
Waktu terus bergulir....
Tak terasa sembilan bulan sudah usia kandungan Niken.
Selama itu pula Niken masih tinggal bersama sang mama.
Mama nya sangat prihatin karena sang anak hamil tanpa ada suami yang bertanggung jawab dan menemani nya.
Niken pun pasrah karena agham tak bisa di raih lagi.
Hari ini Niken sedang membantu sang mama mengemas kue kering pesanan pelanggan nya.
Sambil duduk di meja makan, Niken dengan telaten menyusun satu persatu kue kering tersebut.
Saat sedang menutup toples kue tersebut, tiba tiba Niken merasakan ada yang basah di **** ***** nya.
"Ma, mama". panggil Niken.
"Iyaa ada apa Ken? kenapa teriak gitu?". tanya mama yang tampak khawatir.
"Ini mah, kok ini ku basah yaa. Padahal aku gak kebelet pipis kok". ucap Niken.
"Serius?? jangan jangan itu pecah ketuban, yuk kita ke rumah sakit supaya di periksa. Apa kamu merasa mulas atau sakit?". tanya mama Niken.
"Nggak mah, cuma ini makin banyak mah air nya yang keluar".
"Hayuk mama bantu ganti pakaian. Setelah itu kita ke rumah sakit ya".
Mama membantu Niken untuk mengganti pakaian nya.
Setelah itu Niken meraih tas baby dan koper keperluan miliknya untuk bersalin.
Kali ini mama yang menyetir mobilnya, karena mama melarang Niken menyetir.
"Bik, tolong bereskan sisa nya yaa. Saya mau ke rumah sakit antar Niken".
"Baik Bu, apa perlu di temani?". tanya bibik.
"Tidak usah bik. Gak apa apa. Makasih ya bik".
Mama dan Niken pun berangkat menuju rumah sakit.
Saat di perjalanan ke rumah sakit, Niken mengeluh jika merasa mulas dan semakin lama semakin sakit.
"Ma, kok semakin sakit yaa ma. Duuhhh, fuuuhhh".
"Sabar yaa sayang, mama parkir dulu".
__ADS_1
"Pak tolong kursi roda pak, anak saya mau melahirkan ". teriak mama ke security yang berjaga di depan.
Security dengan sigap langsung membawakan kursi roda, lalu mendorong Niken ke unit gawat darurat.
Saat di ruang UGD Niken di pindahkan ke ruangan bersalin, karena Niken juga sudah sering kontrol di rumah sakit tersebut setiap bulannya.
Dengan penuh derai air mata, Niken sekuat tenaga untuk melahirkan buah hatinya meskipun tanpa di dampingi sang ayah kandung bayi nya.
Mama Niken senantiasa menggenggam erat tangan anak nya yang akan melahirkan.
Rasa sesak memenuhi dada nya, sebab sang anak melahirkan tanpa seorang suami.
Sepanjang kehamilan nya sekalipun tak pernah agham menjenguk Niken.
Seolah sudah terlupakan begitu saja.
Jika mengingat itu, sang mama pun kembali menangisi nasib sang anak.
Tapi mau di kata apa? semua sudah terlanjur.
Itu juga akibat dari ulah anak nya sendiri yang tidak bisa menjaga kehormatan nya sebagai wanita.
Tentu resiko nya yang paling besar adalah wanita dalam kasus seperti ini.
Maka dari itu jagalah kehormatan kalian sampai suami mu menjemput (menikah).
Karena bukan hanya wanita yang menderita, tapi si bayi pun ikut menderita akibat ulah manusia yang tidak bertanggung jawab.
"Iyaa sayang, perbanyak doa yaa. Mama disini temenin kamu. Kamu pasti kuat yaa nak, kamu anak mama yang hebat pasti bisa. Bissmillah yaa sayang". ujar mama menenangkan Niken sembari mengusap pinggang Niken untuk mengurangi setidaknya sedikit rasa sakitnya, meskipun sebenarnya rasa sakit itu tak berkurang sedikitpun.
