
Waktu terus berjalan.
Beni sama sekali tak mengharapkan agar Niken kembali mendekat seperti sebelumnya.
Ia tau, jika Niken saat ini sedang kasmaran dengan suami orang.
Ingin sekali beni menegur Niken agar tak salah jalan, namun Niken nampaknya sudah sangat menjaga jarak dan cenderung menjauh dari nya.
Di kantor pun karyawan banyak yang membicarakan Niken yang sedang dekat dengan atasan nya itu.
Mereka hanya membicarakan Niken saja, karena mereka tak berani menggunjing CEO mereka.
Bisa tamat karir mereka.
Sebelum nya juga sekertaris CEO agham seorang wanita, namun tak se intens ini kedekatan nya.
Para karyawan kerap mendapati Niken sedang berdekatan dengan agham.
Tak sekedar dekat. Tapi, sangat dekat. Sampai hampir tak berjarak.
Niken tak canggung memamerkan kedekatan mereka berdua.
Ah, bukan kedekatan lagi sebenarnya.
Lebih ke kemesraan...
Sofi salah satu staf karyawan yang satu ruangan dengan beni dan satu lantai dengan Niken juga agham pernah tidak sengaja melihat Niken dan agham tengah asik berc*uman dengan panas nya di ruangan Niken yang pintu nya sedikit terbuka.
Karena kaget, Sofi tak jadi ingin ke ruangan Niken.
Ia memutuskan untuk kembali ke ruangan nya dengan langkah terburu-buru dan wajah yang pucat.
Sofi tak menyangka akan melihat pemandangan intim seperti itu.
Sofi tipikal orang yang enggan membicarakan hal yang belum pasti kebenarannya.
Tanpa bukti yang valid, Sofi pasti tidak akan ikutan heboh.
Namun, baru saja ia melihat bukti yang sangat sangat valid tentang desas desus adanya hubungan terlarang antara Niken sekertaris dan juga agham CEO perusahaan tersebut.
Kini Sofi mempercayai omongan orang tentang mereka berdua.
Sofi dengan jelas melihat Niken tengah duduk di pangkuan agham dengan saling berhadapan dan juga saling ******* satu sama lain.
Begitu panas nya sampai kancing kemeja Niken sudah ada beberapa yang terlepas.
Nampak jelas lah gundukan besar Niken yang tentu nya ada tangan agham menempel di sana.
Sofi segera berbalik arah dengan degup jantung yang sangat kencang dan tak beraturan akibat pemandangan yang tak semestinya ia lihat.
Saat di tanya kenapa oleh rekan se ruangan nya, Sofi menjawab tidak enak badan.
Padahal Sofi juga khawatir jika ada orang lain yang melihat pemandangan tadi, tentu kita tidak tau apakah orang lain itu bisa menjaga lisan nya atau tidak.
__ADS_1
Kalo Sofi dari dulu memang enggan yang nama nya bergosip.
Pemandangan tadi pun ia tak menceritakan nya kepada siapapun.
"Sof, Lo kenapa? ini berkas kenapa gak jadi di anter ke ruangan Niken?". tanya beni.
"Eh, itu mas Ben. Nanti deh Sofi kesana lagi yaa. Tadi Sofi kebelet soalnya". jawab Sofi gugup.
Beni curiga kalau Sofi sedang menutupi sesuatu.
"Yeehh, itu penting sof. Biar saya aja deh yang antar. Nanti murka bos kita kalo lambat".
Beni pun beranjak dari kursi nya, lalu menyambar berkas yang tadi menuju ke ruangan Niken.
"Mas, nanti aja. Maksudnya biar saya aja yang anter. Mas beni duduk aja". Sofi meraih lengan beni agar beni tak menuju ke ruangan Niken. Sofi pun tau, jika beni yang dulu nya pernah dekat dengan Niken, kini menjauh kembali.
Sofi takut jika beni melihat pemandangan kotor tadi.
"Kenapa sih sof? Lo tuh pucet banget tau gak. Gak enak badan yaa? udah gak apa apa gue aja".
Beni tak menghiraukan panggilan Sofi.
