Pernikahan 24 Jam

Pernikahan 24 Jam
Bicara


__ADS_3

Wanita tadi pun keluar juga. Ternyata dia juga parkir mobil nya di sebelah mobil Niken.


Saat Niken hendak masuk ke mobil, wanita tadi menahan nya untuk tidak masuk ke mobil dulu.


"Maaf". ucap wanita berkacamata itu.


"Yaa, ada apa?" tanya Niken


"Bisa bicara sebentar?". tanya wanita tadi yang masih menggunakan masker dan kacamata nya.


"Siapa ya? kalau tidak penting saya akan pulang karena ada yang sedang sakit di rumah". Niken bicara seperti itu karena khawatir kalau wanita itu suruhan agham bos nya.


"Ini aku". wanita itu melepas masker dan kacamata nya.


Kenal sekali Niken dengan wanita di depan nya ini.


"Bu Sheila??". ucap Niken terkejut.


"Iyaa Niken. Ini aku Sheila. Bisa bicara sebentar? atau kamu buru buru? Siapa tadi yang sakit?". tanya Sheila.


"Apa ada hal yang darurat Bu?". Niken bertanya balik


"Bagi saya sangat penting sih Niken. Tapi, jika kamu memang sedang terburu-buru tidak apa, lain kali kita bicara".


Sheila benar benar sudah berubah. Dari tutur kata nya saja sudah mulai membaik. Tidak seperti dulu yang cepat sekali emosi jika menghadapi sebuah masalah, bahkan masalah sepele pun Sheila akan cepat emosional.


Sangat berbeda dengan Sheila yang sekarang.


Lebih bijaksana dan mudah menahan emosi.


Sheila menyadari bahwa hubungan nya dengan agham di awali dengan sebuah kesalahan fatal.


Hubungan yang mereka arungi bersama di atas penderitaan dan kesedihan orang lain.


Sheila menangisi hubungan nya dengan agham saat ini.


Sheila benar benar miris melihat rumah tangga nya saat ini.


Apa lagi jika sedang bersama putri cantik nya. Ia lebih miris dengan rumah tangga nya dan merasa bunga adalah wanita yang masih di lindungi Tuhan karena tidak bersatu dengan lelaki macam agham yang mudah sekali mempermainkan perasaan wanita.


"Aku akan mengirim pesan pada saudara ku untuk menemani yang sedang sakit berobat. Jadi, kita bisa ngobrol sebentar sheil".


Sheila mengetik pesan ke Mila karena Niken agak sore datang nya, ada suatu hal yang penting di kerjakan.


"Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk ku yaa Ken". ucap Sheila.

__ADS_1


"Iyaa, tidak masalah sheil. Ayo kita cari tempat yang enak dan nyaman buat bicara soal yang penting itu".


Niken pun melaju kan mobil nya di ikuti oleh Sheila di belakang.


Mereka membawa mobil nya masing-masing tentu nya.


Niken belok ke kiri, ke sebuah cafe yang agak sepi dan cocok untuk bicara penting menurut Sheila itu.


Kedua mobil sudah terparkir rapih.


Mereka pun masuk dan mencari meja yang agak lengang dari pengunjung.


"Di sini saja Ken". ucap Sheila sambil mendaratkan tubuh nya di kursi empuk restoran.


"Oke boleh deh". Niken pun memanggil pelayan, lalu kedua nya memesan camilan dan minuman saja.


Sambil menunggu, Niken bertanya pada Sheila perihal penting yang ingin di bicarakan.


"Sheil, ada hal penting apa yang mau kamu katakan?". tanya Niken serius.


"Oh ya, boleh aku tanya lagi? tadi di minimarket kamu terus lihat ke arah jari ku. Memang kenapa dengan jari ku? apa kamu kepo dengan jam tangan ku? tidak mungkin kan? punya mu lebih bagus dan mahal sheil. hihihi". Niken malah cekikikan.


"Ah, punya ku ini kW super Ken. hahaha". Sheila juga geli sendiri.


Perasaan tegang dan canggung tadi seketika mencair begitu saja.


