Perjalanan Cinta Alisha

Perjalanan Cinta Alisha
Episode 31


__ADS_3

Sepanjang hari Alisha selalu disibukkan dengan pekerjaannya membersihkan dan merapikan isi kastil


"Kau tidak letih ya bekerja seperti ini setiap hari?" tanya William yang sedari tadi memperhatikan Alisha mengepel lantai


"Kalau kau mau aku akan mempekerjakan beberapa pelayan untuk membantu mu" usul William


"Tidak usah tuan, ini semua adalah tugas saya sebagai pengurus kastil ini dan juga bukankah tuan William alergi terhadap wanita makanya dari dulu tuan William tak pernah mempekerjakan pelayan wanita" jawab Alisha tersenyum ramah sambil terus mengepel lantai dapur


"Tapi aku tidak alergi dengan mu" ucap William yang membuat Alisha menghentikan gerakan gagang pel di tangannya


Kemudian ia menatap William yang menatapnya juga


'Benar juga ya' gumam Alisha


"Ya terserah anda sajalah tuan" ucap Alisha dan melanjutkan mengepel lantai lagi


"Setelah ini apa yang akan kau lakukan lagi?" tanya William


"Hmmm apa ya? mungkin sudah dulu tuan, saya juga capek, habis ini saya akan shalat ashar dulu" jawab Alisha


William hanya manggut-manggut mengerti dan terus memperhatikan bagaimana Alisha bekerja


'Dia sangat rajin' batinnya



Seorang pria tengah berdiri di dinding kaca tembus pandang yang memperlihatkan seluruh isi kota New Zealand di gedung kantor pencakar langit tersebut



Ya, dia adalah Daren yang sedang menatap seluruh isi kota dari dalam ruangannya



Namun semua pikiran di dalam otaknya hanya ada satu nama, Alisha



"Kenapa kau tidak memberitahu yang sebenarnya padaku Alisha, aku sudah mencari mu sejak dulu?" gumamnya sendu



Toktoktok



"Masuk!" ucap datar Daren dengan posisinya masih sama



Sam, sekretaris nya masuk bersama seorang wanita paruh baya



"Tuan, orang yang anda inginkan sudah datang" ucap Sam membungkuk hormat



Seketika Daren membalikkan badannya dan matanya langsung menangkap sosok wanita paruh baya itu



"Kau pergilah" ucap Daren pada sekretaris nya



Sam menganggukkan kepalanya kemudian keluar meninggalkan mereka berdua



"Duduk" ucap Daren seraya duduk di kursinya



Wanita tua itupun duduk persis di depan Daren



"Ceritakan bagaimana Alisha bisa pindah ke panti asuhan mu?" ucap datar Daren dengan suara berat



"Maaf tuan, saya tidak bisa memberikan informasi terhadap anak-anak panti kami, apalagi perlakuan sekretaris anda membawa saya ke sini kurang sopan" keluh wanita itu



Daren menghela nafasnya dan membuka laci mejanya kemudian mengeluarkan sesuatu


__ADS_1


"Aku tidak suka mengulang kembali pertanyaan ku" ucap Daren seraya memegang senjata api di tangannya



Seketika wanita paruh baya itu menjadi ketakutan dan gugup



"Bbbbaik tuan, saya akan memberitahu tapi tolong jangan bunuh saya" mohon wanita itu menghiba



"Katakan!" ucap Daren mulai kehilangan kesabarannya



"Alisha di pindahkan ke panti asuhan kami pada saat ia berumur 4 tahun" ujar wanita itu dengan gemetaran



"Kenapa dia dipindahkan? bukannya sebelumnya dia tinggal di panti asuhan juga?" tanya Daren langsung



"Saya tidak tahu alasannya tuan, yang saya tahu ada seorang pria yang membawanya ke panti asuhan kami" jawab gugup wanita itu



Daren menghela nafasnya dan mengusap wajahnya dengan kasar



"Apa alasannya dia membawa Alisha ke panti asuhan mu?" tanya Daren



"Saya tidak terlalu ingat tuan tapi seingat saya dia hanya bilang kalau Alisha akan aman jika tinggal di panti asuhan kami" jawab wanita itu



"Siapa pria itu?" tanyanya



"Saya lupa namanya tuan, yang jelas dia membawa Alisha kecil ke panti asuhan kami dengan kondisi mengkhawatirkan"




