Pernikahan 24 Jam

Pernikahan 24 Jam
Keluar Kota


__ADS_3

Langit masih sangat gelap.


Adzan subuh sebentar lagi akan berkumandang.


Niken sudah bersiap-siap untuk pergi tugas ke luar kota.


Sebelum berangkat, ia menunggu dulu adzan subuh. Setelah sholat, ia bergegas berangkat ke bandara.


Kali ini beni mengantar Niken.


Sejak pukul tiga pagi, beni sudah datang ke rumah Niken.


Padahal Niken tidak mau di antar beni karena akan merepotkan.


Tapi beni kekeuh untuk mengantar Niken ke bandara.


Ya sudah Niken meng iya kan saja.


Entah kenapa tiba tiba Niken ingin sekali menghubungi istri nya agham.


Niken mengirim pesan singkat ke Sheila, menanyakan apakah ia tau bahwa suami nya akan dinas keluar kota.


pesan terkirim, dan ponsel ia masukkan ke dalam tas.


Beni membantu Niken membawakan koper nya.


Niken membawa tas lainnya.


Niken berpamitan pada mama nya.


Mama nya pun berterima kasih pada beni karena sudah mau repot repot mengantar Niken ke bandara sepagi ini.


"Aku berangkat yaa ma". ucap Niken seraya memeluk mama nya.


"Iyaa, hati hati yaa di sana. Selalu baca doa dimana pun kamu berada. Minta perlindungan dari yang maha kuasa". ujar mama memberi nasihat.


"iyaa mama ku sayang ".


"Pamit yaa tante" beni pun turut bersalaman dengan mama nya Niken.


"Makasih yaa nak beni. Jadi merepotkan terus". ucap mama Niken.


"Ah, gak repot kok tante. Saya malah senang di repotin Niken" ujar Beni.


"Bisa aja nih nak beni".


Mereka berdua pun berangkat menuju ke bandara.


Entah kenapa di dalam mobil, Niken merasa gelisah.


Ia seperti enggan pergi kali ini.


Biasa nya pun ia sering pergi keluar kota bahkan keluar negeri.


Entah kenapa perasaan nya hari ini seperti akan terjadi sesuatu.


"Lo berapa hari di sana Ken?" tanya Beni.

__ADS_1


Namun hening, Niken diam saja tak menjawab pertanyaan Beni.


Niken sedang asyik melamun.


Terlihat raut wajah nya seperti gelisah dan memikirkan sesuatu.


"Ken?".


panggil Beni.


"Niken?" kali ini sambil menyentuh tangan Niken.


"Eh, iyaa kenapa Ben?" tanya Niken kaget.


"Lo mikirin apa sih Ken? gelisah banget? cerita dong sama gue". ucap Beni yang menangkap kegelisahan wanita pujaan hati di sebelah nya ini.


"gak Ben. gak tau, perasaan gue tiba tiba aja gak enak gini". ungkap Niken


"Atau ada yang lagi Lo pikirin?". tanya beni lagi.


"Hhmmm gue juga bingung gimana ceritanya sama lo. gak akan cukup juga waktu nya kalo gue cerita sekarang sama lo Ben".


"Iya juga sih. Lagi buru buru gini. Gini aja deh, Lo tarik nafas terus hembuskan perlahan. Sambil terus berdoa. Jangan sampe putus di dalam hati juga gak apa apa, yang penting minta perlindungan sama tuhan. Di sana pak Romi juga kan bawa asisten nya satu perempuan buat nemenin Lo. Lo kepikiran gak sih kenapa pak Romi bawa asisten perempuan nya ikut cuma buat nemenin Lo?" tanya beni yang mulai curiga.


"Iyaa Ben, makasih saran nya yaa. Gue sedikit tenang. Eh, iya juga yaa kenapa juga pak Romi bawa asisten dia buat nemenin gue? apa dia tau bakal ada yang gak beres? ah, masa iya? mungkin kasian aja kali karena gue cewek sendiri. Tapi, gak tau juga deh gue pusing mikirin nya". ucap Niken seraya memijat keningnya yang pusing.


"Yaudah, sekarang fokus aja dulu ke kerjaan. Yang lain jangan terlalu di pikirin. Nanti kalo Lo sakit di sana gimana. Gue jauh loh". ucap beni.


