
"Will, kenapa kau tidak makan?" ucap Alisha ketika melihat mangkuk es krim William masih utuh
"Kan sudah ku bilang dia tidak suka makanan manis beda dengan ku!" celutuk Daren
William langsung menatap tajam ke arahnya dan mengambil mangkuknya
Ia langsung menyendok es krim itu ke mulutnya
'Enak sekali' batinnya merasakan dingin es krim di mulutnya
"Bagaimana? enak tidak?" ucap Alisha
"Lumayan" jawab William pelan
"Kalau tidak mau untukku saja!" tukas Daren hendak merebut mangkuk William
William segera menangkis tangan Daren yang ada di mangkuknya
"Sudah-sudah kenapa kalian jadi sering bertengkar? ini Daren, makan saja punyaku" ucap Alisha menengahi
"Lalu kau?"
"Aku sudah kenyang, aku mau shalat dulu, kalian makanlah" ucap Alisha menaruh mangkuknya ke meja kemudian pergi ke kamarnya
William dan Daren kembali menjadi datar dan dingin setelah kepergian Alisha
Bahkan mereka makan tanpa bersuara ataupun saling berbicara
"Kenapa kau keberatan kami berteman?" ucap datar William menatap dingin Daren
Daren menautkan alisnya ke atas mendengar ucapan William
"Apa aku harus memberitahu mu alasannya?"
"Jika kau tidak mau memberitahu maka aku tidak akan pernah mengindahkan keberatan mu itu, aku akan terus berteman dengan Alisha, kami akan menjadi sahabat seperti mu bahkan mungkin akan lebih jauh"
Sontak Daren membulatkan matanya mendengar ucapan William
Braakkk!!!
Ia menepuk keras meja di hadapannya dan berdiri mencondongkan tubuhnya ke arah William yang ada di hadapannya
"Awas saja kau jika melakukannya!!" gertak Daren
William menyunggingkan senyuman miringnya dan melipat kedua tangannya di depan dadanya
"Kenapa kau jadi semarah ini? aku kan hanya berteman dengannya, bukan mengajaknya menikah" goda William
"Itu lebih tidak boleh lagi, aku akan mencongkel mata mu jika kau melakukan itu!!" seru Daren melotot pada William
William memutar bola matanya dengan malas kemudian mendorong kursi rodanya menuju kamarnya
Daren mendengus kesal kemudian menghabiskan semua es krim yang ada di meja itu
Malam harinya.....
Malam ini hujan turus dengan derasnya membuat angin malam semakin dingin
Alisha membuat perapian untuk menghangatkan ruang tamu
Ia yang sedang duduk di sofa berpindah ke dekat perapian demi mencari kehangatan
Alisha menoleh ke arah meja makan yang sudah di tata makanan sedemikian rupa oleh para pelayan
Ia pun kembali bangkit ke kamar William
Namun pintunya yang terbuka dapat Alisha lihat dari ambang pintu
William yang tengah duduk di kursi rodanya menghadap kaca dindingnya melihat rintik-rintik hujan membasahi dinding kacanya
"Will" panggil Alisha dengan lembut sembari menghampiri William
Namun William tak menggubris perkataan Alisha di belakangnya
Alisha duduk berjongkok di samping William dan menepuk pelan pundaknya dengan tangannya yang terbungkus sarung tangan
"William" panggilnya lagi
William sontak tersadar dari lamunannya dan menoleh ke samping, ke arah Alisha
"Alisha, kau disini?" ucapnya dengan nada terkejut
"Aku sudah dari tadi di sini, ada apa hmm? kau ada masalah?" ucap lembut Alisha melepas tangannya dari pundak William
William kembali menatap kosong ke arah depannya
__ADS_1
"Aku....aku... aku memutuskan akan menikah" ucapnya pelan
"Benarkah?!" Alisha terdengar terkejut mendengar ucapan William
"Alhamdulillah, akhirnya kau mau menikah juga, dengan siapa?" tanya Alisha tersenyum senang
William melirik sekilas ke arah Alisha
"Belum tahu, Kelvin sedang mencarikan beberapa calon yang cocok untukku, besok pagi ia akan datang" jawab William pelan
"Ooh ku pikir kau sudah punya calonnya, memangnya kriteria seperti apa yang kau inginkan?" tanya Alisha dengan nada lembut
"Seperti mu" jawab singkat William menatap wajah Alisha di sampingnya
Alisha sontak tertawa kecil mendengar ucapannya
"Benarkah? memangnya aku seperti apa?" tanyanya balik
"Kau baik, rajin, bisa mengurus masalah rumah tangga, bisa bela diri, dan...."
