
Setelah membuat keputusan yang sangat berat dan penuh pertimbangan, bunga tidak pulang ke rumah yang sudah di sediakan agham sejak masih pacaran dulu.
Dulu waktu masih pacaran agham membangun hunian impian nya bersama istrinya kelak.
Namun kini semua nya kandas gara gara agham yang tidak bisa menahan hawa ***** nya.
Bunga bisa menerima jika agham mengajak nya dari nol, tetapi kalo di khianati seperti ini bunga tidak bisa menerima kenyataan ini. Apalagi agham mengkhianati sebegitu dalamnya.
Agham telah melukai hati bunga begitu dalam...
Bunga masih belum menyangka semua ini terjadi menimpa dirinya.
Saat ini bunga sedang terlelap di kamar nya. Di rumah Almarhumah mama tercinta nya.
Begitu lelah rasanya jiwa dan raga nya.
Papa rio melihat putri nya tengah terlelap. Ia pandangi wajah nya begitu lelah dan penuh kesedihan. Ia juga sedih, namun ia coba kuati diri agar putri nya itu tegar. Karena dia menghadapi masalah yang sangat berat.
Papa rio takut jika putri nya tidak kuat jiwa nya menghadapi ini semua.
"Mah bunga mohon jangan tinggalkan bunga mah, mama bangun mah agham jahat mah. Mah bangun mah" racau bunga sangat terdengar begitu lirih
Papa rio yang mendengar putri nya meracau sambil tidur itu mendekati sang putri. Beliau meletakkan tangan nya di kening bunga.
'Panas'. Gumam papa rio lirih
"Yaa Allah sampai sakit begini anakku". Lirih papa rio.
Papa segera menggendong bunga dan turun ke bawah untuk membawa nya ke rumah sakit.
Sungguh tidak tega melihat bunga rapuh seperti ini..
__ADS_1
"Loh tuan kenapa non bunga?" Tanya bik asih art di rumah mama mika yang sejak dulu sudah mengabdi pada keluarga nenek nya bunga.
"Saya mau bawa ke dokter bik, tolong panggil mang didi yaa bik siapkan mobil nya"
"Baik tuan"
Bik asih berlari ke depan untuk memanggil mang didi.
"Mang ayo siapin mobil npn bunga sakit. Ayo kerumah sakit mang". Ucap bik asih buru buru
"Eh yaa Allah iyaa siap bik. Ayo ayo tuan"
Papa rio memasuki anaknya lebih dulu dengan hati hati.
"Buruan mang kasihan bunga". Tanpa terasa papa rio menitikan air mata melihat anak nya seperti ini.
Bik asih pun mengunci pintu dengan tergesa - gesa. Bik asih ikut dengan mobil tuan nya karena kasihan kalau hanya berdua saja.
Setelah lima belas menit mereka tiba di halaman rumah sakit.
Segera papa rio menggendong bunga anaknya dan membawa nya ke UGD.
Perawat yang tengah berjaga di depan langsung membawakan brankar pasien dan bunga di letakkan di sana.
Bunga di bawa ke ruang tindakan.
Papa rio, dan bik asih menunggu di luar ruangan.
Mang didi yang baru memarkirkan mobil turut bergabung dengan tuannya.
Papa rio mondar mandir seperti setrikaan saja karena khawatir menunggu dokter yang tak kunjung keluar.
__ADS_1
"Tuan duduk aja tenang, dokter pasti nanganin non bunga dengan baik kok".
"Saya gak bisa tenang bik, kenapa nasib bunga seperti ini bik. Saya gak tega melihat bunga begini" ucap papa rio bergetar menahan isak tangisnya.
Bik asih dan mang didi begitu sedih melihat tuan nya rapuh begini. Apalagi mereka juga baru kehilangan nyonya mika. Keluarga mereka sedang sangat berduka.
Sebenarnya mereka juga khawatir kalau nona nya ikut pergi meninggalkan mereka juga.
Tapi mereka tetap berdoa agar nona nya itu baik baik saja.
"Bik, saya ke kantin dulu yaa beli minum sama makan buat tuan juga. Kasihan kan belum ada makan dari tadi". Mang didi pergi setelah di angguki bik asih.
Beberapa menit kemudian mang didi kembali membawa plastik berisi makanan dan minuman untuk tuan nya, mereka khawatir kalau nanti tuan nya ikut sakit siapa yang menjaga bunga.
"Ini tuan ayo makan dulu. Tuan belum makan dari tadi kan". Mang didi menyerahkan plastik yang berisi makanan tadi.
"Saya belum laper dan haus mang. Makasih buat mamang aja yaa". Tolak pria paruh baya itu.
"Mamang udah tadi di kantin. Ini buat tuan sama bibik. Kalo tuan sakit nanti yang jaga non bunga siapa tuan. Yang kuatin non bunga siapa. Kasihan non bunga kalo sampe tuan juga sakit". Bujuk mang didi agar tuannya segera makan.
"Iyaa mang, saya makan yaa. Makasih yaa udah perhatian sama saya sama bunga".
"Jangan terima kasih tuan, ini kan tugas kita buat jaga non bunga. Tuan harus kuat, kita juga sedih tapi jangan sampe ikutan sakit. Ayo dihabiskan tuan". Ucap mang didi tulus
Papa rio dan bik asih makan dalam hening. Meskipun tidak selera, tapi tetap di habiskan. Ia tidak mau kalau sampai jatuh sakit juga, nanti siapa yang menjaga putri nya.
Dia tidak menyangka pernikahan putri kesayangannya itu, harus hancur dan hanya bertahan 24 jam saja.
Dia benar benar benci dengan agham yang sudah tega menyakiti keluarga nya begitu dalam.
Bahkan istri nya juga harus meregang nyawa karena serangan jantung setelah mengetahui fakta kalau agham sudah mengkhianati putri tersayang....
__ADS_1