
"Lalu apa maksud kamu datang ke persidangan ini jika sebenarnya kamu tidak ingin bertanggung jawab??" teriak Ana yang masih terisak
"Aku menyuruhmu menggugurkan anak ini..!! Bukan malah menjadikan Kevin sebagai kambing hitam..!!" bentak Doni tidak mau kalah
"Dan bagaimana bisa kamu punya nyali untuk membuat masalah dan melawan Kevin?? Dan pengacara tua itu.. bagaimana bisa kamu mengenalnya..?? Tidak mungkin kamu memiliki koneksi dengan pengacara keluarga Kevin..
Jelaskan padaku..!!" teriak Doni
Ana tidak bergeming dan masih menangis tersedu-sedu
"Kamu sendiri yang membuat rumit masalah.." ucap Doni pelan sambil mengusap kasar wajahnya
Lama keduanya terdiam. Hanya suara sesenggukan dari Ana yang masih terdengar. Kevin yang berada di luar ruangan tersebut mendengar dengan jelas perdebatan antara keduanya. Kevin ingin segera masuk dan memaki keduanya, namun hal tersebut ia urungkan melihat kondisi Ana membuatnya tidak tega
"Sebenarnya aku sudah ingin pergi meninggalkan kota ini bersamanya dan membesarkannya sendiri" tiba-tiba Ana membuka suara
"Tapi tiba-tiba kak Jeanny mendatangiku dan memaksaku melakukan semua ini" lanjut Ana dengan suara terisak
"Jeanny?? Jeanny anak om Handoko?? pengacara itu??" tanya Doni terkejut
Ana tidak menjawab dan hanya menganggukkan kepala.
"Bukankah seharusnya dia ada London?? Lalu untuk apa dia melakukan semua ini??" tanya Doni masih penasaran
"Aku tidak tau motif dia melakukan semua ini. Dia selalu mendatangiku dengan mengiming-imingi kalau anakku akan memiliki seorang ayah jika aku melakukan perintahnya. Dan juga.. dia menyandera adikku" suara Ana semakin terisak
"Kenapa kamu tidak menceritakan semuanya padaku??" ucap Doni dengan nada meninggi
__ADS_1
"Untuk apa aku menceritakan semuanya kepadamu?? Kamu tidak akan bertanggungjawab.. kamu bahkan tidak ingin anak ini lahir.. kamu tidak pernah peduli denganku.." teriak Ana dengan histeris
Kevin yang mendengar pernyataan Ana tersebut membuat hatinya bergemuruh. Semua masalah yang datang di hidupnya ternyata direncanakan oleh seseorang, dan seseorang tersebut adalah Jeanny. Jeanny yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri ternyata tega melakukan semua itu kepadanya.
Kevin menyadari bahwa Jeanny dan pengacara Handoko berusaha menghancurkan kehidupannya. Mereka mencoba membuat ombak dalam pernikahannya dengan Risa. Ditambah lagi perampokan yang terjadi di store belum lama ini diketahui bahwa Jeanny adalah dalang dibalik kejadian tersebut. Kevin membiarkan saja tentang masalah perampokan di store, karena dia masih menganggap Jeanny adalah anggota keluarganya. Namun, mengetahui kenyataan yang sebenarnya membuat hati Kevin hancur, marah dan juga kecewa kepada Jeanny dan juga pengacara Handoko.
Kevin pergi meninggalkan pengadilan dan melajukan mobilnya dengan masih membawa perasaan kecewa dan marah. Dalam pikirannya dia hanya ingin segera pulang dan bertemu dengan Risa. Memeluk dan mencium Risa akan membuat perasaannya lebih tenang.
Tiba-tiba handphone Kevin berdering dan diliriknya nama Miko disana. Kevin ingin mengabaikannya, namun mengingat kerja keras Miko selama ini membuat dia mengurungkan niatnya.
"Hallo..." sapa Kevin
"........ ......." suara Miko diseberang sana
"Baik, aku akan segera kesana" sahut Kevin
"Sayang.. setelah persidangan, ada permasalahan yang harus aku urus. Aku akan pulang sedikit terlambat. Tunggu aku.. Aku mencintaimu" Tulis Kevin kepada Risa
Dengan senyum tipis dan perasaan yang lebih tentang, Kevin kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Setelah mengemudi hampir satu jam, Kevin berhenti di depan sebuah rumah tua yang sudah pudar cat dindingnya. Terlihat Miko sedang berdiri menunggu kedatangan Kevin.
"Dia ada di dalam.." ucap Miko begitu Kevin berjalan mendekat kepadanya
Kevin dan Miko melangkah masuk ke dalam sebuah rumah tua yang terlihat sudah lama kosong. Ketika mereka sudah di dalam, keduanya disambut oleh Jafar dan juga seorang laki-laki muda yang sedang terikat disebuah kursi dengan mulut yang sudah diplester dengan lakban.
"Apa dia sudah mengaku?" tanya Kevin kepada Jafar
__ADS_1
"Dia tidak tau identitas orang tersebut bos. Yang dia tau hanya sebatas dia adalah seorang perempuan muda" jawab Jafar
Kevin mengernyitkan dahinya mencoba mencerna ucapan Jafar.
"Dia tidak pernah bertemu langsung dengan orang tersebut. Tiba-tiba ada seorang perempuan muda yang menelponnya untuk melakukan kejahatan tersebut bos. Dia tergiur dengan bayaran besar yang diberikan oleh perempuan tersebut" lanjut Jafar menjelaskan
Kevin dengan kasar melepas lakban hitam yang melekat pada laki-laki tersebut.
"Berapa bayaran yang diberikannya kepadamu?" tanya Kevin geram pada laki-laki tersebut
"Apa kamu akan memberiku lebih??' tanya laki-laki tersebut dengan sinis
BRUUUUKKKK...
Sebuah tinju dari Kevin mendarat di pipi kiri laki-laki tersebut.
"Jangan menguji kesabaranku" ucap Kevin dengan geram. Lalu Kevin mengambil handphone nya dan mencari sesuatu
"Apa dia yang menyuruhmu??" tanya Kevin sambil menyodorkan handphone nya dan memperlihatkan sebuah foto. Terlihat dalam foto tersebut seorang perempuan muda yang cantik.
"Mana mungkin wanita secantik ini bisa melakukan kejahatan seperti itu.." jawab laki-laki tersebut masih dengan sikap sinisnya
"Kamu benar-benar ingin bermain denganku!! Urus dia sampai dia benar-benar mengaku dan terbukti siapa dalang sebenarnya" perintah Kevin kepada Jafar
"Baik bos.." sahut Jafar mengangguk
Kevin yang sudah mendidih emosinya kemudian keluar dari ruangan tersebut. Seharusnya hari ini dia tau siapa yang dengan sengaja membuat Risa jatuh dan terpeleset hingga akhirnya mengalami keguguran. Namun ternyata laki-laki tersebut malah ingin bermain teka-teki dengannya.
__ADS_1
Sudah jam tujuh malam dan Kevin masih di rumah tua tersebut. Laki-laki tersebut masih juga belum membuka mulutnya. Kevin tidak sabar menunggu lalu menyuruh Jafar mengurus laki-laki tersebut. Kevin kembali melajukan mobilnya untuk pulang dan segera menemui Risa.