Permainan Hati

Permainan Hati
#Perpisahan Eps.3


__ADS_3

Perpisahan


Permainan Hati


Disebuah taman kota yang sejuk di bawah pohon yang rindang duduk dua insan yang sedang merasakan gejolak dalam hatinya masing-masing. Kedua orang yang dipertemukan dan harus dipaksa untuk berpisah.


"Kita akhiri sampai disini kak, Diva mau kak Fazo memiliki masa depan yang bahagia" kalimat pembuka yang menusuk pendengaran Fazo yang berada duduk di sebelahnya.


"Diva jangan keluarkan kata-kata seperti itu" pinta Fazo


"Diva sudah bosan dengan semua ini, Diva ingin pergi mencari hal baru"


"Diva menyerah? apa dari awal Diva hanya main-main sama kakak?" seakan iya butuh penjelasan dari gadis kecil yang saat ini masih terlihat sangat cantik dari awal pertemuan yang membuatnya terpikat dulu, hingga saat ini kecantikannya tak pernah memudar.


"Ha...ha...ha, Diva masih muda....masih suka main-main. Selama ini Diva tak pernah menganggap serius hubungan ini, jadi kakak sendiri jangan terlalu dipikirin." bagai petir menyambar di teriknya panas, mendengar perkataan gadis kecil tersebut membuat Fazo terkejut.

__ADS_1


"Diva bercanda kan" Fazo masih belum percaya akan kata-kata gadis kecilnya itu.


"Diva gak bercanda, Diva gak mau nikah cepat. Diva juga hanya main-main, jadi kita akhiri sekarang disini tempat kita memulai dan disini pula tempat kita akhiri. Dari awal kan kita juga sudah seperti saudara, tak pantas kalau dibilang kekasih.Cepat nikah kak, Diva ingin punya keponakan dari kakak." dengan senyum manis yang berusaha di paksanya, walau apa yang dibilangnya tak sesuai dengan apa yang ada di dalam hati. Tapi dengan mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan dapat membuat Fazo membenci dan melupakannya, dengan itu Diva pun akan berusaha berlahan melupakannya juga.


Fazo masih memandang Diva dengan penuh kekecewaan atas kata-katanya, tapi mau bagaimana pun dia tulus menyayangi gadis kecil yang berada di hadapannya itu.


"Ini yang Diva mau, Diva tak memperdulikan perasaan kakak"


"Untuk apa memperdulikan perasaan orang yang Diva sendiri gak suka, sudahlah Diva selama ini hanya main, lupakan yang sudah berlalu." Diva berdiri beranjak akan pergi tapi tangannya tertahan dengan genggaman Fazo yang berada di belakang.


"Tidak" gengaman Fazo semakin kuat, membuat Diva merasakan kekecewaan yang dirasakan Fazo, kedua mata Diva sudah berkaca-kaca tapi masih berusaha untuk membendungnya, iya tak ingin memperlihatkan kerapuhannya di depan Fazo.


Fazo menarik tangan Diva dengan kuat, membuat Diva jatuh dalam pelukan Banu. Tinggi badan Fazo yang melebihi tinggi badan Diva, membuat Diva tengelam dalam dada Fazo, mendengarkan detak jantung Fazo yang tak beraturan.


"Kakak mohon untuk yang terakhir kali" mintanya pada Diva yang sudah ada dalam pelukannya, Fazo memeluk gadis kecil yang selama ini sangat disayanginya, dan belum rela untuk melepasnya.

__ADS_1


Diva hanya pasrah dalam pelukan itu, iya pun sebenarnya masih belum rela, apa lagi melepaskan orang yang selama ini menemaninya. Diva membalas pelukan Fazo, tanpa sadar yang sedari tadi dibendungnya akhirnya pecah dalam pelukan perpisahaan itu.


Fazo merasakan balasan pelukan gadis kecilnya itu, dia tau bahwa kata-kata yang dikeluarkan gadis kecilnya bukan keinginan dari dalam hati.


"Akankah kita masih bisa sedekat ini lagi kak" ucap Diva dalam hati.


Tak lama Diva melepaskan pelukan itu, Diva tak berani menatap mata Fazo langsung. Diva hanya menunduk dan berpaling dari Fazo pergi meninggalkan Fazo tanpa ada satu kata pun yang terucap lagi.


Fazo yang masih berdiri melihat sesosok gadis kecil itu pergi menjauh darinya, tanpa bisa iya hentikan atau pun mengucapkan selamat tinggal. Sampai sesosok gadis itu menghilang dari hadapannya.


Fazo duduk kembali di kursi panjang bawah pohon yang rindang itu. Menghela nafas panjang, seakan yang baru iya alami hanya mimpi. Bagaimana bisa gadis kecil itu selama ini mempermainkannya, iya tak habis-habisnya berfikir masih belum percaya.


Fazo melihat sekeliling taman itu, tempat dimana sering dia dan Diva kunjungi untuk menghirup udara segar, kini hanya tinggal dia sendiri tengelam dalam kenangan yang ada di taman itu.


Fazo berjalan mendekati pohon besar yang berada tak jauh darinya, melihat ukiran nama "Diva dan Fazo" nama yang pernah di ukir oleh Diva sewaktu saat pertama kali mereka jadian, karena hubungan mereka pertama kali terjalin di taman bawah pohon tersebut tepat saat ini Fazo berdiri, sudah 2tahun yang lalu dan nama itu masih ada.

__ADS_1


"Siapa pun tak boleh memilikimu" gumam Fazo melihat ukiran nama tersebut, lalu iya pergi meninggalkan tempat itu.


__ADS_2