
"Terimakasih banyak atas bantuannya Alisha, semoga engkau diberi umur panjang oleh Sang Kuasa" ucap sang ibu panti tempat Alisha pernah tinggal
"Sama-sama Bu, kami merasa senang dapat berbagi dengan anak-anak yatim" Alisha tersenyum tulus
Ia, Daren, dan juga ibu panti tersebut mengedarkan pandangannya melihat banyaknya anak-anak kecil sedang makan makanan mereka di sekeliling mereka
Daren sedikit merasa tidak nyaman berada di sana, apalagi rumah panti itu terbilang kecil dan sempit
"Maaf tuan jika membuat anda merasa tidak nyaman, rumah panti kami memang sudah seperti ini" ucap sang ibu panti merasa mengerti dengan tatapan Daren melihat sekelilingnya
Daren hanya menyunggingkan senyuman tipis nya kemudian mengambil dompetnya dan mengeluarkan beberapa jumlah uang
"Ini untuk pengeluaran panti bulan ini Bu, saya mendonasikannya" Daren tersenyum tipis seraya menyodorkan uang ratusan Dollar pada sang ibu panti
"A...apa ini tidak berlebih tuan? sebaiknya tidak usah, saya dan anak-anak panti menerima makanan dari kalian saja sudah cukup kok" ucap ibu panti merasa tak enak hati
"Tidak apa-apa kok Bu, terima saja uangnya, anggap saja ini rezeki ibu dan juga para anak-anak panti, semoga mereka semua bisa sekolah nantinya" ucap Alisha menimpali
"Jika ibu tidak menerimanya itu bisa membuat saya tersinggung Bu" ujar Daren juga
Akhirnya sang ibu panti menerima uang tunai dari Daren dengan bahagia
"Terimakasih atas pemberiannya Alisha, tuan Daren, saya sangat bersyukur dan berterimakasih atas pemberian ini" ucap sang ibu panti
"Sama-sama Bu, oh ya ini sudah sangat siang, kami akan pamit dulu" ucap Alisha melihat jam tangannya
"Oh kenapa buru-buru? menginap saja disini untuk semalam" tawar sang ibu panti
"Maaf Bu, saya masih ada pekerjaan" ujar Daren
"Oh begitu, baiklah jika itu yang kalian inginkan" ucap sang ibu panti
"Kalau begitu kami permisi dulu ya Bu, assalamualaikum" Alisha meraih tangan kanan ibu panti tersebut dan mencium punggung tangannya
Daren sedikit tertegun melihatnya mencium tangan ibu itu
Tanpa ia sadari ia juga melakukan hal yang sama terhadap sang ibu panti tersebut
Setelah berpamitan dengan ibu panti dan anak-anak panti lainnya, Alisha dan Daren pun pergi meninggalkan tempat panti asuhan tersebut
Selama perjalanan tak ada percakapan di antara mereka, seperti biasa Alisha melihat isi luar jendela mobil yang sudah menjadi kebiasaannya
"Isha, kamu tinggal di panti tadi sejak kapan?" ucap Daren menoleh ke sampingnya
Alisha pun membalas melihatnya dengan tersenyum miring
"Sejak umur 4/5 tahun kalau tidak salah, aku sudah sangat lupa"
Daren hanya mengangguk pelan merespon jawaban dari Alisha
'Ternyata dia sudah dipindahkan ke panti lain setahun setelah aku pergi rupanya' batinnya
__ADS_1
Mereka pun kembali saling mendiamkan menikmati suasana dingin dan sejuknya udara yang melewati mereka begitu saja, apalagi ini musim dingin
Karena perjalanan mereka yang cukup jauh dari kastil ke panti asuhan tersebut hingga memakan waktu sekitar 2 jam lamanya membuat Daren terus menguap sedari tadi
"Kamu capek yah?" ucap Alisha
Daren hanya mengangguk sambil menutup mulutnya yang terbuka karena menguap
"Kalau begitu nanti jika ada masjid atau musholla berhenti saja, kau bisa istirahat di sana, sekalian aku mau shalat Zhuhur juga, ini sudah mau waktunya" ucap Alisha
"Memangnya boleh orang sepertiku masuk ke tempat ibadahmu?"
Seketika Alisha tertawa kecil mendengar ucapannya
"Memangnya kau orang seperti apa sampai-sampai tak boleh masuk masjid?"
