
Sam sudah was-was melihat perubahan sikap Daren, ia melirik ke arah pintu yang terbuka agar nantinya jika ada apa-apa dengannya ia bisa langsung keluar
"Mmmmmaafkan saya tuan, bertanya sebelum berpikir" Sam berkata gagap melihat wajah Daren yang datar
Daren bangkit berdiri dan mengambil lukisan di dinding yang baru ia pajang
Ia menghela nafasnya dan menatap sendu ke arah lukisan itu
"Andai saja kau tahu Alisha, jika aku sudah mencintaimu sejak aku kecil" gumamnya memeluk erat lukisannya
Malam harinya
William yang sedang fokus di depan laptopnya di ruang tamu, kini semua barang-barang di kamarnya telah dipindahkan ke kamar Daren, serta berkas-berkas penting dan file di ruang bacanya juga dipindahkan ke ruangan kosong yang ada di lantai bawah kastil
Drrrtt....drrttttt....drrrtt
William mengambil ponselnya yang bergetar dari saku celananya
Ia menerima panggilan telfonnya dan menempelkan benda pipih itu ke telinga kanannya
"Hmm?" ucap William malas sambil terus fokus bekerja
"Kenapa kau tidak pernah menelfon ku? apa kau tidak merindukan ku?" ucap seseorang di sebrang sana
William menghela nafasnya dan menyeruput teh hangat
"Aku juga sedang sibuk Ren, kau pikir aku di sini hanya bermalas-malasan?" ujar William
"Hahahaha, iya iya, aku tahu kok, aku hanya bercanda saja, apa kau sudah menjalani terapinya?"
"Hmm" jawab William
"William, tak lama lagi aku akan kembali ke New York, kau mau aku bawakan apa?"
"Aku bukan orang miskin yang harus kau beri oleh-oleh saat kau pergi, kalau aku mau aku bisa saja membeli seluruh yang ada di New Zealand, yang aku mau hanyalah kau segera beri pelajaran bagi para penghianat itu" jawab William
"Ok ok, kau tenang saja, itu pasti"
"Hmm" William langsung menutup panggilan telfonnya secara sepihak dan menaruh ponselnya ke atas meja
Alisha yang membawa setumpuk baju William melewatinya dan hendak menaiki tangga
"Kau lupa ya kalau aku sudah pindah kamar?" tanya William dengan tatapan terus melihat ke laptopnya
Seketika Alisha menghentikan langkahnya dan menghadap tuannya yang tengah bekerja di ruang tamu
"Astaghfirullah, saya lupa tuan, maaf" ujar Alisha
"Hmm, mau kau apakan baju-baju ku?" William melirik sekilas ke arah Alisha
"Ini tuan, saya baru saja mengangkati baju-baju tuan yang sudah kering, rencananya saya akan langsung menyetrikanya dan melipatnya tuan" jawab Alisha
"Setrika saja di sini, mejanya masih luas" ujar William kembali menyeruput teh hangat
"Lho? kenapa tuan?"
__ADS_1
"Ckk sudahlah jangan banyak tanya kerjakan saja apa yang aku suruh!" ketus William
Alisha hanya menggelengkan kepalanya dan menaruh tumpukan baju-bajunya William di salah satu sofa dan pergi
Tak lama kemudian ia kembali dengan membawa kabel panjang dan setrika beserta keranjang baju
Alisha pun mulai bekerja di samping William yang tengah bekerja
Bedanya hanya Alisha mengerjakan pekerjaan rumahan sedangkan William mengerjakan tugas kantornya
William sesekali melirik Alisha di sampingnya melihat cekatannya ia dalam melipat baju-bajunya
Kemudian matanya berpindah menatap tumpukan baju-bajunya yang sudah terlipat rapi di dalam keranjang
"Tuan sudah selesai?" tanya Alisha ketika melihat tuannya itu melepas kacamatanya dan menutup laptopnya
"Hmm, aku mengantuk" jawab singkat William dan mendorong kursinya
"Mau saya dorong kan kursinya tuan?" tawar Alisha berdiri
"Tidak usah, kau lanjutkan saja pekerjaan mu, setelah selesai taruh saja di sana, besok saja kau taruh baju-baju ku ke dalam lemari" William pun melewati Alisha begitu saja
Alisha pun kembali duduk di sofa dan mengerjakan lagi pekerjaannya
Beberapa saat kemudian Alisha sudah menyelesaikan melipat baju-baju majikannya tersebut
"Aduh.. capeknya" gumamnya meregangkan otot-otot tubuhnya
Kemudian ia bersandar di sofa dan melirik jam dinding antik yang menunjukkan pukul 21.35
Kringgg....kringgg....kringggg......
