
Malam Harinya
Toktoktok.....
Pintu depan kastil di ketuk dari luar
"Iya sebentar!!" seru Alisha menghampiri pintu tersebut seraya mengeringkan tangannya yang basah akibat mencuci piring di dapur
Kleek....
Handle pintu dibuka oleh Alisha dan menampakkan beberapa orang wanita berpakaian rapi
"Ya, ada apa?" tanya Alisha menatap mereka satu persatu
"Kami suruhan tuan Daren untuk datang kemari nona" jawab salah seorang mereka
"Oh suruhan Daren, masuklah!" ucap Alisha melebarkan pintu tersebut
Para wanita itupun masuk dan berdiri di dekat sofa
"Kenapa tidak duduk? duduklah, aku akan panggilkan Daren, sebentar!" ucap Alisha hendak pergi
Namun langkahnya terhenti ketika melihat Daren sudah menghampiri mereka
"Mereka mencari mu" ujar Alisha pada Daren
"Bukan mencari ku tapi kau" jawab Daren seraya duduk di sofa
Alisha mengerutkan keningnya dan melihat para wanita tadi
"Nona Alisha bukan?" tebak salah seorang mereka
"I.... iya, ada apa?" jawab Alisha bingung
"Kalian, masuklah!!!" seru salah seorang mereka ke arah luar
Tak berapa lama kemudian beberapa orang pria masuk dengan membawakan paper bag di kedua tangan mereka
Alisha terkejut dan melirik Daren di sampingnya yang terlihat santai sembari memainkan ponselnya
'Apa lagi yang dilakukan Daren?' gumam Alisha
Para pria berjas hitam itu menaruh semua paper bag ke atas meja panjang itu
"Nona, semua ini adalah untuk nona" ujar salah seorang wanita
Sontak Alisha terkejut dan melihat betapa banyaknya paper bag di atas meja bahkan hampir memenuhi permukaan meja
Alisha menghela nafasnya dan melirik ke arah Daren
"Daren apa maksudnya ini?" tanya datar Alisha
Daren menaruh ponselnya ke dalam saku celananya dan mengisyaratkan seluruh tamu nya itu untuk segera pergi
Setelah semua orang pergi menyisakan Alisha dan Daren, Daren bangkit berdiri menghadap Alisha
__ADS_1
"Kau lihat saja sendiri" ujar Daren
Alisha mengambil salah satu paper bag itu dan mengambil isi dalamnya
"Baju Syar'i?" gumamnya menatap wajah Daren
Daren mengangguk dan tersenyum tipis
"Ya, aku membelikannya untuk mu, khusus untuk mu, aku tidak suka melihat mu memakai pakaian lusuh tiap hari, apalagi pakaiannya itu-itu saja, jadi aku belikan yang baru" jawab Daren
"Tapi kenapa sebanyak ini, pasti kau mengeluarkan banyak uang untuk membelikan ku semua ini" ujar Alisha merasa tak enak hati
"Tidak apa-apa, lagipula aku juga membelinya dengan voucher potongan harga jadi ku beli saja" jawab Daren berbohong
"Tapi bukankah sangat sulit mencari pakaian seperti ini di sini?" ujar Alisha merasa heran
"Kebetulan aku punya teman dia mempunyai toko baju seperti ini, aku membeli semua ini darinya" jawab bohong Daren
Yang sebenarnya adalah semua pakaian itu ia beli langsung dari Madinah dengan harga fantastis karena keluar negeri pengirimannya di tambah pengiriman secara instan dan cepat ke kastilnya yang berada di New York, dengan kekuatan serta koneksinya di berbagai belahan dunia ini, tak sulit mendatangkan barang dari negara lain dengan waktu yang sekejap baginya
"Oh begitu, ya sudah aku ganti ya uang mu, berapa semua ini?"
