
Mama Niken menatap sang putri dengan tatapan yang sulit di jelaskan.
Ada gurat kesedihan yang tercetak di wajah mama Niken.
Tanpa berkata apapun, mama Niken membawa sang putri ke dalam pelukannya.
Tangisan Niken tumpah di pelukan sang ibu.
Mama Niken mengusap lembut punggung Niken menyalurkan ketenangan untuk anak nya yang sedang terpuruk.
"Ayo, mama antar ke kamar mu nak. Kamu harus istirahat". Mama Niken menuntun putri nya ke kamar yang dulu di tempati Niken sendiri.
Karena sejak dekat dengan agham Niken sudah tak tinggal di rumah.
Niken menurut saja di tuntun sang mama ke dalam kamarnya.
Koper Niken di bawakan bibik yang bekerja dengan mama Niken.
Di baringkan ke kasur nya, lalu mama menyelimuti Niken agar Niken nyaman.
"Kamu sudah makan nak?" tanya mama Niken dengan lembut.
Niken menjawab dengan gelengan kepala.
Bagaimana pun marah nya seorang ibu, tetap dia tidak akan bisa membenci anak nya sendiri.
Apalagi melihat kondisi anak nya yang sedang terpuruk.
__ADS_1
Ibu mana pun tak akan tega membiarkan anak nya seperti itu.
"Mama ambilkan makan yaa. Kasihan anakmu harus mendapat gizi yang baik. Tunggu yaa".
Saat mama Niken hendak bangkit, Niken menahan tangan mama nya.
"Ada apa sayang?".
"M.. Maaf kan Niken ma. Niken memang anak yang durhaka". ucap Niken dengan air mata yang meluruh di pipi nya.
Melihat anak nya menangis, mama segera memeluknya kembali.
Menyalurkan energi untuk anaknya agar tegar menghadapi hidup nya.
"Ssstt ... sudah nak, jangan kamu bilang begitu". mama Niken mengusap punggung Niken.
"Tapi, yang mama bilang dulu benar. Aku ini anak durhaka. Maafkan aku ma. Aku menghancurkan mimpi mama, menghancurkan hati mama, mempermalukan mama. Sekarang aku terima karma nya ma". Niken terus menangis sesenggukan.
"Maaf bu, biar bibik saja yang ambilkan non Niken makan yaa. Jangan di tinggal dulu non Niken nya Bu".
"Iyaa bik, terima kasih banyak yaa bi".
Bik lastri pun segera menuju dapur dan menyiapkan makan untuk anak majikannya.
Bik lastri juga membuatkan susu untuk Niken. Meskipun bukan susu khusus ibu hamil.
Karena tidak ada stok susu bumil di rumah majikannya.
__ADS_1
Mungkin besok ia akan membeli nya.
"Ini non, di makan dulu yaa supaya ada tenaga. Bibik juga buatin susu hangat, tapi bukan susu hamil non. Besok yaa bibik belikan". bibik menyodorkan nampan berisikan makanan, buah dan susu serta air putih.
"Terima kasih yaa bik. Maaf merepotkan bibik". ujar Niken.
"Tidak repot kok non. Hayuk di makan dulu, mumpung masih hangat, masih sedap di makan nya".
Niken pun menerima nampan tersebut dan mulai menyuapkan makanan yang di bawakan bibik.
Perlahan makanan itu pun tandas tak tersisa.
Kehamilan Niken ini tak membuat Niken kepayahan. Padahal biasanya ibu hamil muda kesusahan untuk memilih menu makanan.
"Kamu tidak mual nak?" tanya mama hati hati.
"Nggak mah alhamdulillaah".
"Bagus lah kalau begitu. Kalau mama dulu, gak bisa makan apapun di trisemester pertama. Cium bau masakan sedikit langsung muntah. Besok kita periksa yaa, supaya kamu dapat vitamin". ajak mama
"Tidak perlu ma, tadi pagi aku sudah periksa dan sudah dapat vitamin juga dari dokter".
"Oh ya sudah bagus kalau begitu. Lalu, hhmm pekerjaan kamu?". tanya mama lagi.
"Aku akan mengundurkan diri besok ma. Maaf sampai saat ini aku masih saja merepotkan mama".
"Sudahlah sayang. Kamu harus bangkit lagi yaa. Besok mama temani kamu ke kantor ".
__ADS_1
"Terima kasih banyak ma".
Mereka pun berpelukan lagi melepaskan kerinduan yang terpendam.