Alisha pun langsung mengangkat telfon rumah yang ada di meja samping sofa tempat ia duduk itu
"Halo Assalamualaikum, di sini kediaman Killstove ada apa?" sapa ramah Alisha
"Hai Alisha"
"Eh Daren?" Alisha seketika terkejut ketika mendengar suara si penelpon
"Ya ini aku, apa kabarmu?"
"Hahaha kau ini selalu saja bertanya apa kabarku, kabarku baik-baik saja, aku kan hanya di kastil setiap harinya" jawab Alisha tertawa kecil
"Habisnya aku tidak punya bahan pembicaraan untuk berbicara padamu"
"Hahaha, terus kenapa kau menelfon ku jika kau tidak punya bahan pembicaraan?"
"Karena aku rindu padamu?"
Alisha membuka matanya lebar-lebar ketika mendengar suara Daren di telepon
Sontak ia tertawa
"Hahaha, aku juga rindu padamu" ujar Alisha tertawa
__ADS_1
"Benarkah kau juga merindukan ku?"
"Hmm, kau kan sahabat ku tentu saja aku merindukan mu dan juga semua curhatan mu" ujar Alisha mengangguk pelan
Tak ada jawaban dari Daren di telepon itu membuat Alisha melihat telepon di genggamannya
"Halo Daren?" tanya Alisha memastikan
Namun tetap tak ada jawaban dari Daren di telepon itu
"Daren, kau masih di sana kan?" kali ini Alisha mengeraskan sedikit suaranya
"Ah iya Alisha, aku masih di sini"
"Kau ini, membuat aku khawatir tadi kau kenapa-napa" ujar Alisha
"Alisha, apa aku boleh tanya sesuatu?"
Alisha mengerutkan keningnya dan menyeringai
"Kenapa kau harus meminta izin dulu, tanyalah" ucapnya
"Jika kita mencintai orang lain, apa yang harus kita lakukan, apakah harus datang langsung ke orangnya dan mengungkapkan perasaan?"
"Hmm sepertinya ada yang sedang jatuh cinta nih? kau jatuh cinta pada siapa?" Alisha menyilangkan kedua kakinya duduk bersila di sofa
"Pada sahabat masa kecilku"
"Oh ya? benarkah? apa kau sudah menemukannya?" mata Alisha berbinar-binar mendengar perkataan Daren tadi
"Ya, aku sudah menemukannya dan ternyata dia masih single"
"Wah, kalau begitu selamat Daren, ku rasa dia juga mencintaimu maka dia masih bisa bertahan sampai saat ini tanpa menikah" ucap Alisha merasa senang
"Benarkah? apa benar jika dia juga mencintai ku?"
"Ya, ku rasa begitu, apa kalian sudah bertemu?" tanya Alisha
"Ya, sering sekali, tapi aku tidak menyadarinya, bahkan aku pernah bersikap kurang baik padanya, tapi setelah aku tahu dia adalah teman masa kecilku, aku merubah semua sikap ku padanya"
"Apa? kau sering bertemu dengannya? siapa? apa teman di kantormu?" tebak Alisha
Daren terdiam sejenak
"Halo Daren, kok diam lagi sih, ada apa?"
"Jadi kau benar-benar tidak tahu siapa orangnya?"
"Ya tidaklah, aku saja di kastil terus setiap hari" Alisha mengerutkan keningnya mendengar perkataan Daren
"Ku pikir kau lah yang lebih tahu siapa orangnya daripada aku"
Tuttt tutttt tutt......
Alisha kembali mengerutkan keningnya ketika panggilan telfonnya diputus langsung oleh Daren
__ADS_1
"Ada apa dengan Daren?" gumamnya merasa heran