Permainan Hati

Permainan Hati
#Pertemuan ke-2 Eps.8


__ADS_3

Pertemuan ke-2


Penantian buta itu terhempas begitu saja, entah keberanian dari mana dapat menyaksikan ini semua. Tiba-Tiba dadaku terasa sesak, apa yang sudah terlewati kembali teringat dan menari-nari di angan, mempermainkan ku seakan menyuruhku untuk mengingkari apa yang sudah menjadi keputusan sebelumnya.


Air mata yang susah untuk dibendung ini, menyusup ke sela-sela kelopok mataku yang lelah. Terdengar bergema keseluruh ruangan janji suci yang diucapkan kedua orang yang menjadi sorotan mata banyak orang itu.


Terlihat kebahagiaan terpancar dari setiap wajah para tamu undangan yang menghadiri. Hanya aku dan dia yang beberapa kali saling pandang dari jarak jauh memberi isyarat rasa tidak ingin melepaskan.


"Hapus air matamu sayang" tegur mama, Aku meraih tisu yang diberikannya.


Segera ku putuskan untuk keluar dari ruangan itu. Hancur? siapa yang hatinya lebih hancur dia atau aku? Siapa yang lebih terluka, dia atau aku? air bening itu benar-benar memaksa untuk keluar. Tangisku pecah kembali, semua benar-benar diluar dugaan, padahal aku sudah mempersiapkan untuk segala resiko yang ada.


Ironisnya aku tetap menghadiri pernikahannya, walau diri sendiri sebenarnya tidak sanggup.


"Seharusnya aku yang berada di sampingmu kak"


Aku benar-benar sendiri ditanam,dekat aula pernikahan kak Fazo, mataku terasa berat, aku merasa terbang entah kemana. Sampai akhirnya satu suara tidak asing itu menyadarkanku.


"Wah ternyata benar-benar wanita itu kamu, aku kira salah lihat tadi"ucap pria itu, yang aku rasa peranah melihatnya, dia duduk di sebelahku.


"Putus cinta ya?" tanya pria itu dengan mengusap air mataku menggunakan sapu tangannya seakan dia tahu apa yang sedang aku alami.


Aku baru teringat siapa pria di sampingku ini.


"Kamu..." aku mengerutkan kening melihat pria yang beberapa bulan lalu berada di kamar hotel bersama denganku.

__ADS_1


"Ngpain kamu disini, apa jangan-jangan kamu menguntit ku ya" aku ingin segera pergi dari tempat itu, tetapi dia menahan aku sehingga membuatku tidak bisa untuk bangkit.


"Ha..ha..ha yang benar saja aku menguntit mu. Kau benar-benar putus cinta?" tanyanya lagi.


"Bukan urusanmu"


"Berarti benar dugaan ku. Untung kamu tidak coba bunuh diri" aku mengerutkan keningku melihat kearahnya ingin rasanya mulut itu aku bungkam pakai solasi.


"Sudah lah kan masih ada aku yang menemanimu" lanjutnya, kini tangan pria itu merangkul kepundakku, membuat aku merasa terganggu. Aku mencoba melepasnya tapi tenaganya itu membuat aku lelah sendiri.


"Mohon tuan jaga sikap anda, saya tidak kenal dan tidak dekat dengan anda. Tidak usah sok akrab gini deh" keluhku padanya. Tapi dia malah semakin senang melihatku mengucapkan kata-kata itu. Sungguh pria aneh.


"Kita kan sudah tidur bersama berarti sudah dibilang kita sangat akrab" uh...pria ini membuat aku teringat akan kejadian itu lagi,membuat aku semakin kesal. Aku hanya diam tidak menghiraukan ucapannya itu.


Aku menyandarkan tubuhku ke belakang kursi dengan tangan pria itu tetap masih merangkul dipundakku. Membuatku sedikit tidak nyaman untuk bersandar kebelakang kursi. Mungkin karena dia yang menyadari ketidak nyamanan ku, menarik diriku hingga bersandar kepundaknya. Aku tidak menolak, karena aku memang benar-benar kini butuh sandaran.


"Semua pasti akan meninggalkanmu terutama kematian. Kecuali aku, aku akan tunggu kamu mati duluan supaya bukan aku yang meninggalkanmu." jawabnya, seketika aku tertawa mendengar ucapan pria itu, kini aku merasa sedikit lebih baik karena dia.


