
Kamar
Permainan Hati
Masih dalam keadaan sedih, Diva selesai mengenakan pakaian yang kering terbaring di atas kasur sembari mengenang kembali hari-hari yang pernah dilewati bersama Fazo, beberapa album foto dalam kamar membuatnya semakin sulit untuk melupakan Fazo.
"Mana janjimu kak?" gumam Diva, teringat akan janji Fazo menikahinya selepas lulus Sekolah Menengah Kejuruan.
"Sayang mama masuk ea?" suara Adelia Lee mama Diva di balik pintu. Tanpa respon iya pun masuk dalam kamar yang tak terkunci itu, mendekati anaknya yang terlihat sedih. Lalu memeluk Diva, seakan merasakan apa yang sedang dirasakan anak remajanya.
"Jangan sedih lagi sayang, masih banyak diluar sana lelaki yang pantas bersama putri tercantik mama. Kamu tau kan ini semua untuk kebaikan kamu dan Fazo. Fazo itu umur yang sekarang sudah sepantasnya berumah tangga, dan kamu sendiri masih muda, masih perlu lanjut sekolah. Dan Fazo itu terlalu tua buat kamu sayang, dia pantas sebagai paman kamu" jelas mama Diva berusaha menenangkan, sembari mengusap lembut rambut anaknya.
"Ma...kata paman itu terlalu berlebihan, emang cinta harus memandang umur ya? mama kan tau kak Fazo baik sama Diva. Kenapa juga dari awal kalian gak larang hubungan kami, sudah sejauh ini baru kalian akhiri." Kesal Diva.
"Anak mama sudah semakin dewasa ya, cinta memang tak memandang umur. Tapi apa kamu tega melihat Fazo terus menunggu. apa setelah lulus nanti pun kamu mau langsung menikah, apa cita-cita kamu belajar di luar negeri sampai disini saja terlupakan."
"3tahun kedepan waktu yang singkat ma, kuliah di luar negeri setelah menikah juga gak jadi masalah. kak Fazo pasti bisa biyayain Diva." Diva masih tak ingin percaya atas keputusan kedua orang tuanya.
Mama Diva tersenyum mendengar kata-kata anaknya tersebut, mama Diva mengerti akan keinginan labil diusia putrinya yang masih muda , belum mengerti sepenuhnya akan apa itu cinta yang sebenarnya.
"Bukan bisa atau tidaknya Fazo biyayain kamu sayang. Tapi jika kamu menikah setelah itu pergi keluar negeri, sedangkan Fazo bekerja di dalam negeri. Itu berarti Fazo masih menunggu beberapa tahun lagi agar bisa bersama kamu. Walau setatus kalian sudah menikah tetapi jarak kalian yang jauh, apa kamu sanggup. Misalkan pun kamu sanggup, apa kamu tidak memikirkan perasaan Fazo dan keluarganya, terutama Tante Anita (ibu Fazo) yang ingin segera memiliki cucu" penjelasan mama Diva berusaha meyakinkan bahwa semua keputusan tersebut untuk kebaikan diri mereka masing-masing.
Diva terdiam mencerna penjelasan mamanya, Diva sendiri sebenarnya tau bahwa dia terlalu egois jika memaksakan egonya untuk mempertahankan Fazo.
Kring...........๐ถ๐ต๐ถ
__ADS_1
Pernah aku jatuh cinta
padamu sepenuh hati
matipun akan qu beri
apapun kanku lalui
๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ
tapi tak pernah ku bermimpi
kau tinggalkan aku pergi
ingin rasaku membenci๐ถ๐ต๐ถ
Suara handphone milik Diva berdering menghentikan percakapan ibu dan anak itu. Segera Diva melepaskan pelukan mamanya dan meraih handphone yang terletak tak jauh darinya. "kak Fazo" nama yang muncul dilayar handphonenya.
Mama Diva yang sekilas melihatnya, memberi ruang terhadap anaknya untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Selesaikan sayang, mama percaya kamu tau apa yang terbaik" mama Diva berjalan keluar kamar meningal kan Diva yang masih termenung melihat layar handphonenya. Tak lama dengan percaya diri Diva angkat panggilan dari Fazo.
"Hallo... Diva" suara yang tak asing bagi Diva. Diva terdiam dia tak menjawab sapaan Fazo. Hinga panggilan yang ke dua kali, menyadarkan Diva.
"Diva"
__ADS_1
"Iya kak"
"Kamu gak kenapa-kenapa kan, besok kakak mau jumpa Diva. Kakak jemput besok dirumah ya."
"Gak usah kak biar Diva pergi sendiri. Mau jumpa dimana?"
"Kamu gak papa pergi sendiri?" tanya Fazo cemas
"Gak papa kak"
"Ya sudah, kakak tunggu di tempat biasa ya"
"iya Diva bakal kesana jam 3 sore"
"Diva jangan pikirkan apa kata Tante, kakak menolak perjodohan itu, dan tetap akan bertahan sama hubungan kita" jelas Fazo menenangkan kekasih kecilnya itu karena dia tau Diva pasti terpukul akan keputusan orang tuanya.
Diva tak menjawab apa pun, segera Diva matikan handphonenya, Diva sudah tak sanggup berbincang terlalu lama dengan Fazo karena semakin membuatnya terasa sakit.
Mungkin pertemuannya besok adalah yang terakhir baginya. Diva telah memutuskan apa yang terbaik untuk dirinya dan Fazo. Mempersiapkan kekuatan dan ketegarannya untuk bertemu lelaki yang iya sayangi besok.
Lagi-lagi Diva hanyut dalam lamunannya. Air mata tak henti-henti keluar dari selaput matanya.
"Akan kah bisa melupakannya dengan mudah" gumamnya
"Akan kah ada yang lebih memahami ku dari padanya, Tuhan datang kan seseorang yang memang jodohku, agar bisa melupakan kak Fazo jika memang bukan dia yang akan bersamaku kelak" suara hati Diva yang bergejolak.
__ADS_1