
Di dalam mobil...
"Memang siapa yang telepon mah? Kenapa kamu panik gitu?". Tanya papa Soni.
"Bunga sakit pah, tadi yang telepon itu Rio. Dia di rawat di rumah sakit XX. Demam tinggi banget pah bunga. Ya tuhan mama merasa bersalah sekali dengan anak itu pah. Kenapa agham begitu tega sama bunga pah. Mama pun bisa merasakan sakitnya bunga. Apalagi jeng mika sampai meregang nyawa. Sungguh mama merasa bersalah sekali pah". Ucap mama mirza terisak di sebelah suaminya.
"Sudah mah, mungkin memang ini semua takdir dan ujian untuk kita dan untuk bunga. Papa juga kasihan melihat bunga, dia sudah papa anggap anak sendiri. Dia pasti terpukul sekali dengan kejadian yang menimpa nya".
"Iyaa makanya mama langsung ingin jenguk bunga".
Setelah sampai di rumah sakit, mereka langsung bergegas menuju kamar rawat bunga yang sebelumnya sudah diberi tau oleh papa rio.
Ceklekk ...
"Assalamualaikum rio". Ucap papa soni
"Waalaikumsalam, kalian datang juga"
"Rio, maafin anak saya yaa. Saya benar benar malu dengan kelakuan anak itu. Bunga sampai sakit begini" pecah tangis mama mirza saat melihat kondisi bunga yang masih terpejam dengan selang infus dan tubuh memerah akibat panas tinggi.
"Sudah lah mirza, mungkin ini ujian untuk putriku. Sudah takdir dari tuhan, kita gak bisa marah dengan takdir yang sudah di gariskan untuk kita". Papa rio bijak.
"Panas nya tinggi banget yaa Allah". Mama mirza kembali menangis.
"Biar saya kompres keningnya supaya cepat turun panas nya".
__ADS_1
Mama mirza mengeluarkan handuk kecil dari tas nya, lalu membasahi nya di wastafel dengan air hangat.
Cukup lama orang tua agham menemani bunga di kamar rawat.
Mama mirza di temani bik asih, dan para pria ke mushola rumah sakit untuk melakukan kewajiban sebagai umat muslim.
Bik asih dan mama mirza sholat di kamar rawat saja secara bergantian.
Setelah lama di kompres oleh mama mirza dengan telaten, akhirnya panas nya turun juga.
Bunga pun mulai membuka mata nya.
"Mah, pah". Ucap bunga lirih sekali
"Bunga sayang, kamu sudah bangun? Mau minum?" Tanya mama mirza.
Setelah minum, bunga tiduran lagi karena masih sedikit pusing.
"Non bunga makan dulu yaa, abis itu minum obat nya. Tadi suster anter obat buat di minum kalo non bunga sudah bangun". Ucap bik asih
"Gak bi, bunga gak selera".
"Bunga sayang, kamu harus makan. Kamu harus sembuh. Bunga harus bisa melanjutkan hidup bunga. Kamu juga harus bahagia sayang". Mama mirza tak kuasa menahan air matanya dan memeluk bunga.
"Maafkan mama gagal mendidik agham yaa sayang. Kamu harus sakit begini karena ulah dia". Ucap mama mirza lagi
__ADS_1
"Udah dong mama jangan sedih lagi, bunga gapapa kok mah. Bunga makan yaa mah". Bunga menenangkan mantan mertua nya itu.
"Mama suapin yaa, ayo buka mulutnya".
Bunga pun menurut saja.
Beberapa saat makanan itu tandas karena mama menyuapi sambil mengajak ngobrol jadi tidak terasa langsung habis makan nya.
Kemudian bunga minum obat nya. Setelah beberapa menit kemudian bunga tertidur lagi. Mungkin efek obat yang tadi dia minum.
"Alhamdulillah bunga sudah makan sudah minum obat juga. Saya tenang jadi nya bik".
"Iyaa nyonya, Alhamdulillah non bunga nurut sama nyonya".
Tak lama kemudian para papa sudah kembali dari sholat dan sebelumnya makan malam di kantin rumah sakit.
"Bunga sudah bangun bik?" Tanya papa rio
"Tadi sudah tuan, setelah makan dan minum obat di suapi nyonya non bunga tidur lagi".
"Alhamdulillah, makasih yaa mirza. Bunga jadi mau minum obat nya".
"Ah jangan terima kasih, memang saya harus nya begini. Karena saya masih merasa bersalah dengan bunga".
"sudahlah za, jangan begitu. Doakan saja anak ku sehat dan bahagia lagi". ucap papa rio.
__ADS_1
"Aamiin". semua mengaminkan doa nya.