
"Karena kejadian seperti ini terulang kembali, papa memutuskan untuk mencabut posisi kamu di perusahaan. Silahkan tinggalkan perusahaan dan rumah ini. Papa sudah tidak mau ikut campur masalah yang kamu buat sendiri. Kamu bisa menempati sebuah ruko papa yang ada di daerah X. Kamu bawa istri kamu, biarkan Delisa disini papa yang urus. Kamu tidak becus mengurus rumah tangga sendiri. Untuk Sheila, kamu bisa mengunjungi Delisa kapan pun kamu mau. Papa tidak akan membatasi kamu dan anakmu. Papa hanya ingin agham belajar dari kesalahan sebelum nya. Tapi, apa yang dia lakukan sekarang? kesalahan yang sama justru ia lakukan lagi. Sekarang juga bereskan barang kamu, akan di bantu dengan yang lain". tanpa menunggu jawaban dari sang putra, papa Soni yang sudah sangat kecewa karena perbuatan anak nya langsung meninggalkan semua ke dalam kamar.
Mama Mirza pun sampai tak menyangka sang suami akan mengambil keputusan besar seperti ini.
"Kamu lihat agham? papa sudah sangat kecewa dengan kelakuan kamu. Sekarang, mama tidak akan membantu mu lagi. Silahkan kamu kerjakan apa yang papa mu minta, jangan protes dan segera tinggalkan rumah ini". mama Mirza pun ikut menyusul suami nya ke kamar.
Agham tak menyangka orang tua akan sebegitu kecewa nya pada dirinya dan mengambil keputusan besar yang tak pernah agham bayangkan.
"Kamu dengar sendiri kan Niken? 'kekasih' mu kini tak berdaya lagi. Apa kamu masih mau jadi kekasih nya, hmm?" tanya Sheila tetap dengan posisi setenang mungkin. Meskipun hatinya tak tenang sebetulnya, tapi dia mencoba menjaga emosinya agar janin nya didalam perut sana tetap tenang juga.
"Aku akan tetap menunggu pertanggung jawaban agham". jawaban Niken sama sekali tak terduga oleh Sheila.
__ADS_1
"Hhhmmmm,, fiiuuhh". Sheila berusaha menarik nafas lalu ia hembuskan perlahan agar emosi nya tetap stabil.
'Jadi ini yang bunga rasakan waktu dulu. Bahkan hal dulu yang ku perbuat berbalik kepada ku lagi'. batin Sheila. Ia berusaha setenang mungkin karena mengingat kondisi nya sedang hamil.
"Itu semua terserah pada suamiku yaa Niken. Jika dia keberatan, saya harap kamu tidak memaksa. Terserah jika kamu bilang saya egois, saya tidak peduli". Sheila pun bangkit menuju kamar nya karena ingin membereskan semua pakaian dan barang-barang nya. Sesegera mungkin ia ingin pergi dari tempat itu. Ia muak karena karma datang lebih cepat dari yang ia bayangkan dulu.
"Ayo aku antar kamu dulu pulang. Kondisi nya belum kondusif, nanti kita bicarakan lagi". agham pun menarik tangan Niken menuju mobil Niken. Lalu membawa nya ke suatu tempat.
Karena Niken tau arah mana yang agham tuju saat ini.
Agham menuju kediaman orang tua nya Niken.
__ADS_1
Tak butuh waktu yang lama, mereka pun sampai di rumah orang tua Niken.
"Permisi, assalaamualaikum". ucap agham dengan Niken di belakang agham dan menatap pintu rumah dengan cemas.
"Iyaa, waalaikumsalaam. Sebentar yaa". suara itu makin membuat Niken berkeringat dingin saja.
Pasalnya ia sangat mengenal suara itu.
Siapa lagi kalau bukan sang mama.
"Iyaa,. cari siapa y....? Niken?". mama nya pun cukup terkejut dengan kehadiran putri nya. Apalagi dengan wajah yang tak karuan bersama seorang pria yang memang mereka berdua perdebatkan.
__ADS_1
"Maaf Bu, bisa saya titip niken dulu. Karena masih ada yang harus saya selesaikan di rumah". Tanpa menunggu jawaban dari mama nya Niken, agham pergi begitu saja meninggalkan mereka yang masih bengong melihat kepergian agham.