Pernikahan 24 Jam

Pernikahan 24 Jam
Maaf


__ADS_3

Keesokan harinya, orang tua yang masih sangat romantis hingga kini tengah bersiap untuk mengunjungi Niken.


Mama Mirza dan Papa Soni merasa bersalah, karena bagaimanapun juga anak nya agham juga bersalah dan harus bertanggung jawab atas Niken.


Maka dari itu, hari ini mereka akan pergi ke kediaman Niken untuk memberikan peralatan bayi dan juga membawakan buah serta tabungan untuk Niken dan cucu nya.


Setelah dirasa cukup, mereka langsung menuju ke kediaman orang tua nya Niken dengan satu mobil pickup berisi perlengkapan bayi, stroller dan lainnya.


Tak lama, mama Mirza dan papa Soni pun sampai di kediaman Niken.


Terlihat juga Niken sedang memangku bayi nya agar terkena sinar matahari pagi.


Mama Mirza terpaku melihat bayi yang di pangku Niken begitu lucu dan mirip sekali dengan agham waktu bayi dulu.


Niken yang merasa di perhatikan seketika menoleh, dan mendapati dua orang dan mobil pickup yang penuh dengan barang barang seperti orang mau pindahan tengah berdiri di depan rumah nya.


Niken langsung meminta tolong bibik untuk membuka pintu pagar rumah nya.


"Permisi Niken, selamat pagi". Ucap mama Mirza.


"Iyaa pagi Bu, pak". jawab Niken.


"Niken, apa ini ?". kalimat mama Mirza terhenti ketika berada lebih dekat lagi dengan bayi nya.


"Iya Bu. Benar. Kan dulu saya sudah sampaikan bahwa saya mengandung cucu mu". ujar Niken dengan tenang.

__ADS_1


"Pah, ini. Tidak perlu tes apapun lagi. Ini memang anak agham pah". ujar mama Mirza mulai menangis.


"Ma, sudah jangan menangis. Malu jika dilihat orang". ujar papa Soni.


"Sebaiknya kita ke dalam saja yaa Bu, pak".


"Ah, iyaa. Maaf Niken. Pah, tolong itu bawa masuk semua perlengkapan nya".


Mama Mirza dan papa Soni pun masuk ke dalam rumah orang tua Niken dan mama nya Niken yang sedang sibuk dengan catatan kerja nya kaget melihat kedatangan orang tua dari pria yang membuang anaknya itu.


"Mau apa kalian kesini?". Itulah kalimat yang keluar dari mulut mama Niken ketika melihat orang tua agham.


"Mah, jangan emosi dulu. Kita duduk dulu yuk. Mari pak, Bu. Silahkan duduk. Bik, tolong buatkan suguhan yaa".


"Kenapa kamu mengizinkan mereka masuk? dulu saja kau di buang begitu saja. Sekarang mau apa bapak dan ibu kemari?". tanya mama Niken sedikit emosi.


"Mah, tenang dulu mah. Aku mohon kita dengar dulu tujuan mereka kesini". ujar Niken menenangkan mama nya.


"Bu, maaf sebelumnya karena kami dan anak kami sudah menyakiti hati Niken dan ibu. Kami benar benar menyesal atas perbuatan anak kami agham terhadap nak Niken. Namun, ibu pun pasti mengerti perasaan kami dan menantu kami ketika tau agham bermain api dengan wanita lain dan hancur rumah tangga nya". ujar mama Mirza dengan hati-hati.


"Benar ma, disini Niken juga bersalah. Tidak sepenuhnya salah agham. Karena Niken lah yang terus menerus mendekati agham padahal Niken tau agham sudah memiliki istri. Mungkin inilah balasannya mah". ujar Niken berkaca-kaca sambil menatap buah hati nya.


"Maka dari itu, saya menyesal atas perbuatannya agham dan juga menyesali perbuatan saya yang tidak memikirkan perasaan Niken waktu itu. Kami kesini untuk berusaha bertanggung jawab atas bayi ini. Bagaimana pun, bayi ini juga cucu kami. Darah nya mengalir darah keturunan kami. Siapa nak nama cucu ku ini?" Tanya papa Soni pada Niken.


"Namanya Dwiki Dharmawan pak. Laki laki tampan ini namanya Dwiki".

__ADS_1


"Boleh ibu gendong cucu ibu sebentar?". tanya mama Mirza.


"Tentu". Niken pun menyerahkan bayi nya ke mama Mirza dan di sambut dengan lembut.


"Maafkan Oma ya sayang. Oma sempat meragukan mu. Tapi, lihat! kamu sangat mirip papa mu waktu bayi. Oma seperti menggendong papa mu dulu". Mama Mirza menitikan air mata nya.


Mama nya Niken pun ikut terharu melihat pemandangan itu.


"Pah, lihat. Ini agham waktu bayi. Nak, sudah besar jadilah pria yang baik dan bertanggung jawab yaa. Jangan seperti papa mu itu. Nakal".


Niken pun terenyuh melihat interaksi nenek dan cucu nya itu.


"Niken, kami bawakan peralatan Dwiki. Kami tidak tau apa yang dibutuhkan. Jadi kami putuskan untuk membeli semuanya. Juga ini ada sedikit tabungan pendidikan untuk Dwiki. Jika nanti ada yang kurang, kamu bisa memberitahu kami kapanpun yaa". Ujar papa Soni sambil menyodorkan buku kecil yaitu buku tabungan untuk Dwiki cucu nya itu.


Niken pun membuka buku tabungan tersebut dan terkejut dengan nominal nya yang sangat banyak.


"Pak, Bu. ini terlalu banyak. Lagi pula Dwiki belum butuh biaya pendidikan".


"Terima saja, itu tidak ada artinya dengan perjuangan kamu melahirkan nya. Pakailah untuk keperluan Dwiki". ucap papa Soni.


"Terima yaa nak. Jangan ditolak. Ibu akan sedih jika kamu menolaknya". ujar mama Mirza.


"Terima kasih Bu. Seperti ini saja saya sudah tenang melihat nya. Cucu saya sudah di akui oleh Oma opa nya". ucap mama Niken kemudian.


"Kami yang harusnya berterima kasih. Karena masih bisa di pertemukan dengan dwiki.

__ADS_1


__ADS_2