
Beberapa hari di rawat du rumah sakit, kini bunga sudah kembali sehat.
Papa tercinta dan bibik serta mang didi tersayang yang selalu setia menemani bunga di saat rapuh seperti kemarin.
Kini bunga sudah lebih tegar dan lebih kuat menghadapi kenyataan bahwa sebentar lagi ia akan menjadi seorang janda perawan.
Sungguh miris bukan?
Tetapi bunga sudah sangat memikirkan ini dengan penuh pertimbangan.
Dia tidak mau di madu, dan berpisah adalah jalan terbaik untuk mereka.
Tentang bagaimana nanti omongan orang yang mencibir baru sehari menikah sudah bercerai, bunga tidak ambil pusing.
Toh mereka hanya bisa berkata tanpa tau bagaimana rasanya, hancurnya hati kita dengan ujian yang menimpa kita sedemikian rupa.
Mereka belum tentu sanggup berada di posisi kita bisa...
Mereka hanya pandai menilai orang lain....
Kali ini bunga sudah berada di rumah. Papa rio pun sudah menghubungi papa soni dan mama mirza bahwa bunga sudah di rumah.
Tanpa menunggu apapun lagi, mereka berangkat ke rumah bunga untuk melihat kondisi bunga terkini.
Di rumah papa soni .....
__ADS_1
Kring kriiinnng ....
"Mah, tolong angkat ponsel papa bunyi tuh. Ada yang telepon kayaknya". Teriak papa soni di kamar mandi, dan mama berada di kamar.
"Iyaa halo yo, ada apa?" Tanya mama mirza yang ternyata papa rio lah yang menelepon.
"Oohh gitu. Alhamdulillah kalo putriku sudah sehat lagi. Seneng banget denger nya yo. Nanti kita meluncur kesana yaa mau liat".
Papa rio mengabarkan kalau bunga sudah pulang dan sudah pulih.
Di rumah bunga....
"Pah, bunga mau ke rumah mama bisa anter?". Bunga menyebut makam mama nya dengan sebutan rumah, karena berat untuk menyebut makam.
Bunga merasa kematian mama nya adalah salahnya. Kalau saja mama nya tidak melihat suaminya berselingkuh dan mengkhianati nya pasti mama tidak terkena serangan jantung yang mengakibatkan kehilangan nyawa.
"Apa kamu yakin bunga?" Tanya papa ragu takut bunga pingsan lagi seperti pertama memakamkan mama nya.
"Insyaallah yakin pa. Bunga kangen mama". Lirih bunga.
"Baiklah, papa antar yok. Bersiaplah".
Bunga bergegas ke kamar nya dan berganti baju dan memakai kerudung nya. Tidak lupa membawa surat Yasin untuk mendoakan mama nya nanti.
Di perjalanan menuju makam, bunga berhenti sebentar untuk membeli kembang yang nanti nya di tabur di atas makam.
__ADS_1
Padahal pasti masih banyak kembang disana karena belum lama meninggal nya.
Setelah selesai membeli kembang, mereka melanjutkan perjalanan nya yang tinggal sedikit lagi.
Sesampainya di makam, bunga dan papa nya turun dan berjalan menuju makam mama mika.
Baru menapakan kaki saja bunga sudah mengalir deras air mata nya.
Papa dengan sepenuh hati menggenggam tangan putri tercinta nya itu untuk menguatkan satu sama lain.
Papa rio juga sama terpukul nya kehilangan istri tercinta yang selama ini menemani nya puluhan tahun bersama.
"Assalamualaikum mama" ucap bunga bergetar menahan sesak di dada nya.
"Ma, maafin bunga gak bisa jaga mama. Maafin bunga juga kalau bunga telah menodai nama baik keluarga kita. Bunga bikin aib di keluarga ini ma, maafin aku". pecah sudah tangis bunga yang meratapi nisan mama nya dan kuburnya yang masih basah dan harum kembang.
"Sudah sayang, kamu jangan bicara seperti itu. Ini bukan salahmu. Jangan selalu menyalahkan diri sendiri. Semua sudah garis takdir dari yang kuasa". papa menenangkan putrinya yang sedang rapuh itu.
Setelah curhat bunga yang menyedihkan, mereka membacakan doa untuk mama tercinta.
Dari jauh, dia menatap bunga dan papa nya dengan sangat terpukul juga dan emosi yang membuncah.
Karena dia sudah tau kejadian yang menimpa bunga sekeluarga membuatnya meradang....
Pria itu...
__ADS_1