"Emang, kalo deket Lo mau ngapain?". tanya Niken menggoda beni.


"Yaa gue ajak berobat lah Ken. Gimana sih lo".


Di sana ternyata sudah ada Romi, Denis, Sinta, tentu juga agham yang menatap beni dengan tatapan yang tidak biasa.


Tapi beni cuek saja tak terlalu memperdulikan tatapan tajam dari bos nya itu.


Padahal Romi pun memperhatikan tatapan tak biasa agham itu.


Romi juga tak habis pikir kenapa agham belum berubah juga.


Padahal ia sudah mempunyai istri di rumah. Istri yang dulu sudah merusak pernikahan bunga dan agham, sehingga tak sempat bunga merasakan indah nya pengantin baru.


Tapi, Romi bersyukur karena jadi ada kesempatan untuk mendekati dan mendapatkan bunga.


"Selamat pagi pak agham, pak Romi, Denis, mba Sinta. Sudah sampai aja nih". sapa beni pada semua nya.


"Pagi juga" jawab agham singkat.


"Pagi beni, iyaa sudah sampai takut macet. Kok bisa kamu yang antar Niken?" tanya Romi.


"Yaa bisa aja pak, kita kan berdampingan".


"Rumah nya?" tanya Romi.


"Hidup nya pak, hehehe". jawab beni asal.


Niken langsung memukul lengan beni, karena malu dan juga takut dengan tatapan tajam agham pada beni.

__ADS_1


'Duuuhh curuuuttt, kenapa gak ada takut takut nya sih sama tatapan bos begitu'. batin Niken.


"Waahh kayaknya saya juga ketinggalan berita nih". ucap Romi.


"Mari pak Romi, sudah waktunya masuk pesawat". ucap agham memotong obrolan mereka.


'Sue banget nih bos'. batin beni.


"Oh, iyaa mari. Beni, saya permisi dulu yaa". ucap Romi dan Denis.


"Iyaa pak hati hati. Kamu juga yaa sayang, hati hati di jalan. Berdoa dulu".


Tak di sangka, beni mengecup kening Niken di hadapan semua orang.


Agham melihat itu mengepalkan tangannya tak terima.


Namun, agham tak bisa berbuat banyak juga. Karena Niken memang bukan kekasih nya.


"Dadah sayang". beni langsung pergi meninggalkan Niken dan lain nya yang masih melongo melihat tingkah beni.


Beni pergi dengan santai nya.


Niken pun berlalu juga karena sebentar lagi pesawat akan berangkat.


Ternyata kursi Niken bersebelahan dengan agham dan Sinta, juga ada lagi wanita di sebelah Niken.


Sedangkan Denis di sebelah Romi.


Wanita di sebelah Niken terus menatap ke arah Niken dan agham.


Entah kenapa begitu.


Perjalanan menuju lokasi cukup memakan waktu yang lumayan lama.


Karena masih mengantuk, Niken tertidur.


Waktu Niken tertidur, Niken menyentuh bahu wanita di sebelah nya. Akan tetapi, malah di pindahkan kepala Niken agar bersandar di bahu agham sendiri.


"Maaf, kekasih saya mengantuk berat". itu yang di ucapkan agham pada wanita di sebelah Niken.


Wanita tadi mengangguk saja. Karena memang tidak terlihat wajah nya yang menggunakan masker.


Sinta juga terheran mendengar ucapan klien bos nya ini. Karena yang sinta tau Niken adalah sekertaris nya. Sedangkan agham sendiri sudah mempunyai istri di rumah.


Agham mengelus kepala Niken dan menciumi rambut nya yang memang harum setiap hari.


Sinta berdehem agar kegiatan agham yang tidak semestinya itu berhenti.


"eehhemmm". Sinta berdehem.


Agham pun kaget, karena lupa di sebelah nya ada rekan kerja nya.


Mendengar deheman Sinta yang agak keras membuat Niken juga terbangun.


Niken juga bingung kenapa bisa bersandar ke bahu agham bos nya itu.


"Maaf mba Niken jadi mengganggu tidur nya, tadi tenggorokan saya agak gatal. Mungkin karena es teruuusss kata mama". ucap Sinta yang berusaha melucu.

__ADS_1


"Haha mba Sinta bisa aja deh. Iya gak apa apa kok". ujar Niken.


__ADS_2