"Baca doa yaa Bu, ini sudah lengkap pembukaan nya. Ikuti kata saya yaa Bu, tarik nafas dan hembuskan pelan, lalu ibu mengejan seperti mau buang air saja yaa Bu". dokter memberikan instruksi kepada Niken agar melahirkan nya mudah.
"Bissmillah, satu dua tiga mengejan ya Bu". ujar dokter.
"eeeerrgghhhhh... fiuuhh husshh".
Dengan sekali tarik nafas kemudian mengejan, Niken berhasil melahirkan anaknya dengan selamat.
Peluh keringat serta tangisan pecah memenuhi ruangan bersalin.
"Selamat ya Bu, anaknya terlahir normal tidak kurang satu pun. Jenis kelamin nya laki laki, dengan berat badan tiga kilogram, panjang lima puluh sentimeter. Saya akan bersihkan baby nya dulu ya Bu Niken, juga mau di periksa dokter anak".
"Iyah dok". Niken mengangguk lemas.
"Selamat ya sayang. Kamu hebat". mama mengecup kening Niken.
"Maafkan aku ya ma, aku sangat berdosa sama mama. Dosa ku sangat besar".
__ADS_1
"huussh, jangan bilang gitu sayang. Semua manusia punya dosa nya masing-masing. Setelah ini, kita harus menjadi manusia yang lebih baik lagi. Janji sama mama yaa".
"Iyaa ma".
"Bu, baby nya sudah di periksa oleh dokter anak. Semuanya sehat dan aman. Bisa panggilkan ayah nya agar baby nya segera di adzan kan". ucapan suster membuat kedua wanita itu membeku.
"Oh, iyaa sus. Tunggu sebentar yaa". ujar mama Niken.
"Baik Bu".
Suster itu pun berlalu kembali ke ruangan nya.
"Bagaimana ini ma, aku sudah putus kontak dengan agham. Siapa yang akan mengadzani anak ku mah?" Niken kembali menangis.
Kali ini Niken sudah di ruang perawatan.
"Permisi, saya dokter obgyn yang akan memeriksa Bu Niken sebentar yaa". ujar dokter tampan tersebut.
"Apa ada keluhan Bu? Maaf, kenapa menangis?" tanya dokter tersebut.
"Ah, ini dok. Tidak apa-apa ". jawab Niken gugup.
"Sebenarnya, bayi nya belum di adzani dok. Karena ayah nya pergi entah kemana". ucapan itu lolos begitu saja karena mama Niken terasa amat sesak dada nya.
"Kalau boleh, saya bisa mengadzani baby nya". jawaban sang dokter sangat di luar prediksi Niken dan mama nya
"Beneran dok?" tanya mama
"Jangan dok, merepotkan. tidak apa apa". sela Niken.
"Iya saya bisa. Tidak apa-apa. Sesama manusia harus tolong menolong bukan? antar saja saya ke tempat bayi nya Bu". ujar dokter.
"Terima kasih dok untuk kebaikan nya". ujar niken bergetar.
"Sama-sama. Ibu harus sehat agar baby nya bisa mendapatkan ASI yang banyak yaa".
"Baik dok".
"Mama ke tempat baby dulu ya Ken".
mereka pun menuju ke tempat baby sambil mama dan dokter bertukar cerita.
Dokter yang diketahui bernama Malik itu pun tersentuh mendengar cerita kisah Niken dari sang mama.
Sesampainya di ruangan bayi, dokter Malik langsung mengadzani baby Niken.
Pemandangan itu membuat mama Niken menitikan air mata.
__ADS_1
"Terima kasih banyak dokter Malik. Bisa saya undang dokter untuk makan malam di rumah kami setelah ini? sebagai bentuk terima kasih kami".
"Boleh saja Bu. Terima kasih banyak undangan nya". ujar dokter Malik.