Wajah Daren menjadi suram dan dingin mendengar perkataan Alisha
"Kau menghina ku ya? aku ini pria, pantang bagi ku menerima uang dari wanita, seharusnya aku yang memberi mu uang" ucap Daren datar tak suka dengan perkataan Alisha tadi
"Bbbukan seperti itu Daren, aku hanya merasa tak enak hati terus menerima sikap baik mu padaku, beberapa waktu lalu kau sudah membelikan ku es krim dan sekarang membelikan ku pakaian, aku sangat tidak enak hati" ucap Alisha dengan memelas
"Ya sudah kalau kau tidak mau menerimanya, aku bakar semua ini!" ketus Daren dan hendak mengambil semua paper bag di atas meja itu
"Eh jangan-jangan jangan!! baiklah baiklah, aku terima!" ucap Alisha merebut semua paper bag di tangan Daren
Daren menyunggingkan senyuman lebar nya dan kembali duduk di sofa
"Gadis yang unik" gumamnya
Daren pun teringat bagaimana lucunya tingkah Alisha saat memakan es krim beberapa waktu lalu hingga membuatnya tertawa sendiri
"Lama-lama aku bisa gila karenanya" gumamnya berucap memikirkan wajah Alisha tersebut
Semenjak kedatangan Alisha di hidupnya sebagai 'sahabat' nya, Daren lebih sering tersenyum dan tertawa, sudah jarang sekali ia memasang wajah dingin di kastil itu kecuali saat di kantor
Tutt...tutt...tutt...
Daren yang hendak bangkit meraih telfon rumah yang berada di sampingnya
"Halo?" tanyanya dengan nada santai
Seketika wajahnya berubah menjadi dingin setelah mendengar si penelpon berbicara
"Aku ke sana sekarang! jaga William baik-baik sampai aku tiba, jika dia terluka sedikit saja nyawa mu ku habisi!!" ujar Daren tegas dan menutup panggilan telfon itu
Langsung Daren melangkahkan kaki panjangnya keluar kastil tepatnya ke mobilnya
"Kau katakan pada Alisha aku akan pergi malam ini jadi tidak usah menyiapkan makan malam!" ucap Daren pada sang sopir
__ADS_1
Sopir pun hanya mengangguk dan memberikan kunci mobil pada Daren
Daren pun mengambil kunci mobilnya dan langsung pergi bersama mobilnya
Sementara itu, Alisha yang berada di kamarnya menaruh semua paper bag itu ke atas ranjangnya
"Daren beli baju apa borong isi toko temannya sih? banyak banget ini, aku nggak bisa pake semua ini" gerutu Alisha
"Tapi kalau nggak diambil dia bisa tersinggung, ya sudahlah, mending aku siapkan makan malam untuknya" ucapnya dan beranjak keluar kamar
"Nona Alisha!" seru sang sopir Daren memanggil Alisha yang hendak masuk ke dapur
"Eh pak sopir, ada apa pak?" tanya Alisha ramah
"Kata tuan Daren, anda tidak perlu menyiapkan makan malam, tuan sudah pergi dari tadi"
"Pergi? pergi ke mana?" tanya Alisha mengerutkan kening
"Saya tidak tahu nona"
"Ooh yang sudah, baiklah pak" ucap Alisha
Sang sopir pun pergi ke tempatnya meninggalkan Alisha di sana
"Tumben Daren mau pergi tidak mengatakannya padaku dulu? mungkin dia sedang terburu-buru" gumam Alisha
Kelvin, yang merupakan sekretaris dari William terus saja mengintip dari balik gubuk di tengah hutan itu
Keadaan malam yang sunyi serta gelap membuatnya kesulitan untuk melihat apa yang terjadi di luar sana setelah penyerangan mendadak tadi
"Tuan" ucap Kelvin dengan nada berbisik menghampiri sang atasan
William yang terluka di kakinya akibat tembakan musuh, terus bernafas tak beraturan di tambah lagi kakinya terus mengeluarkan darah
"Bagaimana keadaan di luar? apa Daren sudah datang?" tanya William menyeka keringatnya karena panasnya gubuk itu
"Belum tuan, saya tidak bisa melihat keadaan di luar tuan, saya takut....."
"Diam lah Kelvin! ini adalah resiko menjadi sekretaris dari Mafia seperti ku! jika kau ingin mengundurkan diri maka undurkan dirimu dan siap-siap lidah mu akan ku potong!" ujar William membentak keras Kelvin
__ADS_1
Kelvin yang ketakutan akibat penyerangan tadi hanya bisa diam mendengar bos nya memarahinya