
Alisha mengangguk dan mengikuti mereka menuruni tangga
"Duduklah, aku akan menyiapkan kalian minuman" ucap Alisha
"Tidak usah nona, saya akan langsung bicara saja" jawab Kelvin menolak
"Ya sudah kalau begitu, mau bicara apa?"
"Nona, kami mohon bantuan anda!!!" seru mereka serempak membungkuk hormat pada Alisha
Alisha mengerutkan keningnya melihat sikap mereka
"Bantuan? bantuan apa?" tanya Alisha
"Nona, tuan Daren berpesan pada saya untuk membawakan tuan William seorang dokter dan psikiater untuknya, dia ingin tuan William segera sembuh, jika tuan Daren sampai tahu kalau tuan William menolak maka nyawa kami bisa terancam karena tak becus mengurus tuan William" jawab Kelvin menjelaskan
Alisha membulatkan matanya mendengar perkataan Kelvin
'Apa? Daren bisa membunuh orang? tidak mungkin, pasti itu hanya gertakan saja' gumam Alisha
Alisha tampak berpikir
"Kami mohon nona, hanya nona harapan kami" ucap Kelvin dengan memelas
"Ya sudah, akan ku coba, tapi jika tidak berhasil maka kalian tanggung sendiri akibatnya" jawab Alisha menghela nafasnya
"Terimakasih nona, terimakasih, setidaknya kami masih ada harapan" ujar Kelvin antusias dan menunduk hormat pada Alisha
"Aku kan sudah bilang padamu jangan terlalu hormat padaku, aku hanya pengurus kastil ini" ucap Alisha
"Maaf nona, tapi perintah tuan William untuk memanggil nona Alisha" jawab Kelvin
"Oh? benarkah?" tanya Alisha mengerutkan keningnya
Alisha mengintip dari balik tembok ruang baca William
Dapat ia lihat bagaimana raut wajah William yang tak begitu bersahabat
Matanya pun beralih ke arah pecahan vas bunga tadi serta meja kerjanya William yang terbalik dan banyak kertas-kertas file yang berserakan ke segala arah
'Persis seperti rumah hantu, berantakan' gumam Alisha
Alisha menghela nafasnya dan masuk ke dalam ruang baca William tanpa menimbulkan suara sama sekali
Ia tahu kalau membujuk William sekarang tidak ada gunanya
Alisha masuk ke sana hanya untuk membereskan ruang baca William yang berantakan
William yang sedang merenung di depan balkon ingin meredam amarahnya mendengar suara-suara kecil di ruang bacanya
William mengalihkan kursi rodanya ke belakang
Matanya seketika menangkap sosok Alisha yang tengah berjongkok memunguti pecahan vas bunga
Tiba-tiba ia merasa tenggorokannya tercekat saat ingin meneriaki Alisha
'Biarkan sajalah ia membereskan semua ini' gumamnya
'Lagipula dia tak tahu menahu kenapa ruangan ku ini bisa seperti kapal pecah lagi' gumamnya pula
Tak sadar William memperhatikan gerakan Alisha yang begitu cekatan memungut pecahan vas bunga yang tajam itu hingga membuat tangannya tak sedikitpun terluka
Merasa ada yang memperhatikan, Alisha melihat ke arah William
Alisha memasang senyuman manis ketika melihat William menatapnya datar dari balkon
Kemudian ia membuang semua pecahan vas tersebut ke dalam tong sampah yang berada di sudut ruang
__ADS_1
Alisha pun memunguti semua kertas file yang berserakan di lantai
Sesekali ia membaca dan mengelompokkan semua kertas yang telah ia kumpul menjadi beberapa bagian menurutnya
Setelah selesai memunguti semua kertas file, Alisha pun kembali mendirikan meja kerja William yang terbalik karena ulahnya sendiri
'Kuat sekali wanita ini mengangkat meja ku' gumam William masih terus memperhatikan seluruh gerak-gerik cekatannya Alisha
Alisha menyusun kembali semua file-file yang telah ia bereskan tadi tepat di atas meja dan juga membereskan yang lain
"Tuan, semuanya sudah saya rapikan, sekarang anda bisa bekerja lagi" ucap Alisha sembari menaruh laptop mahalnya William di atas meja
"Dorong aku ke sana" ucap William dengan nada bariton khasnya
Alisha mengangguk paham kemudian menghampiri William dan mendorong kursi rodanya ke arah meja kerjanya
