
Niken melajukan mobilnya dengan pasti.
Ia ingin sekali ke rumah seseorang dan akan melakukan sesuatu di sana.
Dengan senyuman frustasi Niken membelokkan mobilnya ke arah perumahan elit.
Niken melaju dengan sangat yakin dan ekspresi wajah yang tak bisa dijelaskan lagi.
Setelah parkir di depan sebuah rumah mewah, Niken keluar dari mobil kemudian masuk ke dalam rumah tersebut yang kebetulan gerbangnya sudah terbuka.
"Mbak Niken? ada perlu apa mbak?" tanya keamanan rumah pada Niken yang main nyelonong masuk tanpa melihat ke arah pak satpam.
"Mbak? bapak tidak di rumah Mbak". pak satpam terus mengikuti Niken yang berjalan masuk ke ruang utama.
Kebetulan sekali pintu depan tak terkunci karena memang agham dan Sheila baru saja pulang dari rumah sakit.
Ternyata Sheila tengah mengandung anak kedua mereka.
Niken melihat pemandangan tersebut merasa kemarahan nya sudah mencapai ubun ubun.
__ADS_1
Terlihat agham sedang berada di ruang keluarga dengan istri, anak serta orang tua nya bercengkrama dengan hangat.
Dengan pandangan kosong nya, Niken berjalan pelan meskipun sudah di cegah satpam Niken tetap berjalan perlahan menuju ruang keluarga tersebut.
Kehadiran Niken pun di sadari keluarga agham dan langsung berhenti berbicara satu sama lain.
Agham yang tengah mengusap perut sang istri, Sheila langsung menatap tajam Niken yang datang dengan mata sembab dan penampilan yang sedikit berantakan.
"Ada apa nak Niken?" tanya papa Soni dengan perasaan aneh karena melihat penampilan Niken yang sedikit berantakan itu. Karena desas desus yang beredar tentang kedekatan sang putra dengan sekertaris nya ini membuat perasaan papa Soni tak karuan ketika melihat Niken saat ini.
"Niken? ada apa ya? kenapa suami saya bertanya tidak di jawab?" tanya mama Mirza yang mulai geram dengan perempuan muda di hadapannya ini karena di nilai tak sopan.
"Maksud kamu apa ya Niken?" tanya Sheila yang merasa jika dugaannya kali ini sepertinya akan tepat.
"Maksud aku? maksud aku yaa seperti apa yang kamu pikirkan Sheila. Aku rasa kamu pasti mengerti apa maksud ku". ujar Niken tanpa menoleh ke arah Sheila.
"Maksud kamu apa Niken? tolong jaga sopan santun mu yaa". ucap mama Mirza meninggi.
"Ibu tak perlu mengajari saya sopan santun. Sebaiknya ajari anak ibu untuk bisa bertanggung jawab atas semua perbuatannya. Dia itu seorang pemimpin di perusahaan nya, tapi sikap nya tak mencerminkan sebagai seorang pemimpin. Ciihh, bodoh nya aku yang sudah terpesona sama agham anak ibu. Mulutnya sangat manis saat berusaha menggapai keinginan nya. Persis ketika sedang merayu para klien untuk mau bekerja sama dengan perusahaan". ujar Niken panjang lebar.
__ADS_1
Hening....
Agham pun seolah kaku lidah nya untuk berkelit ataupun menghindar dari Niken.
"Berapa usia kandungan kamu?" pertanyaan yang keluar dari mulut Sheila yang bergetar membuat semua menoleh ke arah nya.
"Aku perkirakan usia kandungan kita sama". Jawab Niken dengan tegas.
"Sekitar tiga bulan?" tanya Sheila lagi.
"Kurang lebih". jawab Niken lagi dengan tenang.
"Niken, tapi mohon maaf. Saya tidak akan melepaskan suami saya meskipun akan ada anak di antara kalian. Toh, kalian melakukan nya di luar pernikahan. Maaf jika saya egois, tapi itulah yang saya lakukan demi pernikahan dan anak anak saya".
Mendengar perkataan Sheila, Niken semakin frustasi di buatnya.
Tak kehilangan akal, Niken pun menyiapkan kalimat 'pembelaan'.
"Bukankah, ini hal yang sama dengan yang kamu lakukan dulu? Jadi, kamu tidak boleh egois Sheila. Anak ku butuh ayah nya juga. Jadi, aku mau agham juga meluangkan waktunya untuk anakku".
__ADS_1
Melihat dua wanita sedang berdebat memperebutkan sang putra, papa Soni membuat keputusan yang sangat mengejutkan semua orang yang ada di sana.