Braakkk


Sontak Daren memukul mejanya membuat wanita tua itu merasa kaget bukan kepalang



"Apa maksudmu mengkhawatirkan?" tanya Daren dengan nafas menggebu-gebu



"I...iya tuan, seingat saya waktu Alisha pertama kali dibawa ke panti asuhan kami dia mengalami patah tulang di tangannya dan juga di kepalanya" jawab wanita itu semakin ketakutan



"Apa kau punya surat-surat penting Alisha?" tanya Daren



"Ppppunya tuan, saya sudah membawanya, ini!" ucap wanita itu seraya menyodorkan sebuah map coklat kepada Daren



Daren mengambilnya dan langsung membukanya



"Pergilah"



Seketika wanita itu langsung berdiri dan hendak pergi



"Jika semua yang kau katakan tadi bohong maka tunggu saja kepala mu akan ku gantung di alun-alun kota New Zealand" ucap Daren mengancam wanita itu



Sangking ketakutannya, wanita paruh baya itu langsung pergi tanpa mengatakan apapun pada Daren

__ADS_1



Sedangkan Daren membuka isi map itu dan mengeluarkan semua isinya



Terdapat ijazah SD dan JHS (Junior High School) Alisha di dalamnya



Serta berbagai surat-surat penting di dalamnya



Daren menghela nafasnya dan mengumpulkan semua dokumen itu menjadi satu



"Alisha, ternyata kau lah orangnya, kenapa kau tidak memberitahu ku" gumamnya mengusap kasar wajahnya



Daren yang merasa frustasi langsung mengambil air minum di mejanya dan meneguk nya habis



PRANKKK


Daren melempar gelas kaca nya ke lantai dan mengacak-acak rambutnya



"Aku harus cepat menyelesaikan semua urusan ku disini dan segera kembali" gumamnya menyandarkan kepalanya



"Pantas saja aku selalu merasa dekat dengan mu, ternyata kau lah orang yang ku cari" gumamnya melihat langit-langit ruang kerjanya



"Alisha, aku akan kembali, bersabarlah, kita akan segera bersama pada akhirnya" gumamnya tersenyum tipis



William yang tengah membaca koran di ruang tamu seketika menyadari bahwa Alisha telah datang menghampiri nya


"Tuan saya sudah shalat Ashar" ucap Alisha


William tak menjawabnya dan menaruh korannya


"Dorong aku ke kebun bunga ku, sudah lama aku tidak melihatnya" ucap William datar


"Baik tuan"


Alisha pun mendorong kursi rodanya William keluar kastil ke arah kebun bunga mawar biru kesayangannya William


Seketika William terpukau melihat indahnya taman bunganya


"Indah" gumamnya pelan yang terdengar Alisha


Alisha hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan William


"Seingat ku terakhir kali aku ke sini tidak seindah ini" ucapnya pula


"Karena saya merawat dan menyiramnya setiap hari tuan" jawab Alisha yang berdiri di belakang William


William menoleh ke arah belakangnya menatap wajah Alisha yang menatap indahnya kebun bunga itu


"Maaf ya tuan kalau saya membangkang, saya hanya ingin merawat kebun bunga tuan" ujar Alisha menatap sekilas wajah William


"Tidak apa-apa, lagipula juga kau merawat bunga ku dengan lumayan bagus" ucap William kembali menatap kebun bunga mawar biru kesayangannya


"Kita duduk di sana ya tuan" ucap Alisha mendorong kursi rodanya William ke arah salah satu bangku taman


Setelah sampai di bangku taman, Alisha duduk di sana sedangkan William duduk di kursi rodanya


Keheningan pun tercipta di antara mereka karena mereka menatap indahnya kebun bunga mawar biru di depan mereka


"Apa kau juga suka bunga?" tanya William memecah keheningan di antara mereka


Alisha melirik sekilas ke arah William


"Suka tuan" jawab Alisha pelan


"Aku juga suka, aku paling suka bunga mawar biru" ucap William menatap kosong ke arah depan


Alisha kembali melihatnya, dapat ia lihat jelas bagaimana sorot mata dan ekspresi wajah William yang sendu


Alisha tersenyum tipis dan kembali melihat ke depan

__ADS_1


"Jarang lho tuan ada pria yang menyukai bunga seperti anda ini" ucap Alisha memuji


__ADS_2