
Undangan
Permainan Hati
Sebulan berlalu Brayen duduk di dalam ruang kantornya. Bersandar pada sofa dan mengangkat kakinya pada meja yang berada tepat didepannya, tak luput dari sekertaris Zan berdiri disebelahnya.
Beberapa hari ini Brayen masih belum bisa melupakan gadis bernama Diva yang di tolongnya. Jika mengingatnya dia selalu tersenyum akan kejadian yang dialami bersama gadis itu.
"Zan apa kau sudah menemukan informasi gadis itu" tanya Brayen pada Zan
"Sudah tuan, Namanya Diva Tri Lee, Putri ke tiga dari Cakra Lee. Merupakan penerus perusahaan Lee. Tapi karena masih sekolah, jadi pemegang perusahaan itu masih Ayahnya." jelas Zan
"Selain itu, yang aku suruh kamu cari tau mengapa dia ada di club malam"
Zan terdiam sejenak dia berpikir mengapa tuannya ini penasaran dengan wanita itu. Apa yang membuatnya sangat tertarik hingga menyuruhnya mencari informasi.
"Nona Diva mempunyai masalah dalam hubungan percintaannya" sebelum Zan meneruskan Brayen memotong pembicaraannya.
"Wah...wah...ternyata gadis itu tak sepolos yang terlihat. Lanjutkan apa saja yang kamu ketahui" Zan melanjutkan kembali.
"Nona Diva memiliki hubungan yang jauh di atasnya 12 tahun, sehingga dia harus memutuskannya karena lelaki itu telah di jodohkan. Malam itu nona Diva pergi ke club untuk menenangkan diri"
"Dia bukan menenangkan diri tapi mencari masalah" gumam Brayen yang masih terdengar oleh Zan.
__ADS_1
Zan sangat hebat dalam melacak seseorang apa lagi mencari informasi yang sifatnya pribadi,dia memiliki koneksi yang luas. Sehingga Brayen mengangkat Zan menjadi sekertaris pribadinya, karena sangat dapat di andalkan.
"Berjarak 12 tahun selera dia sungguh tak bisa di tebak" lanjutnya
Selera anda juga kini susah ditebak tuan, sejak kapan anda ingin tahu tentang orang lain. Banyak gadis yang lebih menggoda tapi anda tak pernah bergeming, melihat sekali nona Diva membuat anda penasaran. Suara hati Zan
"Apa jadwal untuk hari ini?" tanya Brayen, Kini Brayen beranjak dari sofa mendekati kursi kerjanya.
"10 menit lagi tuan ada miting dengan Perusahaan AZ, nanti malam ada perjamuan bisnis di kediaman keluarga Yuan, setelah itu tuan tak ada jadwal kerja lagi . Oya, tuan tadi kakak sepupu anda memberi kabar kalau seminggu lagi acara pernikahannya akan di adakan. Dia mengharapkan tuan hadir." ucap Zan memberikan informasi
"Menikah, dengan keluarga mana?" tanya Brayen lagi.
"Dengan keluarga Zhank"
"Baik Tuan"
"*Satu lagi Zan, beli saham perusahaan Lee. Tak perlu seluruhnya cukup 15%"
"Baik tuan"* Lagi-lagi Zan tak tau apa yang akan dilakukan tuannya ini. Jangankan membeli saham seluruh perusahaan Lee, membuat bangkrut perusahaan Lee dalam satu malam pun iya sanggup.
"Apa yang kau lakukan nona Diva, hingga mempunyai masalah dengan tuan muda ini. Bahkan nyawamu pun bisa melayang karena berurusan dengannya" suara hati Zan
###
__ADS_1
Diva menatap selembar kertas undangan yang berada di genggamannya. Terlihat sangat indah, dia membuka lipatan undangan itu terlihat tulisan nama terukir. Nama yang sangat iya kenal. Diva tersenyum melihatnya. Senyum bahagia kah? ya ......mungkin saja karena kalau sedih pun dia tak meneteskan air mata.
"Kau masih sedih Diva" tanya Hanum padanya, kini Diva dan Hanum berada di asrama, mereka melanjutkan sekolah yang sama. Hanum satu-satunya sahabat yang dekat dengan Diva segala hal Diva selalu memberi tahu Hanum. Karena itu Hanum tau setiap permasalahan sahabatnya itu dengan Fazo.
"Tidak aku bahagia melihatnya menikah" jawab Diva masih dengan senyumnya.
Hanum tau meski terukir senyum di wajah Diva tapi hatinya tak bisa dibohongi kalau dirinya sangat sedih. Hanum memeluk sahabatnya itu.
"Kamu seperti **** jika memperlihatkan senyum palsumu itu" ucap Hanum menghibur Diva, Diva pun melepaskan pelukan Hanum lalu melemparkan boneka yang berada disisinya.
"Hanum......" teriak Diva
"Lihat lah, kalau kamu marah sangat-sangat mirip" ejek Hanum lagi. Mereka ribut hinga terdengar suara tawa antara mereka.
"Apa kau akan hadir?" tanya Hanum pada Diva setelah mereka lelah ribut.
"Tentu saja aku hadir, bagaimana pun dia sudah seperti kakak" jelas Diva
"Kakak kok kejebak perasaan" ejek Hanum lagi, tapi Diva tak merespontnya. Dia hanya duduk memandang keluar jendela yang terlihat pepohonan dari lantai 3 asramanya.
"Bagaimana lelaki yang di hotel " tanya Hanum memecahkan keheningan , seperti yang tadi sudah dibilang setiap hal pasti Diva menceritakan pada Hanum terutama pria mesum itu.
"Seumur hidup pun aku sungguh tak ingin berjumpa dengannya" ucap Diva terlihat kesal. Hanum pun terdiam.
__ADS_1