
Aku masih memandang mobil itu berlalu pergi jauh meninggalkan tempat saat ini aku berdiri. Apa jadinya bila om dan Tante Anita melihat anak lelaki satu-satunya dalam kondisi seperti ini. Putranya yang selalu berbuat baik dan tidak pernah melakukan hal-hal seperti ini, kini datang ke club malam sampai mabuk.
Apa mereka akan menyesal sudah membuat putranya itu berlahan mulai berubah dan merasa sangat sedih karena keputusan mereka. Atau bisa jadi mereka tidak memikirkan perasaan putranya.
Ah tapi setiap orang tua pasti ingin anak-anaknya bahagia begitupun om dan Tante Anita. Hanya saja mungkin kak Fazo belum sepenuhnya menerima keputusan kedua orang tuanya itu.
Jika aku dan kak Fazo mengikuti ego kami sekarang, yang tersakiti bukan hanya kedua orang tuaku dan kedua orang tuanya. Tapi yang akan menjadi korban pertama dari ego kami adalah kak Ayu, dia yang akan merasa paling tersakiti.
Saat melihat kak Ayu di pernikahannya tadi, dia begitu sangat tulus mencintai kak Fazo terlihat dari kedua matanya saat memandang ke arah Kak Fazo, padahal mereka menikah karena perjodohan. Tapi lain halnya dengan kak Fazo yang masih belum bisa merasakan ketulusan kak Ayu, dan masih terjebak dengan perasaannya terhadapku.
Dalam hatiku tidak bisa di bohongi, bahwa aku masih merasa sangat senang jika kak Fazo masih memiliki perasaan terhadapku, menandakan bawa dia tidak mudah melupakan aku.
Tapi aku juga sedih jika kak Fazo akan seperti itu terus, malah akan menambah luka dihatinya. Ah...tapi berjalannya waktu aku yakin dia pasti bisa menerima keberadaan kak Ayu sebagai istrinya yang sekarang. Dan aku yakin Kak Ayu bisa menjaganya.
Aku membalikkan tubuhku, lalu berjalan kearah parkiran dimana Honda milikku berada. Aku mengenakan helm dan menaiki Honda itu, lalu pergi meninggalkan club malam.
###
Di posisi lain, terlihat seorang pria berdiri sembari bersender ke dinding depan pintu club malam, yang sudah sedari tadi berada disana, dengan memandang ke arah Diva berada. Saat Diva pergi meninggalkan club malam, iya pun beranjak pergi juga masuk kedalam club malam dengan terpancar senyuman dibibirnya.
Dia memasuki salah satu ruangan di dalam club malam itu. Dan merebahkan tubuhnya kasar keatas sofa sembari tertawa. Dia meraba kantong celananya dengan berusaha meraih sesuatu. Ternyata dia mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya.
Dia membuka layar ponsel mencari nomor orang lain di dalam ponselnya setelah menemukan nomor yang dicari, dia segera menghubungi nomor itu.
"Tebak aku melihat siapa?" ucap pria itu setelah panggilannya terhubung.
__ADS_1
"Jika kau ingin main tebak-tebakan aku tidak ada waktu" jawab seseorang dibalik panggilan itu.
"Oke...oke jangan marah seperti itu dong" kini pria itu sudah duduk di sofa mengambil segelas kopi yang berada di depan mejanya.
"Cepat katakan, aku sedang sibuk" perintah seseorang di balik panggilan. Pria itu menaruh kembali segelas kopi yang telah diminumnya itu keatas meja.
"Wanita yang kau tolong waktu itu, datang lagi ke club malamku ini" jelas pria yang ternyata pemilik club malam ini yaitu Gibran. Dan sudah jelas jika yang ada dalam panggilan itu adalah Brayen.
"Kau menghubungiku hanya untuk menyampaikan ini"
"Bukan kah kau peduli dengan wanita itu" tanya Gibran.
"Tidak" jawab Brayen singkat, membuat Gibran mengerutkan kening.
"Hm, jika tidak mengapa kau menolongnya?" tanya Gibran lagi penasaran.
"Uh sia-sia aku memata-matai wanita itu tadi, jika Brayen tidak peduli dengannya. Membuang waktu ku saja." Gumam Gibran.
Saat Diva masuk kedalam club malam tadi tanpa sengaja Gibran melihatnya. Awalnya Gibran tidak terlalu peduli dengan wanita yang pernah ditolong temannya itu beberapa waktu lalu.
Tetapi saat Diva mendekati salah satu pria disana, baru segala pikiran yang berada di kepala Gibran membuatnya menjadi penasaran sehingga Gibran memata-matai gerak gerik Diva dengan pria lain itu. Dengan alasan dapat memberi tahu pada Brayen dan untuk bahan mengejek temannya itu.
Tetapi malah Brayen tidak peduli saat dirinya memberi tahu tentang wanita itu. Membuat Gibran kesan karena capek dari dalam club malam sampai di luar club malam memata-matai mereka.
Kring....
__ADS_1
Saat Gibran masih dalam keadaan menikmati kopinya, satu pesan masuk dari ponselnya. Segera dia membuka pesan yang ternyata dari Brayen.
"Dengan siapa dia datang ketempat itu?" isi pesan Brayen. Kini yang tadinya Gibran merasa kesal menjadi tertawa puas melihat isi pesan dari temannya itu.
"Hahaha....kau bilang tidak peduli, tapi masih bertanya dirinya datang dengan siapa" gumam Gibran.
"Bukan urusanmu, dia datang dengan siapa" isi pesan balasan yang aku kirimkan pada Brayen.
"Biar kau penasaran, dan memohon padaku. Ha...ha...ha" gumam Gibran, yang kini sedang merasa sangat senang, akhirnya memata-matai wanita itu berguna juga.
"Kau mau apa, katakan" satu pesan lagi masuk dari Brayen. Ini yang diharapkan oleh Gibran.
"10juta" pesan yang Gibran kirim.
Sepuluh menit berlalu masuk satu pesan bukti transferan ke rekening Gibran senilai 10 juta.
"Wah benar-benar dia mengirimkan uang yang aku minta, ha..ha..ha sepertinya dia benar-benar peduli dengan wanita itu. Ah..mengapa aku hanya meminta 10 juta, tau dia akan menanggapi permintaanku itu, tadi aku akan meminta padanya 2milyar. Oke, lain kali jika ada yang seperti ini lagi aku akan meminta jumlah itu padamu. Hahaha" gumam Gibran. Lalu dia mengirimkan pesan pada Brayen.
"Thank's bro, kiriman uangnya. Wanita itu tadi datang sendiri. Tapi dia kesini mendatangi laki-laki."
Setelah itu tidak ada balasan lagi dari Brayen.
.
.
__ADS_1
.