
Segelas Anggur
Aku duduk disebelah kak Fazo, sepertinya dia benar-benar tidak menyadari keberadaan ku yang ada di sampingnya. Aku diam cukup lama memperhatikan lelaki yang masih aku sayang ini, yang kini sudah ada pemiliknya.
Dia masih minum anggur, bahkan sepertinya dia sudah sangat banyak minum. Melihatnya yang seperti ini membuat aku teringat saat aku minum banyak di tempat ini untuk menghilangkan sedih.
Apa dia begitu sedih setelah menikah, bukan kah istri pilihan Tante Anita untunya sangat cantik dan berpendidikan. Lalu mengapa dia begitu sedih. Ada apa dengan kak Fazo.
"Kak Fazo" panggilku, tidak ada respont.
Aku mencoba memanggilnya beberapa kali tetapi kak Fazo hanya diam. Apa dia benar-benar sudah kehilangan kesadaran. Tapi dia masih begitu kuat untuk minum.
"Apa kakak begitu tidak bahagia?" tanyaku asal, yang sudah pasti tidak akan dijawab olehnya.
"Jika iya, mengapa harus menikahinya?" tanyaku lagi yang sama sekali tidak mengharapkan jawabannya.
Tapi ternyata setelah aku mengucapkan kata-kata itu, dia menaruh kembali segelas anggur yang akan diminumnya tadi.
"Karena kamu yang menginginkannya" dia kembali mengangkat gelas anggur itu dan meminumnya.
Aku masih tidak begitu mengerti maksud kata-katanya itu. Aku yang menginginkan, menginginkan apa? Aku terus bertanya pada diriku sendiri, tapi masih belum mendapatkan jawaban yang tepat.
"Aku tidak mengerti perkataan kakak" tanyaku padanya.
"Hmmm" lagi-lagi tidak ada jawaban darinya.
"Mengapa berada di tempat ini, bukankah seharusnya kakak menemani kak Ayu" tanyaku lagi.
__ADS_1
Aku melihat dirinya menarik nafas panjang, lagi-lagi dia minum segelas anggur sudah yang ke-8 kalinya minum selama aku berada disampingnya, tidak tau dia sudah minum berapa banyak sebelum aku datang.
Dia beralih memandangku dan menggenggam kedua tanganku di dadanya.
Mengapa dengan kak Fazo, aku ingin menolak dia menggenggam kedua tanganku ini. Karena terlihat tidak pantas, dirinya memiliki istri tetapi memegang tangan wanita lain.
Tapi aku mengurungkan niatanku untuk menolak. Saat aku melihat raut wajah Kak Fazo yang sangat terlihat sedih , membuat aku juga ikut merasakan kesedihannya.
"Mengapa meninggalkanku" ucapnya. Ah...kak Fazo biarlah seperti itu di dalam fikirannya, biar aku yang dipandang jahat di dalam matanya. Memang aku yang ingin pergi dari dirinya.
"Mengapa kau menyuruhku dengannya" ucapnya lagi. Aku mengerutkan kening mendengar ucapannya, menyuruhnya? bukan kah itu sudah perjodohan yang di lakukan kedua orang tuanya. Mengapa dia bilang aku menyuruhnya. Ah.. aku tidak pernah memaksa untuk dirinya menikahi wanita itu.
"Kembali padaku" kini kak Fazo mengecup kedua tanganku, membuat aku terkejut. Apa dia sudah banyak minum hingga membuat dia bicara sembarangan.
"Ayo kita pulang, kakak sudah banyak minum" ajakku. Tapi dia menolak, dan melepaskan kedua tanganku, lalu kembali menggenggam gelas anggur lagi.
"Menikah denganku Diva" lagi-lagi dia bergumam tanpa melihatku. Menikah denganmu, menjadikan aku istri kedua gitu, aku sama sekali tidak ingin. Aku juga tidak ingin menjawab setiap katanya itu.
"Ayo kita pulang" ajakku yang sudah kesekian kali, tapi dia tetap menolak. Aku berdiri menarik tangannya, tapi meski dirinya sudah setengah kehilangan kesadaran, tapi tenaganya untuk menolak masih tetap cukup kuat. Aku menarik nafas panjang.
"Baiklah jika kakak tidak mau pergi dari tempat ini, biar aku saja sendiri yang pergi." Aku membalikkan badan ingin beranjak dari tempat itu. Tapi saat ingin melangkahkan kaki, Kak Fazo tiba-tiba memelukku dari belakang. Apa lagi yang dia lakukan di tempat ramai seperti ini.
"Jangan tinggalkan aku" bisiknya di telingaku. Lagi-lagi aku menarik nafas panjang.
"Oke. Aku tidak meninggalkan kakak, tapi kakak harus menurut dengan Diva sekarang ayo kita pergi dari tempat ini" Aku berusaha membujuknya,tapi ternyata dia menganggukkan kepala bertanda dia setuju.
Segera aku lepaskan pelukannya itu, dan memapah tubuh besar kak Fazo yang sudah begitu lemas, tapi terasa sangat berat itu keluar dari club malam.
__ADS_1
Saat keluar dari pintu club malam itu, Pak Wu melihat aku memapah kak Fazo yang sangat berat. Segera pak Wu menghampiri dan mengambil alih tubuh tuannya itu memapahnya untuk memasuk kedalam mobil.
"Makasih pak Wu" ucapku, sembari memijat bahuku sendiri karena sakit saat memapah tubuh besar Kak Fazo tadi. Pak Wu hanya menganggukkan kepala sopan terhadapku.
"Oya pak Wu, tadi kak Fazo izin keluar kemana dengan om dan Tante?" tanyaku
"Tadi tuan mudah izin kekantor karena ada urusan mendadak" jawab pak Wu.
"Pekerjaan..." gumamku, hm....sepertinya kak Fazo benar-benar ingin menghindari malam pertamanya.
"Marin nona Diva saya antar pulang" ajak pak Wu.
"Tidak usah pak, Diva bawa kendaraan bisa pulang sendiri. Oh ya...pak, jangan antarkan kak Fazo pulang kerumah. Lebih baik bawa dia menginap di hotel saja. Om dan Tante pasti kawatir jika melihat kak Fazo pulang dengan keadaan seperti ini" jelasku pada Pak Wu, sudah pasti om dan Tante kawatir melihat kak Fazo seperti ini apa lagi kak Ayu jika melihat suaminya pulang dalam keadaan mabuk begini dimalam pertamanya.
"Baik nona Diva"
"Hm..satu lagi pak, tolong jangan bilang kesiapapun jika Kak Fazo berada di tempat ini bersamaku" Aku tidak ingin jika kami berdua masih dikira ada hubungan.
"Baik nona, saya permisi dulu" aku hanya menganggukkan kepala.
.
.
.
Bersambung......
__ADS_1