Ia terus berjalan ke ruangan Niken.
Belum juga sampai, langkah beni tersendat sama seperti Sofi tadi.
Beni terpaku melihat pergulatan antara Niken dan agham.
Mereka masih saling ******* dan meremas.
"Mas beni, ayo". panggil Sofi dan segera menarik lengan beni menuju kantin kantor untuk membeli minuman segar.
Mendengar nama beni di sebut, Niken menghentikan aktivitas nya dengan agham.
Dia baru sadar jika pintu ruangan nya tak sepenuhnya tertutup.
Niken panik.
Tapi, agham nampak biasa saja.
"Mas, pintu nya?". ucap Niken panik.
"Gak masalah sayang. Ya sudah kita break dulu yaa. Nanti lagi, hehe". ucap agham mengecup kening Niken dan merapihkan jas nya kemudian kembali ke ruangan nya.
Niken merasa bersalah sekali jika sampai beni melihat adegan tadi.
Meskipun mereka tidak ada hubungan apapun, tetap saja Niken merasa tidak enak.
Sedangkan di kantin, Sofi membawakan dua gelas jus jeruk dan juga air mineral dingin ke meja nya dengan beni.
"Mas Ben, di minum dulu yuk". Sofi menyodorkan jus jeruk yang terlihat segar itu.
"Makasih sof".
__ADS_1
Beni menenggak jus itu dengan sekali tegukan.
"Mas beni haus yaa?".
"Hehehe maaf yaa, iyaa haus banget ini".
"Panas yaa?". tanya Sofi.
Beni menatap Sofi.
"Maksudnya, cuaca nya panas mas Ben".
"Oohh, iyaa emang lagi panas banget banget ini kan". ujar beni
"Hhmmm, jadi itu yang bikin Sofi pucat muka nya?". tanya beni.
"uuhhhuukk uuhhhuukk uuhhhuukk ". Sofi yang tengah meminum jus nya pun jadi tersedak.
" eh eh eh, sof. Kenapa? pelan pelan aja sof minum nya". beni menepuk nepuk punggung Sofi agar pernapasan nya lega.
"Mas beni jahat banget ih bikin Sofi kesedak. Kalo gak bisa napas terus lewat gimana? iiihhh ngeselin banget. Udah ah Sofi mau balik ke ruangan Sofi". Sofi pun beranjak meninggalkan beni.
Beni pun reflek mengejar Sofi.
Sebenarnya Sofi menghindari pertanyaan dari beni. Ia bingung harus menjawab apa.
Makanya ia pura pura ngambek saja agar beni tak bertanya tanya lebih jauh lagi.
Karena Sofi benar benar bingung menjawab apa.
"Yeehh sof. Maaf deh bikin Lo keselek. Nyesek yaa dada nya?". ucap beni sambil berjalan mengimbangi Sofi yang berjalan agak berlari.
"Udah tau nanya. Ngeselin mas beni. Untung masih di beri panjang umur Sofi. Kalo gak ngenes banget, mana belum nikah". Sofi terus menggerutu sampai di ruangan nya.
Itu dia lakukan agar pikiran beni teralihkan.
Dan benar saja, cara itu ampuh untuk beni.
Dia tak bertanya atau menyinggung adegan panas tadi.
Dalam hati Sofi, dia bersyukur karena beni masih terus meminta maaf karena membuat dia tersedak tadi.
Wajah Sofi memang masih pucat. Itu di jadikan alasan Sofi agar beni tak lagi membahas adegan 21+ yang di lakukan niken dan agham di ruangan kerja tadi.
Sofi tak habis pikir.
Apa mereka tak punya pikiran?
Masa mereka tak bisa menahan nya sampai pulang kantor nanti?
meskipun Sofi kesal dengan Niken, karena telah merebut suami orang.
Meskipun Sofi tipikal orang yang cuek dengan masalah orang, namun jika kasus nya seperti ini empati nya terhadap sesama perempuan timbul.
__ADS_1
Ia tak bisa membayangkan jika suami nya yang seperti itu.
hiiiiiiii, Sofi bergidik ngeri.