" jawab Alisha tersenyum ramah
"Te... terimakasih" ucap William menyeka air matanya
Alisha kemudian membalut tubuh William dengan handuk
"Tuan, anda kedinginan, ayo kita masuk" Alisha tersenyum lembut dan mendorong kursi rodanya William masuk ke dalam kastil
William yang masih sesegukan menangis hanya diam membiarkan Alisha mendorong kursi rodanya masuk ke dalam kastil
Malam harinya.....
Hujan deras terus mengguyur bumi di luar kastil
Alisha memasukkan stok kayu bakar ke dalam perapian dan membakarnya untuk penghangat ruangan
Sedangkan William hanya diam di kursi rodanya dengan balutan selimut tebal di tubuhnya
Setelah perapian jadi Alisha mendorong kursi rodanya William mendekat ke arah perapian dan ia duduk di lantai
"Huft dingin ya tuan" ucap Alisha menggosok kedua telapak tangannya
William hanya diam menanggapi perkataan Alisha dan merasakan kehangatan di dalam selimut tebalnya
"Tuan, di saat-saat seperti ini membuat saya teringat dengan masa-masa saya sewaktu di panti asuhan" Alisha tersenyum melihat wajah William di sampingnya
"Oh ya?" respon William
"Ya, dulu ya tuan kalau lagi musim hujan seperti ini kami sering sekali berebut kamar untuk tidur apalagi kalau duduk di dekat perapian, saya sering kali tidak dapat" ujar Alisha tertawa kecil mengingat masa-masanya sewaktu di panti
William hanya tersenyum miring melihat sikap Alisha yang tertawa sendiri seperti itu
"Tuan, boleh saya mengatakan sesuatu?" tanya Alisha
"Hmm"
Alisha terdiam sejenak dan memeluk kedua lututnya dan menopang dagunya di tengah kedua lututnya
"Setiap orang punya masa lalu yang berbeda-beda tuan, ada yang indah, ada yang buruk, bahkan ada yang mempunyai keduanya sekaligus" ucap Alisha
William hanya menautkan alis kanannya mendengar ucapan Alisha
"Kita sama-sama memiliki masa kecil yang buruk tuan, hanya saja saya tidak terlalu mengingatnya" ujarnya lagi
__ADS_1
Alisha pun menengadahkan wajahnya ke samping atas menatap William yang kini melihatnya
"Saya hanya ingin bilang tuan, lupakan lah masa lalu anda dan lanjutkan hidup menjadi lebih baik lagi" ujarnya