
Kecewa
Permainan Hati
Diva berjalan memasuki pekarangan rumah, dia benar-benar merasa kesal atas apa yang terjadi padanya. Entah apa yang dia lakukan tadi malam bersama pria yang iya tak kenal di dalam hotel.
"Dasar pria ********, bagaimana bisa dia mengambil ciuman pertamaku." gumamnya jika teringat akan kejadian pagi ini. Diva memang sudah lama berhubungan dengan Fazo tapi tak pernah sekali pun iya menciumnya, sehingga ciuman pertamanya di rampas oleh lelaki tak dikenal.
"Oh...sial apa aku kini sudah tak perawan" gumamnya lagi, sepanjang perjalanannya kerumah sudah berapa kali dia memaki pria yang tidur bersamanya itu.
"Jangan-jangan dia benar-benar pria mesum dalam club tadi malam" Diva baru teringat akan kejadian tadi malam yang di paksa oleh beberapa pria mesum, tapi tak terlalu jelas muka yang memaksanya dan tak lama kehilangan kesadaran. Sehingga dia tak tau yang sebenarnya terjadi.
Saat melangkah di depan pintu, mamanya menghampiri terlihat dari raut wajahnya sangat kawatir melihat putrinya yang tadi malam tak pulang itu.
"Sayang semalaman ini kamu kemana saja, mama kawatir, papa juga menghubungi Fazo dia bilang tak bersamamu lagi semenjak terakhir kali berpisah di taman" ucap mamanya
"Apa yang mau aku katakan, yang benar saja aku bilang tidur di hotel bersama pria tak dikenal" suara hati Diva, dia pun memutar otaknya itu mencari alasan yang tepat.
"Diva pergi kerumah Hanum ma, tadi malam Diva ketiduran disana jadi lupa menghubungi mama dan papa, maafkan Diva ya ma" Ya mau bagaimana lagi hanya bisa memakai nama temannya Hanum sebagai alasan.
"Sayang lain kali jangan buat mama kawatir lagi ya?" mama Diva pun percaya dengan penjelasan putrinya itu.
"Iya udah ma Diva pergi ke atas dulu ya mau mandi"
"Oke sayang, cepat datang kebawah mama sudah siapkan sarapan"
"Oke ma..." Diva pun pergi meninggalkan mamanya.
__ADS_1
###
Di lain sisi semenjak om Cakra Lee ayah Diva menghubungi Fazo menanyakan keberadaan Diva, Fazo pun tak kalah khawatirnya. Sepanjang malam dia mencari keberadaan Diva, dari tempat-tempat yang sering di kunjungi Diva hingga menghubungi teman-teman yang dekat dengan Diva bahkan Hanum teman yang paling dekat dengannya, tapi tak ada yang mengetahuinya. Puluhan kali dia menghubungi ponsel Diva tapi nomornya tak aktif. Semakin membuatnya kawatir.
Pagi ini Fazo menerima pesan dari mama Diva.
"Fazo, Diva sudah pulang ternyata tadi malam dia menginap dirumah Hanum" begitulah isi pesan dari mama Diva. Fazo mengerutkan keningnya.
"Yang benar saja dia menginap dirumah Hanum, saat aku menghubungi Hanum dia bilang Diva tak bersamanya. Dimana kamu sebenarnya Diva sampai berbohong dengan orang tuamu" gumamnya sembari menghela nafas panjang.
Hal-hal buruk melintas dalam fikiran Fazo tentang gadis yang disayanginya itu. Tak pernah iya seperti ini sebelumnya. Tanpa fikir panjang Fazo pun mengirimkan pesan pada Diva.
"Di mana kamu tadi malam, kamu tidak menginap dirumah Hanum kan?" pesan yang terkirim. Tak lama setelahnya pesan masuk dari Diva
"Club malam" begitulah pesannya, lagi-lagi Fazo pengerutkan keningnya. Antara percaya dan tidak percaya.
"Tidur di hotel" pesan yang singkat tapi membuat detak jantung Fazo semakin tak beraturan. Dengan keberaniannya sekali lagi dia bertanya pada Diva.
"Dengan siapa?" pesannya terkirim, tapi cukup lama balasan dari Diva. Fazo masih menatap handphonenya, menunggu dengan harapan apa yang dipikirkannya kini tak terjadi.
Setengah jam Fazo menunggu pesan dari Diva pun masuk, dengan tangan gemetar Fazo membuka pesan itu.
"Dengan pria tak dikenal" begitu lah balasan Diva, Fazo yang marah membalas pesan Diva.
"Murahan" pesan terakhir dari Fazo yang terkirim pada Diva.
Fazo meremas handphone miliknya dan melemparnya dengan kuat dilantai. Terlihat rasa kecewanya terhadap Diva. Kepalan tangannya menghantam dinding kamar hingga darah menetes pada kepalan tangannya.
__ADS_1
"Brengsek" begitulah teriaknya. Dia duduk lemas memegang kepala dengan kedua tangannya.
###
"Murahan..." gumam Diva membaca pesan yang dikirimkan Fazo. Bibir Diva tersenyum tetapi matanya berkaca-kaca saat kedua matanya terpejam mengalir butiran air di sela-sela matanya terpejam.
"Biarkan kakak berfikir seperti itu, biar kakak kecewa sampai membenciku. Dengan begitu lebih mudah bagimu melepaskan aku." Suara hati Diva.
Air mata yang jatuh berkali-kali, hati yang tergores berkali-kali. Akankah ada seseorang yang dapat menghibur dan menambal goresan luka dihatinya.
Matanya terbuka, tangannya meraih foto terbingkai di sebelah meja tempat tidurnya. Diva menyentuh foto dirinya dan Fazo. Lagi-lagi dia tersenyum tapi air matanya masih menetes.
"Aku murahan....ya.... mungkin kini aku sudah sebagai wanita murahan dimatamu" gumamnya lagi dengan tawa, entah tawa bahagia,sedih,kecewa semuanya bercampur aduk tak bisa dijelaskan.
Dia lelah, sudah banyak air mata yang jatuh beberapa hari ini. Dia bangkit dari duduknya, mengambil sebuah kota besar dan mengumpulkan beberapa barang yang ada di sana . Boneka,baju,buku pemberian dari Fazo disimpan di dalam kotak itu bahkan album foto yang ada kaitannya dengan Fazo iya simpan juga dalam kotak.
Diva ingin bangkit dari keterpurukan ini, ingin kembali ceria seperti dulu. Dia berusaha menyemangati diri sendiri. Melupakan hal-hal yang membuatnya sedih. Dia mengusap air matanya, tersenyum sembari menutup kotak yang telah terisi barang-barang dari Fazo.
"Good Bay" gumamnya.
"Bi Yun" pangil Diva, tak lama pembantunya itu muncul dari balik pintu.
"Iya non Diva"
"Bawa kotak ini ke gudang bi" perintah Diva pada pembantunya itu.
"Baik non" Bi Yun segera mengambil kotak itu dan pergi meninggalkan Diva. Setelah kepergian Bi Yun Diva kembali merebahkan badannya di atas kasur.
__ADS_1