"Dan apa?"
"Cantik" jawab William pelan
Alisha tersenyum miring dan menggelengkan kepalanya
"Terimakasih karena secara tidak langsung memuji ku, ku doakan besok kau menemukan wanita yang cocok untukmu" ucap Alisha
"Lalu apa masalahmu? kenapa kau terlihat murung?" tanya Alisha
"Aku.... tidak tahu apa yang ku putuskan ini benar apa tidak" ucap William pelan menatap ke depan
"Wajar seorang pria yang ingin menikah merasakan hal-hal seperti ini" ucap Alisha
"William, pernikahan itu adalah suatu hal yang sakral, kita tidak bisa langsung menikah tanpa adanya persiapan raga dan jiwa, apalagi jika tidak disertai dengan cinta dan hati yang tulus" ucap Alisha tersenyum lembut
William kembali menoleh padanya dengan tatapan sendu
"Apa kau merasa yakin dengan keputusan mu ini? pikirkan lah baik-baik, jangan memaksa hati mu jika kau tidak ingin melakukannya" ucap Alisha selembut mungkin
"Aku.... merasa yakin Alisha, aku ingin menikah, tapi masalahnya.... siapa yang mau menikahi pria seperti ku, monster yang lumpuh"
Wajah Alisha menjadi cemberut mendengar ucapan William
"Harus berapa kali aku bilang padamu jangan hiraukan ucapan orang lain, kau bukan monster Will" ucapnya
"Maaf" lirih pelan William
"Will, kau hanya lumpuh sementara saja kok, nanti juga bakalan sembuh" ucap Alisha tersenyum tipis
"Ya, aku tahu, tapi... tetap saja menggangu pikiran ku" ujar William
Alisha menggenggam erat tangan William menggunakan kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan tebal
"William, aku yakin pasti akan ada wanita yang akan menerima mu apa adanya bukan ada apanya!!" ucap Alisha tersenyum manis pada William
William terpaku di kursi rodanya menatap dalam wajah Alisha yang menyemangatinya
Refleks ia tersenyum dan mengangguk paham
__ADS_1
"Yuk makan malam!" ajak William
Alisha mengangguk pelan dan mendorong kursi rodanya William keluar kamar
Suasana makan malam di tengah hujan deras di luar membuat makan malam kali ini terlihat lebih sunyi dan sepi
Alisha melirik kedua temannya yang ada di depannya itu
Tak ada lagi pertengkaran ataupun pembicaraan, mereka fokus ke makanan mereka masing-masing
'Mereka ini kenapa sih?' batin Alisha merasa heran
Pagi harinya.....
Setelah sarapan pagi, William langsung mendorong kursi rodanya menuju ruang kerjanya
"Tuan" Kelvin yang sudah menunggunya sedari tadi membungkuk hormat ketika melihat William masuk ke ruang kerjanya
"Hmm" William melewati dirinya terus mendorong kursi rodanya menuju meja kerjanya
"Mana dokumen nya?" tanyanya tanpa basa-basi
Kelvin pun langsung menaruh satu dokumen tebal ke hadapan William
"Ini tuan, dokumen ini berisi beberapa wanita yang sesuai dengan kriteria anda, mereka semua adalah wanita-wanita terkenal di kota dan negara ini" ucap Kelvin menunduk
William kemudian membuka dokumen itu kemudian mengambil lembar pertamanya dan membacanya
"Dia adalah putri dari perusahaan yang anda tanami saham di perusahaan milik ayahnya tuan" ucap Kelvin melihat William membaca file biodata wanita itu
Sreettt....
William langsung merobeknya dan melemparnya ke lantai
"Ada apa tuan?" tanya Kelvin
"Dia terlalu tinggi, aku tidak suka" ucapnya
Kemudian ia mengambil lagi lembar kedua berisi biodata wanita lain beserta fotonya
"Dia adalah salah satu model terkenal di US tuan" ucap Kelvin
Sreettt...
William kembali merobek foto wanita itu dan melemparnya
"Terlalu putih, aku tidak suka"
Sreettt.....
"Terlalu pendek"
Sreettt......
"Lehernya pendek sekali"
Sreettt.....
"Hidungnya terlalu mancung"
Sreettt.....
__ADS_1
William merobek semua dokumen biodata dan foto para calonnya dan melemparnya ke lantai