
Hotel
Permainan Hati
Brayen mengendong gadis itu sampai ke ruang kamar hotel, sebelumnya iya menyuruh Zan untuk pergi membeli pakaian wanita.
Brayen mengendong Diva memasuki kamar mandi, dia menaruh Diva di bawah shower, setelah itu tanpa fikir panjang iya pun menghidupkan shower. Brayen melakukan itu karena tak suka dengan aroma wine yang berada di tubuh gadis itu.
Diva yang mulai sedikit sadar karena rasa dingin di sekujur tubuhnya. Berusaha melihat sekitar dimana dirinya berada. Tapi dia masih lemah.
Brayen melihat gadis itu mulai kedinginan tapi masih belum sadar sepenuhnya.
"Uh...merepotkan" gumamnya melihat gadis dihadapannya. Dia mengeluarkan handphone dan menghubungi seseorang.
"Zan bawa 2 pelayan wanita kesini" perintahnya.
Tak lama Zan dan 2 pelayan wanita hotel itu tiba. Sebelum aba-aba dari Brayen yang sedang duduk di sofa, Zan menyuruh 2 pelayan itu untuk mengganti pakaian wanita yang ada di kamar mandi. Karena sudah lama berada disisi tuannya, Zan mengerti setiap hal yang akan di kerjakannya sebelum di perintah.
"Tuan wanita itu sudah berganti pakaian, saya juga sudah menyiapkan 1 kamar untuk wanita itu" kata Zan
" Tak perlu dia tidur di kamar ini, pergilah ke kamarmu" ujar Brayen pada Zan. Sedangkan Zan yang mendengarnya sangat terkejut.
"Sejak kapan lelaki dingin ini memberikan kesempatan pada wanita berada dikamarnya, dulu jangan kan di sentuh wanita, wanita mendekatinya saja cepat-cepat menghindar" gumam Zan dalam hati.
"Baiklah tuan saya permisi" Zan pergi dari hadapan tuannya, banyak pertanyaan yang ingin iya tanyakan tetapi mana punya keberanian dia mengucapkannya.
__ADS_1
Setelah kepergian Zan, Brayen berjalan mendekati gadis yang berada di atas kasurnya.
"Gadis poloskah" ucapnya dengan menyentuh lembut pipi gadis dihadapannya.
"Kak Fazo..." tiba-tiba Diva membuka mata dan melihat lelaki yang berada di hadapannya, karena kesadarannya belum sepenuhnya pulih, iya mengira lelaki itu adalah Fazo.
"Fazo?" gumam Brayen ketika mendengar gadis itu menyebutkan nama lelaki lain.
"Kak jangan tinggalkan Diva" dalam keadaan yang belum pulih Diva menangis dan memeluk Brayen yang dikiranya Fazo. Brayen merasa terkejut tapi entah mengapa dia malah semakin memeluk dan mencoba menenangkan gadis itu.
"Ow jadi nama mu Diva, dan lagi putus cinta ya" gumam Brayen setelah gadis itu tertidur lagi dalam pelukannya. Brayen tersenyum melihat gadis yang terlihat masih kecil kira-kira di bawah 5 tahun darinya itu, tapi wajahnya yang cantik membuat Brayen semakin tertarik.
###
Sinar matahari masuk dalam sela-sela korden yang melambai-lambai terkena angin, cahaya matahari yang menyilaukan itu membuat mata ingin menghindarinya.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa......." Diva terkejut melihatnya dan beranjak dari tempat tidur.
"uh....berisik sekali pagi-pagi begini" Brayen yang sedang tidur itu terbangun karena teriakan Diva.
"Siapa kamu?....dimana ini?kamu jangan macam-macam ya" tanya Diva
"Kamu istriku, kita lagi bulan madu di dalam hotel. Dan aku sudah menyentuh kamu" jawab Brayen, membuat Diva semakin panik mendengarnya. Diva melihat baju yang dikenakannya berbeda dengan baju yang di pakainya tadi malam.
"Istri siapa?bulan madu apa? dan ini mengapa pakaianku" suara hati Diva
__ADS_1
Diva jatuh di sofa dengan menggenggam pakaian yang dikenkannya dan menangis, Brayen yang melihat gadis itu menangis menjadi kawatir.
"kenapa gadis ini menangis" dalam hati Brayen.
"Kenapa kamu lakuin ini ke aku, bahkan aku tak mengenalmu" ucap Diva dalam isak tangisnya. Brayen mengerti akan pembicaraan gadis ini, dia pun tertawa mendengarnya. Tak menyangka gadis yang di tolongnya ini benar-benar polos.
"Sudah menangisinya, kamu percaya gitu aku menyentuhmu, dari atas sampai bawah saja kamu cocok seperti anakku, dan lihat lah bagian tubuh mana yang membuatku tergoda. ha..ha..ha" Brayen merasa senang mempermainkan gadis bernama Diva itu.
"Terus mengapa bajuku lain, dan mengapa kamu tidur di sebelahku" Diva merasa kesal, tapi masih ingin menyelidiki pria itu.
"Bukannya berterima kasih, kamu memberikanku pertanyaan yang tak penting itu" Brayen mendekati Diva yang duduk di sofa, dan memegang dagu Diva.
"Bagaimana kamu membalas, perbuatan baikku" kini wajah Diva dan Brayen sangat dekat. Diva dengan cepat membalingkan muka, mencoba menghindari tatapan tajam dari pria tak dikenalnya.
Diva pun beranjak dari tempat duduknya, berjalan mengambil tas miliknya yang berada di sebelah meja tempat tidur, ketika dia hendak pergi Brayen meraih tangan Diva, dan mendekatinya.
"Ada apa? biarkan aku pergi, anggap kita tak pernah berjumpa." Diva berusaha melepas genggaman Brayen, tapi Brayen menggenggamnya semakin kuat.
Brayen mendekatkan Diva pada dirinya, dan mencium kening Diva dengan lembut. Diva yang terkejut dengan sepontan mendorong tubuh Brayen, dan segera pergi dari hadapannya.
"Pria gila" begitu yang terdengar terakhir kali dari mulut Diva setelah pergi menjauh dari Brayen.
Sedangkan Brayen setelah kepergian Diva tertawa terbahak-bahak melihat wajah pucat Diva. Zan yang sudah berada di kamar Brayen tak lama setelah kepergian Diva merasa terkejut melihat tuannya itu tertawa.
"Kapan terakhir dia tertawa seperti ini" suara hati Zan
__ADS_1
"Cari informasi gadis yang bernama Diva itu Zan, aku ingin dia menjadi mainanku." perintah Zan.
"Baik tuan" begitulah kesetiaan Zan pada tuannya, semua perintah yang Brayen berikan selalu iya lakukan tanpa ada kata penolakan.