"Kalau begitu saya permisi dulu tuan" ucap Alisha ramah dan hendak pergi
"Buatkan aku teh dan juga cemilan" ucap William menatapnya sekilas
"Oh baik tuan, akan segera datang makanannya" jawab Alisha tersenyum manis kemudian pergi dari sana
Beberapa menit setelahnya Alisha datang membawakan secangkir teh hangat
"Ini tuan teh nya, soal cemilannya sedang dalam proses" ucap Alisha seraya menaruh teh hangat di atas meja kerjanya William
"Rahasia dong tuan, tapi tuan pasti menyukainya nanti, saya jamin itu" ucap Alisha sedikit mengeluarkan aura kekanak-kanakannya
"Ya sudah terserah kau saja, pergi sana!" usir William dengan nada ketus mengibaskan tangannya
Alisha kembali tersenyum dan pergi dari sana
Sementara William hanya menatap kepergiannya dari balik meja kerjanya
'Apa yang ia buat? huhhh! tinggal katakan saja apa yang dia buat apa susahnya sih! bikin penasaran saja!' gumam William kesal dalam hatinya
Selang setengah jam kemudian tak kunjung Alisha datang ke ruang baca William
"Ckkk dia ini masak atau ketiduran sih?!" ujar William kesal
Sedari tadi ia terus saja melihat ke arah pintu berharap Alisha akan segera datang namun sampai sekarang ia belum datang juga
"Pasti dia sedang tidur di kamarnya, dasar kerbau!" ujarnya pula
Ekor matanya melihat lonceng di sudut mejanya kemudian meraihnya
"Kita lihat apa alasan mu nanti ya, aku akan memanggil ku menggunakan ini" ujarnya pula
"Tuan William!" ucap Alisha dari ambang pintu
__ADS_1
Seketika William mengalihkan pandangannya ke arah Alisha
Alisha yang tersenyum manis sembari memegang nampan berisikan sesuatu menghampirinya
"Kau ini masak atau tidur?! lama sekali!" ketus William mengalihkan pandangannya ke arah laptopnya
Dapat ia cium aroma sedap dari yang dibawa Alisha namun egonya yang lumayan tinggi membuatnya tak ingin melihat apa yang dimasak Alisha untuknya
"Maaf ya tuan, saya membuatkan anda ini, makanya agak lama" jawab Alisha ramah seraya menaruh sepiring kue yang telah ia potong
William melirik ke sampingnya, tepat ke arah kue itu
"Apa ini?" tanya William
"Cake, rainbow cake tuan, anda bisa kan memakannya?" ucap Alisha
"Aku tak terbiasa sih makan makanan manis, tapi untuk kali ini ya ku hargai masakan mu, terimakasih" ucap William menutup laptopnya dan menarik piring itu ke hadapannya
"Sama-sama tuan"
William pun menggarpu sepotong kue itu dan memakannya
'Enak' gumamnya ketika rasa rainbow cake itu meluncur ke lidahnya
"Bagaimana rasanya tuan?" tanya Alisha antusias
"Lumayan" jawab singkat William mengunyah cake yang sudah masuk mulutnya
"Baguslah kalau tuan menyukainya" gumam Alisha yang terdengar oleh William
William hanya meliriknya ketika ia bergumam sendiri
"Tuan, anda tahu tidak Rainbow Cake ini terinspirasi dari apa?" tebak Alisha duduk di lantai
"Duduk di sini, kau bukan budak" ujar William menggendikkan dagu ke arah kursi di sampingnya
Alisha pun langsung duduk di sana
"Tuan, anda belum menjawab pertanyaan saya tadi" ucap Alisha sedikit kesal karena sedari tadi William lahap memakan Cake nya
"Ya dari pelangi lah, namanya juga Rainbow Cake!" ketus William karena merasa terganggu
"Anda benar tuan, Rainbow Cake itu terinspirasi dari pelangi, kenapa? karena warnanya yang indah" ucap Alisha tersenyum
William yang menyantap Cake nya hanya menatap wajah Alisha
"Tuan tahu tidak, pelangi itu sangat indah lho, ada tujuh warna, mejikuhibiniu, merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu" cerita Alisha
"Kenapa kau malah bicara tentang pelangi?" tanya William tak mengerti dengan jalan cerita Alisha
Alisha terdiam sejenak dan meneduhkan pandangannya menatap wajah William
__ADS_1
"Hidup juga seperti itu tuan" jawab Alisha terdengar sangat tulus