
Sudah tiga hari agham mencari keberadaan Sheila sang istri.
Kemarin ia tak acuh, namun ada perasaan sepi setelah Sheila tak kunjung pulang.
Hanya Dimas yang mengembalikan kunci toko ke agham sewaktu agham berada di teras rumah.
Agham pun bertanya pada Dimas perihal keberadaan Sheila.
Namun Sheila sudah berpesan agar tak memberitahu nya kemana Sheila pergi.
Dimas cukup memberi kabar bahwa Sheila sudah melahirkan.
"Dim, kunci toko sama kamu. Istri saya kemana?". tanya agham.
'Kemarin aja ogah temani istri nya. Sekarang malah nyari'. batin Dimas.
"Kemarin saya antar mba Sheila melahirkan mas ke rumah sakit. Tapi setelah itu saya pulang. Sampai hari ini mba Sheila gak ada kabar apa apa lagi ke saya. Kalau gitu, saya permisi dulu ya mas agham. Saya harus antar adik sekolah soalnya. Mari". Tak ingin agham bertanya lebih banyak lagi, Dimas pun bergegas meninggalkan agham yang termenung.
"iya dim. Terima kasih banyak yaa. Oh iyaa dim, di rumah sakit mana istri saya lahiran?".
"Di rumah sakit yang biasa mba Sheila periksa mas". Teriak Dimas karena memang sudah melaju sedikit jauh dari agham.
"Sheila, kenapa kamu gak hubungi aku kalau kamu mau melahirkan. Malah di temani si Dimas". Gumam agham
Setelah itu ia membuka ponsel nya.
Alangkah terkejutnya mendapati ponsel nya yang banyak panggilan tak terjawab dari Sheila tiga hari yang lalu sewaktu Sheila pergi ke rumah sakit.
Bodoh nya, agham baru mengecek ponsel nya itu setelah Sheila tidak pulang selama tiga hari.
Memang saat itu agham mabuk berat. Sampai tak bangun bangun dari kasur empuknya.
"Sial, sudah tiga hari dia tidak pulang gue baru sadar? bener bener tepar banget gue kemarin".
Saat dia ingin masuk ke dalam rumah, ada tukang pos menghampiri nya.
"Permisi, pos. Ada surat buat bapak Agham. Apa benar ini rumah nya?" tanya tukang pos itu.
__ADS_1
"Iyaa, dengan saya sendiri".
"Ada surat untuk bapak. Silahkan tanda tangan di sini ya".
Agham pun yang merasa heran tetap menandatangani nya.
Dari amplop surat tersebut bertuliskan Pengadilan Agama.
Jantung agham berdetak sangat kuat melihat tulisan itu.
Perlahan ia buka surat tersebut, dan benar saja dugaan nya.
Surat tersebut adalah surat gugatan cerai dari istrinya Sheila yang sekarang entah dimana.
Merasa tak terima. Ia teringat Delisa sang putri yang tinggal bersama orang tua nya.
Agham segera masuk ke dalam mengambil kunci mobil nya, lalu bergegas ke rumah orang tua nya untuk melihat putri kesayangannya itu.
Di perjalanan jantung nya berdetak lebih kuat.
Ia takut Delisa pergi meninggalkan dia juga. Tapi semoga kedua orang tua nya itu tak memberikan Delisa pada Sheila.
Sesampainya di rumah mama Mirza.
"Maah, mamah". agham berteriak tidak sabar.
Agham langsung menuju kamar Delisa untuk mencari keberadaan putri nya itu.
Namun, kenyataan pahit saat melihat kamar putri nya itu terasa dingin.
Boneka boneka yang biasanya berjejer di kasur itu sudah tak ada lagi.
Agham buru-buru membuka lemari pakaian nya.
Keadaan lemari itu tak kalah mengejutkan nya.
Lemari pakaian putri nya juga tinggal beberapa saja.
__ADS_1
Biasanya penuh sampai sampai dua lemari besar itu tak muat.