Daren terdiam mendengar Alisha mengatakan itu, tak mungkin dia bilang kalau dia itu psikopat gila
"Semua orang boleh kok masuk masjid, mau turis kah, beda agama kah, atau ateis sekali pun, tak masalah, asalkan kalian yang diluar Islam bisa menjaga diri di sana" timpal Alisha tersenyum manis
"Oooo begitu" Daren hanya manggut-manggut mengerti
Tak lama kemudian, mobil mereka berhenti tepat di depan sebuah masjid di tepi jalan
"Kita turun di sini, yuk!" Alisha membuka seat belt nya kemudian keluar dari mobilnya serta diikuti Daren
Daren menengadah ke atas melihat desain bangunan masjid di depannya
"Yuk masuk!" Alisha menaiki tangga kemudian melepas sepatunya
Daren pun ikut melepaskan sepatunya dan mengikuti langkah Alisha yang masuk ke dalam masjid tersebut
Tatapan Daren langsung mengarah ke seluruh isi ruangan masjid tersebut
'Ternyata luas juga ya isi dalamnya.... ku pikir sempit' batin Daren
Kemudian matanya beralih melihat ada beberapa orang lelaki yang duduk di tempat yang berbeda-beda sembari menggerakkan badannya yang tengah duduk
"Mereka semua sedang apa?" bisik Daren di dekat Alisha
"Sebentar lagi adzan Zhuhur akan tiba, banyak dari umat Islam yang berzikir sebelum waktu adzan, mereka sedang berzikir" jawab Alisha dengan nada berbisik pula
Daren hanya mengangguk paham meresponnya
"Ya sudah, kau bisa istirahat di sana, boleh kok tiduran di dalam masjid asalkan jangan ileran" Alisha menunjuk salah satu pojok kanan sisi masjid itu
"Enak aja bilang aku ileran, aku tidur nggak gitu yah!" tukas Daren
"Hahaha, iya iya, udah sana istirahat dulu, aku mau shalat di saf belakang"
Alisha pun pergi meninggalkan Daren keluar dari masjid, ia akan berwudhu di tempat khusus perempuan
__ADS_1
Sedangkan Daren, ia menghela nafasnya dan duduk tepat di dekat pilar masjid
Merasa letih, Daren melepas jaket mahalnya dan melipatnya menjadikannya bantal
Kemudian ia pun membaringkan tubuhnya
"Allahuakbar Allahuakbar!!!"
"Allahuakbar Allahuakbar!!"
Tiba-tiba suara adzan berkumandang dengan sangat nyaring menggema ke seluruh ruangan
"Berisik sekali!!" Daren menutup kedua telinganya dan bangun dari tidurnya
"Hey!! siapa yang teriak-teriak hah?!! dasar tidak sopan teriak-teriak dalam masjid!!" seru Daren
Semua orang yang ada di sana langsung melihat ke arahnya dengan tatapan aneh
Hingga seorang pria paruh baya datang mendekatinya kemudian duduk di sampingnya
Daren sampai terheran melihat pria tua itu datang entah darimana
Apalagi pakaiannya serba putih dengan janggut putih memanjang di dagunya
"Nak, anda bukan seorang muslim ya?" tanyanya dengan suara serak khas kakek-kakek
"Ya.... aku datang beristirahat di sini sekalian menemani teman ku beribadah" jawab Daren merasa risih di lihat seperti itu oleh pria paruh baya itu
Seketika pria paruh baya itu tersenyum lebar hingga memperlihatkan giginya yang sudah ompong
Ia memegang sebelah bahu Daren
"Nak.... yang kau dengar berisik tadi itu Adzan"
Refleks Daren membulatkan matanya sangking terkejutnya ia
Sungguh, ia sangat-sangat tidak tahu apa itu Adzan
"B..benarkah? apa harus sekeras itu Adzan nya?" ucap Daren menyembunyikan rasa malunya
"Iya nak, Adzan diperlukan diucapkan dengan suara yang keras apalagi dengan menggunakan pengeras suara, itu lebih baik" jawab lembut kakek itu
"Kenapa harus begitu? setahuku dalam ibadah tidak boleh berisik kan" ucap Daren mengerutkan keningnya
"Agar seluruh umat Islam yang berada di sini dan di sekitarnya mendengarnya nak, itu adalah hal yang lumrah bagi kami" ujar kakek itu
"Maaf jika membuat istirahat mu mengganggu" ucapnya lagi
Daren terdiam mendengar penuturannya, tiba-tiba ada rasa ingin mendengar suara Adzan lagi
Ia menutup matanya membiarkan suara Adzan berkumandang dengan khidmat
__ADS_1
'Kenapa.... ada perasaan aneh saat Adzan berkumandang apalagi hatiku terasa tenang mendengarnya' batin Daren bingung