
Setelah pulang dari supermarket, bunga dan romi kembali ke cafe.
Bunga menyibukkan diri di cafe kesayangan nya itu.
Romi selalu menyempatkan diri untuk datang ke cafe bunga karena memang jarak kantor dengan cafe bunga sangat dekat.
Romi begitu gencar mendekati mantan istri sahabatnya itu.
Dia yakin kalau bunga lah pendamping hidup nya kelak.
"Sudah kak, jangan gini. Kamu sudah banyak membantu. Aku tidak enak hati nih". Bunga berusaha menghentikan aktivitas romi yang membantu nya du cafe. Padahal romi harus bekerja.
"Aku gak kenapa kenapa kok. Aku kuat". romi memperlihatkan otot tangannya ke bunga.
"Bukan gitu. Kakak kan mesti kerja juga. Nanti di PHK baru tau kak, kalau di PHK nanti bingung nikahnya".
"Hehehe iyaa juga yaa. Ya sudah, aku balik kantor deh bunga. Supaya gak di PHK nanti bingung nikah sama kamu gak ada duit". Romi mulai menggoda bunga.
"iiihh apa sih kak, gak lucu deh". wajah bunga memerah karena malu.
__ADS_1
Di rumah sakit, sheila mulai mengerjapkan mata nya.
Dia mulai sadar ...
"Sheil. Kamu sadar sheil, aku panggil dokter sebentar". Agham yang baru saja tiba dari supermarket setelah membeli kebutuhan si kecil dengan bantuan bunga. Ah sungguh mulia hati nya bersedia membantu pria yang menyakiti nya.
"Haus". Sheila meminta minum.
"Iyaa sheil. Ayo minumlah dulu". Agham menyodorkan air ke bibir sheila.
"Makasih, anak aku mana?". Tanya nya lemah.
"Anak ku perempuan?" Tanya sheila lagi. Agham mendengar ucapan sheila cukup kesal, karena menyebut anak dia saja bukan anak kita.
"Sheil, itu anak kita. Bukan anakmu saja". Agham mencoba menahan sabar.
"Iyaa maksud aku anak kita. Kalau aku di sini, dia minum susu apa?".
"Kemarin aku belikan dia susu formula. Waktu aku ke supermarket aku bertemu bunga, kau tau? Dia yang membantu aku membeli semua keperluan baby kita. Dia memang baik, aku menyesal mengkhianati nya". Ucapan agham sungguh membuat sheila sangat geram. Apalagi dia baru saja melahirkan.
__ADS_1
"Kau bilang apa agham? Kamu benar benar tidak punya perasaan. Kamu ngomong itu di depan aku yang baru saja melahirkan? Keterlaluan". Pekik sheila.
"Bukan gitu maksud aku, kau juga tau kan waktu kita melakukan itu aku sudah memiliki bunga. Kamu tidak permasalahkan. Jadi kita memang sudah mengkhianati bunga wanita yang begitu baik, kalau gak ada dia kemarin aku bingung harus apa".
"Kamu punya mulut kan?? Bisa bertanya pada pegawai supermarket, gampang bukan?". Sheila benar benar dongkol dengan agham. "Dia lagi dia lagi. Kenapa sih walaupun mereka sudah pisah, kenapa dia masih yang utama? Yang di puja puja? Sial". Batin sheila.
"Yaa setidaknya dia mau membantu aku, walaupun aku sudah menyakiti nya sedemikian rupa. Berarti dia memang berhati mulia".
"Terserah kau saja. Aku ingin pulang melihat anak ku. Dia pasti rindu mami nya".
"Kita tanyakan dokter dulu yaa apakah boleh pulang saat ini atau tunggu kau benar benar pulih".
"Baiklah".
"Kalau begitu aku panggilkan dokter dulu. Aku beri tau kalau kamu sudah sadar".
"Iyaa, pergilah".
Agham pun keluar ke ruangan dokter memberi tau kalau sheila sudah sadar.
__ADS_1