Pernikahan 24 Jam

Pernikahan 24 Jam
Mengintip


__ADS_3

Malam pun tiba, mau tidak mau Niken harus segera bersiap.


Sungguh ia sangat malas dinner malam ini.


Apalagi pertemuan nya dengan istri agham tadi di butik yang seperti nya tidak mengetahui tentang dinner malam ini.


Niken sangat dilema untuk hadir atau tidak.


Kalau tidak hadir Niken bingung memikirkan alasan apa yang tepat untuk menghindari dinner malam ini.


Niken tak ada ide sama sekali.


Akhirnya ia beranjak dari kamar untuk mandi dan bersiap.


Beberapa saat kemudian, Niken sudah sangat cantik dengan dress satu lengan berwarna hitam mengkilap selutut.


Mengekspos kaki jenjang nya.


Wajah nya di rias natural. Tipis saja karena ia tidak mau terlalu tampil all out.


Niken berat sekali untuk melangkah.


Tetapi tiba-tiba ia mempunyai sebuah ide. Ia akan datang tapi tidak masuk terlebih dahulu.


Ia akan menjadi detektif memantau agham dari dalam mobil.


Karena kebetulan restoran nya itu berdinding kaca, jadi siapapun bisa melihat keadaan di dalam restoran walaupun kita berada di luar restoran.


Niken masih di dalam mobilnya. Ia memperhatikan pengunjung yang datang ke restoran itu.


Menit demi menit berlalu. Sampai akhirnya pandangan Niken tertuju pada satu titik dimana seseorang sedang berjalan masuk ke dalam restoran.


Mata Niken menatap tajam kearah seseorang yang baru saja masuk ke dalam sana.


Niken memperhatikan pria tersebut sambil bertanya sendiri.


"Kenapa dia datang sendiri ? Apa sih maksudnya pak agham ?" kesal Niken.


Di tempat yang sama namun di sudut yang berbeda seorang wanita juga tengah mengawasi dan menatap restoran yang sama.


Sheila...


Ia menitipkan Delia pada mertua nya, mama nya agham dengan alasan ada yang mau di beli sebentar.

__ADS_1


Di kamar nya tadi, agham tengah bersiap untuk pergi. Penampilan nya sungguh tampan, dan juga wangi sekali.


Ketika di tanya ingin pergi kemana, agham menjawab dengan nada datar akan menemui klien pak Rudi.


Sheila agak aneh dengan tingkah agham.


Selama pacaran pun jika agham hendak bertemu klien, apa lagi klien nya pria ia tak akan serapih dan sewangi ini.


Sheila pun curiga.


Bagaimana pun ia tau kelakuan agham sebagai seorang lelaki.


Apa lagi rumah tangga yang ia awali dengan cara menggoda dan merebut agham dari wanita lain.


Tentu sebagai seorang wanita, Sheila juga takut kejadian yang sama menimpa nya juga.


Karena kali ini gelagat agham sungguh mencurigakan sekali.


Sheila memperhatikan agham dari dalam mobil, sama persis dengan yang Niken lakukan.


"Kamu mau bertemu siapa sih agham, rapih sekali dan segala membawa buket bunga segala. Aku gak mau curiga, tapi lihat kamu begini aku jadi over thinking jadi nya". ucap Sheila sambil membanting stir mobil.


"Untuk apa kamu bawa bawa bunga segala kalo yang kamu temui hanya pak Rudi ?" ucap Sheila lagi.


Perasaan Sheila benar benar tak karuan.


Biarpun ia menikah dengan agham dengan cara menjadi pelakor, tapi ia juga tak mau suami nya di ambil wanita lain.


Di sisi lain...


Niken sangat bingung untuk turun atau tidak.


Perasaan nya pun tak karuan melihat agham datang seorang diri dengan buket bunga cantik yang ia bawa.


Niken berprasangka buruk dengan melihat agham datang seorang diri dan membawa buket bunga.


Bukan nya Niken merasa terlalu percaya diri, namun ia sudah cukup mengerti apa yang menjadi tujuan agham.


Ingin rasanya menghubungi istri atasan nya itu. Namun ia sendiri tak punya nomor Sheila.


Ia merutuki diri nya. Seharusnya tadi ia minta nomor telepon istri bos nya itu.


Kini Niken benar benar bingung.

__ADS_1


Kalau ia masuk, perasaan nya sungguh tidak enak.


Kalai tidak masuk, ia bingung alasan apa yang tepat untuk menghindari nya.


"Huuhhh, gue turun aja deh. Gak enak juga dia udah nungguin lumayan lama. Semoga aja gak terjadi apa apa. Dasar lelaki".


Niken benar benar merasa waspada terhadap lelaki.


Karena hubungan kedua orang tua nya tidak berjalan mulus.


Niken tinggal bersama mama nya. Karena papa nya memutuskan untuk pergi bersama wanita lain dan menikahi nya.


Meskipun papa Niken masih memberikan fasilitas yang lebih pada Niken dan mama nya, tetap saja Niken merasa hidup nya kurang berwarna.


Semua ia tutupi dan berusaha bahagia agar sang mama selalu tersenyum.


Itulah sebabnya Niken sangat selektif memilih lelaki yang akan menjadi suami nya.


Ia tak ingin kejadian orang tua nya menimpa diri nya.


Cukup rasanya ia tidak di perhatikan oleh papa nya dan kehilangan kasih sayang dari papa nya.


Ia tak ingin kehilangan kasih sayang suami nya kelak.


Maka dari itu Niken sangat menolak jika pria yang mendekati nya berlatar belakang seorang pria beristri atau terlalu agresif.


Niken berjalan dengan anggun nya.


Membuat banyak pasang mata memperhatikan nya.


Sebenarnya berat langkah nya untuk masuk. Namun tak ada pilihan. Ia harus profesional.


Di sisi lain, ketika Sheila ingin menyalakan mobilnya dan melihat ke arah depan. Seketika tangan Sheila gemetar.


Sheila ingat gaun yang di kenakan perempuan itu, adalah gaun yang di ambil sekertaris suami nya agham ketika di butik tadi.


Hati Sheila mencelos.


Seperti tak ada tenaga...


"Apa sesakit ini hati nya bunga dulu?" tanya Sheila pada diri nya sendiri.


"Kenapa kamu tega agham bohongi aku? Memang seharusnya aku tak pernah mempercayai kamu. Wanita itu cantik sekali pakai gaun itu". ucap Sheila dan tak terasa air mata nya banjir.

__ADS_1


"Ah, mungkin memang sedang ada pertemuan penting makanya Niken ikut serta. Aku harus percaya. Yaa, aku harus percaya pada suamiku". Sheila berusaha sugestikan diri nya agar berpikiran positif pada agham suaminya.


__ADS_2