"I, itu". Niken jadi gugup sendiri


"Tidak perlu tegang begitu Ken. Santai saja, ayo di minum dulu".


Pas sekali pesanan mereka tiba.


Niken langsung menyedot minuman nya banyak.


Setelah lega...


"Bagaimana kamu bisa tau? dan kenapa malam itu kamu tidak datang sheil?". Niken malah bertanya balik.


"Jawab dulu pertanyaan ku, baru ku jawab pertanyaan mu". ucap Sheila.


Sheila pun penasaran dengan Niken, apa mereka ada hubungan dengan suami nya. Atau bagaimana?


Bingung itu yang ada di kepala Sheila.


"Oke, tunggu".

__ADS_1


Niken membuka tas nya, dan mengeluarkan kotak kecil yang di berikan oleh agham malam itu.


"Ini, aku tidak memakai nya sama sekali sheil. Aku ingin mengembalikan ini, tapi tidak di perbolehkan pak agham. Aku juga tidak mengerti kenapa dia memberikan aku hadiah mahal seperti ini. Maaf, aku tidak ada maksud apa pun sheil".


Sheila memandangi kotak kecil itu dan membuka nya.


Cincin berlian yang sangat cantik.


Cincin yang sangat di inginkan Sheila waktu itu, namun agham berkata bahwa ia belum sempat membeli nya.


Mata Sheila berkaca kaca melihat cincin cantik itu. Cincin yang sangat dia idamkan.


"Kamu kenapa sheil?? Apa aku ada salah kata?? tolong jawab juga pertanyaan ku kenapa kamu tidak datang bersama pak agham malam itu?".


"Tidak Niken. Aku tidak apa apa. Kau tau? cincin ini sebenarnya cincin yang sudah lama sangat ku idam kan. Tapi agham berkata belum sempat membeli nya. Sekarang dia sudah membeli nya, tapi bukan di berikan kepada ku". luruh sudah air mata Sheila.


"Perihal kenapa aku tidak datang? karena suami ku tidak mengajak ku malam itu Ken".


"Tapi sheil, rencana nya memang kamu ikut. Aku sudah memberi saran pada pak agham agar mengajak serta kamu dan anak mu agar tidak terjadi salah paham seperti ini. Aku juga yang memesan meja untuk kita berempat. Tapi waktu aku datang, pak agham malah duduk di meja yang bukan pesanan ku". jelas Niken.


Penjelasan Niken menjadi cukup bukti untuk Sheila. Bahwa suami nya, tengah jatuh hati pada wanita lain yang ada di hadapannya ini.


"Iyaa aku tau Ken. Aku ada di meja lain malam itu. Karena aku penasaran sekali kemana suami ku akan pergi malam malam dengan pakaian yang sangat rapih dan wangi".


"Wanita mana yang tak curiga ya kan?". sambung Sheila.


"Aku tidak akan memakai cincin pemberian suami mu sheil. Ku kembalikan saja pada mu". Niken menyodorkan kotak kecil itu.


"Tidak Ken, itu sudah menjadi hak mu karena kerja mu bagus".


"Oh ya, kenapa jam segini kamu di luar? ini masih jam kantor Ken". Sheila mengalihkan pembicaraan mereka. Karena dada Sheila mulai sesak oleh kenyataan.


"Ini, ada saudara ku yang butuh bantuan untuk ke rumah sakit. Jadi aku izin pulang lebih awal". jelas Niken.


"Oh kalau begitu, kita pulang saja sekarang. Kamu pasti buru buru tadi yaa? maaf mengganggu waktu mu ya Ken?". ucap Sheila


"Tidak masalah Sheila. Apa kamu tidak ada lagi yang ingin di bicarakan?". tanya Niken


"Cukup dulu saja Ken. Kita bisa bicara lagi lain waktu. Kamu punya nomor ponsel ku kan?".


"Oh iyaa ada. Baiklah kalau begitu aku pamit duluan yaa sheil? tidak apa kan?"


"Pergilah Ken. Terima kasih atas waktu nya".


Niken pun pergi dan menuju ke rumah Mila.

__ADS_1


Sedangkan Sheila masih duduk di sana dan termenung.


__ADS_2