Pilihan Takdir

Pilihan Takdir
Permintaan Papa


__ADS_3

Pagi ini seperti biasanya, kemacetan melanda kota Jakarta. Entah sabar atau tidak, kendaraan harus melaju sesuai arus.


"Sial, sudah telat bangun malah kena macet" ucap Kevin dengan kesalnya.


Ditengah kemacetan, tiba-tiba handphone Kevin berbunyi


"Hallo, ada apa Ren?" Tanya Kevin


Rendi adalah adik Kevin yg terpaut usia 4 tahun, mereka bukanlah saudara kandung. Karena Kevin sendiri merupakan anak adopsi dari keluarga Wijaya, begitu juga Rendi yang juga anak adopsi. Meski tidak dekat, mereka terbilang akur dan tidak ada masalah.


"Papa masuk rumah sakit, jantungnya kambuh lagi. Kamu cepat kesini" jawab Rendi di seberang sana


"Oke. Aku kesana sekarang" jawab Kevin


Kevin dengan hati-hati melajukan mobilnya. Semula niat Kevin akan ke store, tapi sekarang harus ke rumah sakit. Kevin sendiri berusia 25 tahun, dia mengelola bisnis keluarga Andi Wijaya dibidang store yg menyediakan pakaian tren. Dan Kevin yg mengelola anak cabang di daerah Jakarta Selatan.


"Bagaimana keadaan papa Ren?" Tanya Kevin kepada Rendi


"Lagi diperiksa sama dokter, papa nanyain kamu makanya aku nelpon kamu" jawab Rendi


10 menit menunggu, kemudian dokter keluar menghampiri Kevin dan Rendi


"Bagaimana keadaan papa kami dok?" Tanya Rendi kepada dokter

__ADS_1


"Kondisi jantung pasien agak lemah, sepertinya pasien tidak ada semangat untuk hidup" jawab dokter dengan raut lemas


Memang Andi Wijaya sudah mengidap sakit jantung sejak kematian istrinya 5 tahun lalu dan semangat hidupnya menjadi berkurang.


"Kevin.. Rendi" ucap papa Andi lemah ketika dua puteranya masuk kamar pasien


"Papa istirahat dulu, jangan bergerak dulu dan jangan berpikir yang macam-macam" ucap Rendi sangat perhatian


"Nak, papa ingin meminta beberapa hal kepada kalian" ucap papa Andi dengan mengambil nafas pelan.


"Meskipun kalian bukan putera kandung papa, tetapi kalian adalah kebahagiaan kedua papa setelah mama kalian" lanjut papa Andi berbicara


Kevin dan Rendi hanya mendengarkan dengan seksama.


"Baik pa" jawab Rendi


"Kevin..." Panggil papa Andi


"Ya pa.." Kevin mendekati papa


"Kamu pasti tau harus bagaimana setelah papa sudah tiada. Kamu sudah cukup handal untuk menggantikan papa" ucap papa Andi lirih


"Papa jangan berkata seperti itu, papa akan segera sembuh dan bisa kembali ke store lagi" ucap Kevin menyemangati papanya.

__ADS_1


"Ada satu hal lagi yang papa minta dari kamu nak" ucap papa Andi


"Ya pa.. apa itu?" Tanya Kevin


"Papa ingin kamu menikahi gadis pilihan papa. Dia adalah keponakan dari sahabat papa, tolong kamu jangan menolaknya" minta papa Andi kepada Kevin


Kedua puteranya saling diam. Terlihat jelas Kevin sangat terkejut dan ingin menolak.


"Apakah tidak ada permintaan lain selain itu pa? Kevin ingin memilih calon pasangan Kevin sendiri. Seseorang yang Kevin cintai dan mencintai Kevin" jawab Kevin meyakinkan


"Tidak bisa nak, tolonglah kabulkan permintaan papa yang satu ini, karena papa sudah berjanji kepada sahabat papa" ucap papa Andi


Kevin hanya terdiam


"Pengacara Han akan menunjukkan detail dari surat wasiat papa, papa ingin kalian berdua menjalankan nya dengan baik" ucap papa Andi yg sangat lemas


Rendi masih menunggui papanya. Sementara Kevin memilih pergi meninggalkan rumah sakit tanpa pamit karena kekesalannya


"Apa-apaan papa, pasanganku adalah urusanku, bukan urusan papa. Kenapa harus ada perjodohan seperti itu" gumam Kevin menggerutu


Kevin memang tipe anak yang sedikit keras kepala dan juga emosional


Kemudian Kevin melajukan mobilnya ke store untuk mengecek keadaan disana.

__ADS_1


3 hari setelah papa Andi mengutarakan permintaannya, papa Andi meninggal dunia dengan memeluk bingkai foto mama Lia. papa Andi juga dimakamkan disebelah makam mama Lia sesuai keinginannya ketika masih hidup. Kevin dan Rendi mengantarkan papanya ke tempat peristirahatan terakhirnya. Raut kesedihan terlihat di wajah kedua putera papa Andi.


__ADS_2