
Cafe Ex
Ana mendengus kesal karena menunggu lama. Sudah hampir 1 jam tapi Kevin belum terlihat batang hidungnya. Sesekali dia melihat jam yang melingkar di tangannya dan berpaling muka. Dari kejauhan Ana melihat sosok pria turun dari mobil BMW putih.
"Udah 1 jam aku nunggu kamu.." ucap Ana pada pria tersebut ketika sudah mendekat dengan nada sedikit kesal
"Ayo ikut aku" ajak Kevin dengan masih di posisi berdiri
"Kemana??" tanya Ana penasaran
"Kita cek kandungan. Kamu mau aku bertanggungjawab kan???" ucap Kevin sinis
Ana berpikir sejenak
"Kita ke rumah sakit biasa aku pergi cek" ucap Ana
"Oke" sahut Kevin singkat, kemudian berjalan keluar menuju mobilnya yang terparkir.
Kevin dan Ana masuk mobil lalu Kevin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Keduanya saling diam, Kevin sebenarnya enggan pergi, namun demi Risa dia harus melakukan ini.
"Stop.." tiba-tiba Ana meminta mobil diberhentikan
Kevin terkejut namun tidak memperdulikan ucapan Ana, dia terus melajukan mobilnya.
Ana berteriak dan mencoba paksa membuka pintu mobil, namun Kevin lebih pintar darinya, Ana hanya membuang tenaga sia-sia.
Kevin sampai di sebuah rumah sakit
"Ayo turun.." ucap Kevin berteriak
"Hei.. kamu meneriaki ibu dari anakmu??" sahut Ana sinis
Kevin tidak memperdulikan kata-kata Ana, dia menarik paksa lengan wanita itu dan ditarik masuk ke dalam. Tangan Ana sampai memerah dna kesakitan karena cengkraman Kevin. Semua orang melihat ke arah Kevin karena sikap kasarnya pada Ana. Tapi dia tidak peduli dengan semua itu.
Sampai Kevin masuk ke dalam sebuah ruangan yang luas. Dia melepas kasar tangan Ana dan kemudian membanting tubuhnya sendiri duduk di sofa
"cepat cek dia.. " ucap Kevin kesal pada dokter yang ada di ruangan tersebut
"Tenang Vin.. " bujuk dokter tersebut yang tidak lain adalah Andreas
"Silahkan berbaring nyonya.." perintah Andreas pada Ana
__ADS_1
Ana mulanya ragu, tetapi kemudian dengan perlahan dia membaringkan tubuhnya di atas ranjang untuk di periksa.
Andreas mulai membuka blouse yang menutupi perut Ana dan mengoleskan gel di atas perut Ana. Dokter Andreas mengamati dengan teliti gambar yang ada pada monitor begitu juga dengan Kevin yang ikut melihat.
"Perkembangan janinnya bagus dan sehat juga detak jantungnya baik. Usianya memasuki minggu ke dua belas" jelas Andreas
"Hhhh.. minggu ke dua belas? berarti usia kehamilannya 3 bulan kan dok?" tanya Kevin sinis pada dokter
"Iya, benar sekali" sahut Andreas
"Tapi katanya.. saya berhubungan dengan dia sekitar delapan minggu yang lalu, apakah bisa hamil kalau seperti itu dok?" tanya Kevin kecut sambil melirik Ana
Andreas menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia berpura-pura tidak bisa menjawab. Wajah Ana seketika menjadi pucat, dia terlihat takut dan was-was
"Mana mungkin bisa seperti itu dok. Dokter pasti salah, karena bulan kemarin saya masih menstruasi. Mana mungkin hamil bisa menstruasi" bela Ana
"Begini bu.. terkadang hamil juga bisa mengeluarkan flek atau noda darah. Tetapi menurut cek USG ini memang benar kandungan ibu sudah memasuki minggu ke dua belas." jelas Andreas
"Kamu ngku aja.. siapa sebenarnya ayah dari anak ini. Dia jelas-jelas bukan anakku" bentak Kevin pada Ana sambil menunjuk perut Ana
"Ini memang anak kamu.." ucap Ana sambil terisak
"Bisa pak.." sahut Andreas
"Tapi saya keberatan. Saya tidak mau kesehatan janin saya terganggu" elak Ana
"Kalau begitu kita tidak bisa menikah, karena aku sangat ragu itu adalah anakku" ucap Kevin tegas.
Ana turun dari ranjang dan memandang sinis pada Kevin. Kemudian dia berlalu meninggalkan rumah sakit.
"Usia kehamilannya benar-benar tidak sesuai dengan waktu kalian berhubungan" ucap Andreas
"Iya. Dan aku yakin itu memang bukan anakku" sahut Kevin tegas
"Semoga itu benar, dan pernikahanmu akan baik-baik saja" ucap Andreas mendoakan
Kevin kemudian melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah. Dia tidak ke Store lagi karena sangat ingin bertemu dan memeluk Risa.
Rumah Kevin
Tok.. tok.. tok..
__ADS_1
suara pintu diketuk, Risa yang mendengarnya langsung menuju ke sumber suara
Ceklek.. pintu dibuka
"Selamat siang bu.. ada paket untuk Risa Amelia" ucap seorang kurir
"Oh iya dengan saya sendiri" sahut Risa
Sebenarnya Risa sedikit terkejut dengan pengiriman paket tersebut, karena dia merasa tidak memesan apapun.
"Pengirimnya siapa ya?" tanya Risa
"Dari saudara Harun, silahkan tanda tangan disini" jawab kurir tersebut sambil memberikan sebuah kertas
Risa tanpa ragu langsung menandatangani pengiriman tersebut, setelah itu kurir pergi dan Risa kembali masuk ke dalam
"Bapak kirim apa sih.. kok repot2 segala" gumam Risa sambil memegangi kotak yang berukuran sedang
Tanpa pikir panjang Risa langsung membuka kotak tersebut, dilihatnya terdapat tulisan "Kado pernikahan". Risa tersenyum melihat tulisan tersebut, kemudian melanjutkan melihat isi dari sebuah amplop. Namun senyum Risa yang semula sangat manis itu kini berubah total. Bibirnya bergetar dan matanya tidak beralih pandangan. Badannya mendadak lemas dan menggigil serta hatinya serasa sedang dicabik-cabik.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hai-hai para readers tercinta ❤️
Yang ngaku suka sama novel "Pilihan Takdir" please dong klik LIKE, VOTE dan KOMEN. Kasih saran dan masukan sebanyak-banyaknya.. Ditunggu yaa 😘😘
__ADS_1