
Besok harinya, di depan rumah Dito. Adi serta Farah tersenyum menunggu Dito keluar. Dan ketika Dito keluar, dengan sopan dia langsung memberikan salam kepada Adi serta Farah yang telah menunggu. Namun saat Dito melihat kedatangan Maudy, dia berubah menjadi sedikit ketus.
"Kita sudah setuju, kan?" Tanya Dito.
"Ya. Kita sudah setuju. Kamu menyuruh kami untuk tidak membiarkan bayi itu mengganggu Ibunya" jelas Adi. Lalu dia bertanya kepada Maudy, apa bayi tersebut mengganggu Maudy. Dan Maudy langsung menjawab itu tidak sama sekali.
"Ibu tidak terganggu dengan bayinya. Jadi peraturan itu tidak berlaku, kan? Benar kan?" Tambah Farah kepada Dito. Lalu Farah memberikan tanda agar Maudy lebih mendekat kepada Dito.
"Aku membawa ini juga" kata Maudy sambil menunjukkan sesuatu kepada Dito.
"Asi Ibu. Sejak dia keluar dari rumah sakit. Maudy telah memompak ASI-nya untuk bayinya sepanja waktu" jelas Farah yang membantu Maudy.
"Aku ingin melakukan sesuatu untuk Bairam. Bisakah kamu menyetujui ku untuk masuk ke dalam dan melihat Bairam?" Tanya Maudy dengan sedikit ragu. Karena Dito hanya diam saja.
"Kami tidak mengundang nya. Dia ingin datang sendiri. Biarkan lah seorang Ibu untuk melihat bayinya, ya?" Kata Adi kepada Dito, membantu Maudy.
Jadi akhirnya Dito pun menerima Adi yang Maudy bawa. Lalu dia mengizinkan Maudy untuk bertemu dengan Bairam.
Didalam rumah. Saat Farah menggendong Bairam dan memperlihatkan kepadanya, Maudy sangat senang sekali. Dan melihat itu, Dito ikut tersenyum kecil. Namun saat Maudy ingin menggendong bayinya, maka Dito pun menjadi khawatir.
__ADS_1
"Aku akan berhati-hati" janji Maudy, yang menyadari itu.
Dengan penuh sayang, Maudy menggendong Bairam dan menanyakan apa Bairam mengingatnya. Dan tiba-tiba saja, Bairam menangis, sehingga Maudy menjadi kebingungan. Lalu Dito pun meminta Bairam dari gendongan Maudy. Dan dengan lembut, Dito menghibur anaknya, sehingga berhenti menangis.
Tapi melihat itu, Maudy tampak sedih. Mungkin karena dia merasa tidak mampu untuk menenangkan Bairam. Dan menyadari hal itu, Adi memegang bahu Maudy, untuk memberikan kekuatan kepada Maudy.
Disaat Maudy melihat Dito ingin membuatkan minuman untuk mereka. Maudy segera mendekat dan menawarkan diri untuk membantu Dito. Dan Dito pun membiarkan Maudy untuk membantunya. Lalu Dito pun membuka suara, dia menanyakan apa Maudy datang ke sini karena kedua orang tuanya, karena sebelumnya Maudy sama sekali tidak tampak seperti menginginkan bayi.
"Dan jika aku mengatakan bahwa aku menginginkan bayi itu sekarang?" Tanya Maudy.
"Itu lucu. Pertama kamu tidak mau, tapi kemudian kamu mau. Dan besok akan seperti apa mood mu?" Balas Dito tidak percaya dengan Maudy.
"Ya. Aku memang kejam. Aku ingin memastikan bahwa kamu disini, karena kamu benar-benar ingin melihat Bairam. Atau apa ada alasan yang lain" potong Dito.
Mendengar percakapan mereka berdua. Adi dan Farah pun mendekat. Adi menjelaskan bahwa alasan Maudy kesini adalah karena Maudy sendiri yang meminta untuk melihat bayinya, bukan karena paksaan dari mereka.
"Dito, kamu tahu aku tidak akan berbohong kan. Maudy sangat merindukan Bairam. Sejak kamu mengambil bayinya, Maudy mengalami masa yang sulit" jelas Adi. Dan karena baru mendengar semuanya Dito sangat terkejut dan diam.
"Aku sangat merindukan dia. Jadi bisakah kamu tolong memberikan kesempatan padaku untuk melakukan kewajiban seorang Ibu" jelas Maudy.
__ADS_1
"Aku tahu bahwa kamu masih marah. Tapi aku ingin kamu memikirkannya, bukan kah lebih baik bila Bairam memiliki Ibu dan Ayah?" Kata Farah yang membantu menyakinkan Dito.
"Jika kamu tidak mempercai Maudy. Maka berilah dia kesempatan untuk membuktikan dirinya. Aku mohon kepadamu" tambah Adi.
Diluar rumah. Maudy mulai mengomel dan mengeluhkan tentang Dito yang sama sekali tidak percaya bahwa dia juga mencintai Bairam, bayi mereka. Dan Farah pun menjelaskan bahwa Dito tidak salah, melainkan Maudy lah yang tidak mau sabaran sedikit.
"Jika kamu adalah Dito. Dan itu dilakukan padamu, akankah kamu melupakannya dengan mudah? Tidak mungkin kan?" Kata Farah, membicarakan tentang sikap kasar Maudy kepada Dito dulu. Namun Maudy tetap mengeluh, karena tidak terima.
"Lihatlah kamu. Baru lampu merah pertama saja kamu sudah menyerah" kata Farah lagi.
"Ayo. Aku akan berlatih menggendong Bairam. Jadi aku bisa menggendongnya nanti. Selanjutnya, Ayahnya itu tidak akan perlu menatap tajam padaku" kata Maudy dengan penuh tekad. Dan Farah serta Adi pun tersenyum senang melihat sikap Maudy.
See you next chapter
Jangan lupa :
Like 👍
Komen 💬
__ADS_1
Rating ⭐⭐