"Kita bertemu untuk ke dua kalinya, sepertinya kita berjodoh" gumam pria itu yang masih terdengar olehku.


"Uh...ini hanya kebetulan, aku berharap tidak akan bertemu denganmu lagi" aku menjauh dari bahunya yang beberapa saat lalu sangat nyaman. Melepaskan tangan yang merangkul di pundak ku yang sudah tidak memegangku dengan erat. Bangkit dan pergi menjauh darinya yang masih duduk itu.


" Jika kita bertemu untuk yang ke tiga kalinya berarti kau memang jodohku" teriak pria itu.


"Jangan banyak bermimpi di siang hari" Aku tidak menoleh kearahnya, aku tetap berjalan menjauh darinya.

__ADS_1


Aku berharap untuk tidak bertemu dengan pria itu lagi sampai kapanpun. Biarlah ini untuk yang terakhir kalinya. Aku kembali memasuki aula pernikahan kak Fazo. Aku tidak ingin membuat mama dan papa mencari ku karena tiba-tiba pergi dari aula itu tadi.


"Dari mana kamu Diva" tanya papa padaku


"Maaf pa, tadi Diva cari udara segar di taman. Disini terlalu ramai Diva sedikit pusing"


"Ya, sudah kita jumpa dengan om Ando dulu dan pengantinnya, untuk menghormati mereka. Setelah itu kita izin untuk pulang" Ucap papa. Sebenarnya aku benar-benar sangat malas untuk bertemu mantan kekasih ku itu. Tapi tidak mungkin aku pergi begitu saja, aku tetap harus menjaga nama baik papa dengan tidak merusak silaturahmi dua keluarga ini.


Tapi sebelum kami akan menghampiri keluarga om Ando, mereka sudah duluan berjalan kearah kami, papa segera menyambut kehadiran mereka dengan akrab seperti biasa mereka bertemu. Mama papa berkali-kali mengucapkan selamat pada keluarga om Ando terutama ke dua pengantin itu.


"Sayang bagaimana dengan sekolahmu" tanya Tante Anita yang tiba-tiba mendekat dan mengusap pipiku dengan lembut. Dengan cepat aku memberikan senyuman terbaikku dihadapan mereka terutama pada Tante Anita, yang sudah seperti mama kedua ku ini.


"Baik Tante" jawabku


"Sekolah yang rajin ya sayang. Oh ya kenalkan sayang ini kak Ayu istri kak Fazo, sekarang sudah menjadi kakak ipar kamu. Ayu ini Diva sudah seperti salah satu keluarga kita dan adik kesayangan Fazo. Tante harap kalian berdua bisa akrab" jelas Tante Anita untuk memperkenalkan ku denga perempuan di samping kak Fazo yang bernama Ayu dan begitu sebaliknya.


"Wah adik ipar lucu dan cantik sekali, pasti kita bisa sangat akrab kedepannya" ucap Ayu, yang kini sudah menggenggam kedua tanganku. Perempuan pilihan Tante Anita ini sangat cantik, nampak begitu dewasa sangat pantas dengan kak Fazo, bahkan terlihat sangat ramah dan mudah akrab dengan siapa pun.


Tidak heran jika Tante Anita menjodohkannya dengan kak Fazo. Bahkan saat pernikahannya tadi pun sangat serasi sekali saat mereka berdua berjalan beriringan. Membuat siapa pun yang melihat sangat takjub.


"Iya kak. Selamat ya untuk pernikahannya. Semoga cepat mendapatkan momongan. Diva sudah tidak sabar punya keponakan dari kakak dan kak Fazo" ucapku dengan begitu lancar. Membuat kak Ayu tersenyum malu, sedangkan yang lainnya masih sibuk berbincang. Sekilas aku melihat kearah kak Fazo yang sedang memandang kearah aku dan kak Ayu dengan mengerutkan keningnya saat aku mengucapkan kata-kata tadi.


Entah apa yang salah dengan kata-kataku hingga membuatnya sedikit kesal itu.


***Jangan lupa di like guys😘😘 vote ya 🙏🙏

__ADS_1


Jangan lupa komennya juga, kasih kritikan untuk novel baru ini. Supaya Author mengetahui letak kesalahan yang harus diperbaiki kedepannya. 😂***


__ADS_2