
Klien tersebut adalah seorang pria yang sangat ia kenal.
Kenapa agham terkejut? Karena ternyata klien penting nya itu Romi.
Iyaa, Romi teman dekat nya itu.
"Waahh, bro. Pindah haluan kah?"..
"Ah ini terpaksa sebenarnya". Romi menjabat tangan agham lalu mereka duduk.
"Terpaksa bagaimana?". tanya agham
"Yaa papa memaksa gue menjalani bisnis nya. Padahal dia sendiri kan tau gue sedang bekerja juga. Ah tapi dasar orang tua, yaa terpaksa di turuti deh".
Jika dengan klien lain mereka akan bersikap berwibawa, dingin dan langsung pada inti nya.
Kini mereka rapat dengan santai.
Karena yaa mereka ini teman.
Meskipun agham sempat agak kesal juga karena Romi mendekati mantan istrinya.
Kedua nya membahas masalah kerja sama dengan serius dan profesional.
Niken mencatat semua yang penting ke dalam tablet nya.
Niken mendengarkan kedua nya dengan penuh konsentrasi. Mencatat apa saja yang menjadi poin penting.
__ADS_1
Niken memang karyawan yang penuh dedikasi dan loyalitas pada perusahaan.
"Kalau gitu deal yaa, proyek akan di mulai sebulan lagi. Tapi sebelum mulai, ada baiknya Lo tinjau dulu lokasi nya. Siapa tau ada yang mau di revisi?". ucap Romi.
Mereka berdua membahas kerja sama yang akan membangun sebuah pabrik teh di lokasi perkebunan teh yang mana lahan nya punya orang tua Romi sendiri.
"Apa perlu?" tanya agham
"Maaf menyela, Saya rasa perlu pak. Dalam dunia bisnis itu tidak ada kata saudara atau teman. Harus dilakukan se detail mungkin". ucap Niken.
"Luar biasa sekertaris lo gham. Tapi memang benar nona Niken yang cantik. Pendapat anda harus di ikuti oleh agham selaku CEO".
"Tolong jangan terlalu memuji sekertaris gue bro".
"Weeiittss ada apa nih?". tanya Romi penasaran. Ia berpikir jika agham mulai lagi tabiat jelek nya.
"Hati hati bro".
Romi pun meninggalkan tempat itu, lalu mampir ke cafe bunga yang tidak terlalu jauh dari situ.
Begitu juga dengan agham dan Niken yang bertolak kembali ke kantor nya.
Niken mengekori agham ke dalam ruangan nya.
Agham duduk di kursi kebesaran nya, Niken juga duduk lalu mengeluarkan tab nya dan mengetik sebentar lalu bicara.
"Semua hasil pertemuan tadi dengan pak Romi sudah saya catat di file tersebut. Saya juga sudah mencatat agenda apa saja yang akan di lakukan nanti. Silahkan bapak pelajari lagi. Kalau sudah tidak ada lagi yang perlu saya lakukan, saya pamit ke ruangan kerja saya pak". jelas Niken.
__ADS_1
Bukannya mendengarkan, agham malah memandangi Niken dengan intens.
Niken benar benar jengkel sebenarnya, tapi ini atasannya.
'Hah,, mereka semua sama saja. Mata keranjang !! sudah tau ada istri yang menunggu di rumah'. batin Niken menggerutu.
"Pak, apa saya boleh keluar?". Niken melambaikan tangan nya di depan wajah agham.
"Iyaa silahkan, eh tapi tunggu. Apa nanti malam kamu ada acara?".
Niken mengerutkan keningnya.
"Tidak ada pak. Kenapa memangnya?".
"Saya ingin mengajak kamu makan malam. Sebagai hadiah kecil saja karena kamu sudah bekerja dengan baik". Niken mencium ada gelagat tidak beres. Ia bingung bagaimana menolak nya.
"Ah sudah menjadi tugas saya pak. Tidak perlu ada hadiah segala. Terima kasih". ucap Niken sopan.
"kalau saya memaksa bagaimana?". ucap agham lagi.
'Ealaahh dasar buaya buntung. gimana niihhh". batin Niken.
"Niken?". tanya agham lagi.
"Baik pak. Tapi, saran saya ajak serta juga istri bapak, agar tidak terjadi salah paham. Mau makan malam dimana pak dan jam berapa, biar saya yang pesankan, nanti bapak dan ibu tinggal duduk manis saja". ucapan Niken membuat agham bete. Bagaimana bisa mengajak Sheila padahal agham sedang ingin berdua dengan Niken?
Niken yang tau rencana apa yang akan di buat bos nya ini, langsung mengantisipasi nya.
__ADS_1