Mama Mirza dan papa Soni menghampiri putra nya itu.
"Ada apa kamu cari Delisa? masih ingat kalau kamu punya anak?". ucap papa Soni dingin dan tatapan yang sangat tajam menusuk.
"Dimana anak dan istri ku pah?". tanya agham terduduk lemas.
"Mereka anak dan istri mu kenapa tanya papah? kamu kan kepala keluarga nya. Kenapa bisa tidak tau?". ucap papah Soni lebih dingin dari yang pertama.
"Sudah pah, jangan terlalu emosi. Ingat kita sudah tua. Jaga emosi agar tetap sehat". ujar mama Mirza mengusap punggung suami nya untuk menenangkan.
"Sudahlah agham. Kamu gak perlu cari anak istri mu. Dia melahirkan aja kamu kemana? di hubungi nya sangat susah. Istri mu berjuang antara hidup dan mati, kamu dimana? malah Dimas laki laki yang menemani istri mu lahiran, dia pula yang mengadzani anak mu. Sampai suster pun mengira Dimas lah suami nya Sheila. Sekarang tanda tangan saja surat gugatan Sheila. Karena itu mama sendiri yang urus. Mama gak tega sama Sheila dan anak anak mu kalau masih disini terus". jelas mama Mirza
"Jadi, mama biarin istri aku pergi bawa anak anak ku ?? kok gak mama tahan sih".
"Untuk apa mama tahan? mama ingin Sheila dan cucu cucu mama bahagia. Apa yang bisa mereka harapkan dari kamu selaku papah dan suami? gak ada kan? Jadi lebih baik mama biarkan aja Sheila memulai hidup baru nya. Kamu benar benar berdosa telah menelantarkan anak anak mu dan istri mu. Bahkan, Niken pun sudah melahirkan sebulan yang lalu. Apa kamu peduli?".
"Tapi mah?".
"Cepat tanda tangan surat itu, kalau kamu masih mau di anggap anak dan keluarga di sini". Setelah mengucapkan itu, papah mengajak istrinya meninggalkan sang putra yang begitu keras kepala dan kejam itu.
Papah Soni tak habis pikir bagaimana putra nya bisa menjadi seorang laki-laki yang tidak bertanggung jawab seperti itu.
Hal ini membuat papah Soni banyak merenung. Apa ada kesalahan dia dalam mendidik putra nya itu.
"Sudahlah pah, papah sudah memberikan semua yang terbaik untuk mama dan anak kita. Tak ada salah dalam mendidik anak kita. Mungkin ini ujian untuk kita juga untuk agham agar dia semakin dewasa dan bijaksana dalam bertindak. Papah jangan merasa bersalah seperti itu yaa, nanti kalau sakit, aku sama siapa?". mama Mirza mengerti apa yang sedang suami nya itu pikirkan.
"Iya mah, terima kasih sudah sangat mengerti papah. Tanpa papah ucapkan, mama tau apa yang sedang papah pikir kan. Biarkan agham merenungi perbuatan nya".
"Papah harus sehat terus untuk mama". Mama Mirza yang sudah menjadi nenek itu mengecup kening sang suami yang ternyata sudah mulai berkerut.
"Oh ya, tadi mama bilang Niken sudah melahirkan? kok papah tidak tau? Sebaiknya kita kunjungi mereka mah, kita lakukan tes DNA, jika benar ia cucu kita juga, sebaiknya kita harus bertanggung jawab pula atas bayi itu.
"Iya pah, mama ikut saja apa kata papah. Besok kita lihat yaa. Sekarang saat nya istirahat. Lihat, kening ini sudah mulai banyak kerutan". ujar mama Mirza sambil membelai kening suami nya.
Mereka sudah menua, namun keromantisan dan keharmonisan rumah tangga mereka tetap di jaga seperti saat dulu baru menikah.
__ADS_1
Tidak ada yang berbeda perlakuan dulu dan saat ini setelah puluhan tahun bersama.