
Setelah melihat berita kehamilan bunga, Niken menjadi gusar.
Kenapa Niken gusar?
Pasalnya, ia menjadi memikirkan kapan terakhir kali ia datang bulan.
Semakin di pikirkan, semakin gelisah Niken dibuatnya.
"Kamu kenapa sayang?". tanya agham pada Niken.
"Aku kepikiran sama status nya Romi".
"Memang kenapa kalau istrinya hamil? ke apa jadi kamu yang kepikiran?". agham merasa heran dengan kekasihnya itu.
"Bukan itu". ujar Niken yang nampak semakin gelisah.
"Terus kenapa?".
"Aku lupa kapan terakhir kali aku datang bulan sayang". ucapan Niken membuat agham membeku.
"M..maksud kamu?".
"Yaa masa kamu gak ngerti maksud aku sih". suara Niken mulai meninggi karena melihat ekspresi wajah agham yang nampak gelisah juga.
Niken pun berjalan ke toilet, lalu membuka laci dan mengambil sesuatu.
Setelah beberapa menit di dalam toilet, Niken keluar dengan wajah yang pucat dan berkeringat dingin.
"Ka..kamu kenapa? kok makin pucat saja. Ada apa?". tanya agham dengan panik.
Tanpa berkata apapun, Niken menyerahkan benda kecil tersebut pada agham.
Agham pun mengambilnya dan memperhatikan benda tersebut.
Agham sangat kaget dan langsung terduduk di sofa.
"Kok kamu kayak gitu sih ekspresi nya?". tanya Niken yang hampir menangis.
"Kamu bercanda kan? jangan aneh aneh deh Niken". agham tak lagi menyebutnya dengan kata sayang.
"Bercanda gimana? kamu lupa hampir setiap hari kamu 'minta'. Sekarang wajar kan kalo sudah ada hasilnya?" Niken teriak frustasi.
"Mana mungkin?" ucap agham juga dengan nada yang frustasi.
__ADS_1
"Mana mungkin kamu bilang??? agham kamu itu seorang direktur utama. Masa hal gini aja kamu gak ngerti? jangan berpura pura bodoh. Apa yang kamu tanam, yaa pasti ada hasilnya lah".
Perdebatan tak dapat di hindari lagi.
Karena agham sudah sangat emosi, akhirnya agham keluar dari apartemen tersebut dan meninggalkan Niken yang sedang menangis histeris.
Tak seperti bunga, rupanya garis dua yang Niken lihat tak memberikan kebahagiaan sedikit pun.
Malah Niken mendapat penolakan dari agham selaku ayah biologis yang ada di dalam kandungan Niken tersebut.
Niken luruh ke lantai dengan lemas.
Niken tak tau lagi harus bagaimana.
Sedangkan mama nya juga sudah kesal dengan Niken karena memiliki hubungan dengan pria beristri.
Padahal mama sudah sangat senang Niken dekat dengan beni saat itu.
Namun saat tau kenyataan putrinya malah memilih pria beristri, mama Niken sangat menentang hal itu.
Sampai saat ini pun mama Niken tak pernah menghubungi anaknya lagi.
Mama sangat kecewa dengan apa yang Niken lakukan.
Meskipun mama sangat rindu, tapi mama sudah terlalu kecewa dengan putrinya itu.
Pulang kerumah mama pun tak mungkin, pasti mama akan menolaknya juga.
Dulu mama menentang hubungan nya dengan agham. Tidak mungkin rasanya mama menerima nya kembali apalagi dengan kondisi tengah berbadan dua tanpa seorang suami.
Pantas saja akhir akhir ini, Niken merasa sering mengalami pusing kepala sampai mual di pagi hari.
Awalnya ia mengira sakit lambung nya kumat, tetapi setelah melihat berita bunga hamil Niken menjadi kepikiran jika yang ia rasakan adalah kehamilan.
"Kenapa begini siiiiiihhhhh???? br*ngsek kau agham. Aku gak akan biarin kamu lari gitu aja".
Niken pun bersiap ke suatu tempat.
Dengan mata yang sembab, Niken pun merapihkan penampilan nya.
Setelah itu dia meraih kunci mobil lalu melajukan mobilnya.
Sesampainya Niken langsung memarkirkan mobilnya.
__ADS_1
Sampailah dia didepan rumah sakit.
Ia pergi ambil nomor antrian lalu ikut mengantri dengan pasien lainnya.
Dari sudut matanya, ia melihat pemandangan yang sangat membuat mata nya perih.
Dia melihat beni sedang ikut mengantre dengan wanita yang waktu itu ia lihat di pernikahan bunga dan Romi.
Niken sendiri tidak mengerti mengapa beni dan wanita itu ikut antre di poli obgyn?
Tanpa orang lain tau, sebenarnya beni telah melangsungkan pernikahan nya dengan wanita pilihan ibu nya.
Romi pun tau beni telah menikah. Hanya saja memang tidak mengadakan resepsi.
Bukan beni tak mampu, tapi wanita pilihan ibu nya itu tidak ingin memberatkan beni juga wanita itu terlihat pemalu sekali.
Beni dan keluarga pun tak masalah jika hanya syukuran kecil-kecilan saja.
Saat ini beni tengah menemani sang istri periksa kandungan.
Memang belum terlalu nampak perut nya membesar. Karena memang masih muda usia kandungan nya.
Niken langsung menyembunyikan wajah nya dengan menggunakan masker dan kacamata.
Kini giliran nama Niken yang di panggil.
Saat nama Niken di panggil, beni pun menoleh ke arah pintu.
Ia yakin jika itu Niken rekan kerja nya.
"Kamu lihat apa bang?". tanya istri beni yang bernama Aisyah.
"Ah, itu neng. Kayaknya tadi yang di panggil suster temen Abang deh. Temen kantor. Dia kan masih single, kenapa periksa ke poli kandungan yaa?". tanya beni.
"Bang, gak selama nya yang berobat ke dokter kandungan itu sedang hamil. Abang buang fikiran buruk jauh jauh yaaa. Bisa aja temen Abang lagi mengalami siklus haid yang gak teratur atau ada penyakit yang berkaitan dengan rahim". jelas Aisyah dengan lembut.
"Oh gitu yaa. Kirain yang periksa kesini yaa ibu hamil semua sayang. Maaf yaa aku sempat bersuudzon". beni pun mengecup kening istrinya itu.
"Bang, malu ih banyak orang tau". Aisyah memukul pelan lengan beni.
Beni ingin sekali menunggu pasien bernama Niken tadi keluar. Namun, Aisyah kepingin ditemani ke toilet.
Tak lama kemudian Niken keluar dengan membawa hasil USG dan vitamin yang diberikan dokter.
__ADS_1
Dokter menyatakan Niken tengah hamil usia kandungan sudah menginjak dua bulan setengah.
Setelah itu Niken ingin pergi ke rumah seseorang.