
"mereka pasangan yang serasi sayang, kamu harus percaya dengan pilihan Jeanny" ujar Risa mencoba meyakinkan Kevin yang masih terlihat tidak percaya
"Rendi pasti sudah tahu tentang hubungan mereka. Tapi kenapa dia tidak memberitahuku" sahut Kevin sedikit sebal
"Aku akan meneleponnya" lanjut Kevin kemudian mengambil ponselnya
"Hallo.." suara Rendi di sambungan telepon
"Kamu sudah tahu hubungan Jeanny dengan dokter Andreas?" Tanya Kevin langsung ke intinya
"Iya, mereka akan segera menikah" sahut Rendi datar
Kevin menghela nafas mendengar ucapan Rendi
"Kenapa kamu tidak memberitahuku?" Tanya Kevin kesal
"Aku pikir kamu sudah tahu. Bukankah dokter Andreas itu temanmu" sahut Rendi masih tenang
"Iya, tapi dia juga tidak tahu kalau aku memiliki hubungan dengan Jeanny. Aku baru saja mengetahui hubungan mereka" ujar Kevin
"Lalu? Apa kamu menolak hubungan mereka?" Tanya Rendi
"Aku tidak memiliki hak untuk itu. Ya sudah aku tutup dulu" sahut Kevin ketus kemudian mengakhiri panggilan tersebut
Seminggu berlalu sejak kunjungan Kevin ke rumah Jeanny. Kevin sedang tidur siang, dan ketika dia bangun Kevin mencari sosok Risa
"Sayang.. " panggil Kevin
Kevin keluar kamar dan melihat Risa sedang berjalan-jalan di samping rumah
"Kenapa sudah bangun yank?" Tanya Kevin karena biasanya jam dua siang Risa baru bangun
"Aku merasakan kontraksi yank.." sahut Risa yang masih berjalan pelan mondar-mandir
"Kamu akan segera melahirkan yank?" Tanya Kevin sedikit panik
"Ayo kita ke rumah sakit sekarang" ucap Kevin kemudian memanggil bi Nuri
__ADS_1
"Bi.. bi Nuri.." panggil Kevin
"Ya den.." sahut bi Nuri
"Tolong ambilkan tas hitam besar yang ada di kamar adek, non Risa akan segera melahirkan" ucap Kevin memberi perintah
Bi Nuri yang mendengar bahwa Risa akan segera menikah segera berlari ke kamar dan mengambil barang yang sudah disiapkan
"Aku hanya merasakan kontraksi yank.. bisa jadi ini hanya kontraksi palsu" ucap Risa mencoba menenangkan Kevin yang terlihat panik
"Lebih baik kita segera ke rumah sakit, aku khawatir dengan kondisi mu dan anak kita" ucap Kevin masih sibuk memasukkan keperluan di tas yang lain
Bi Nuri datang dengan membawa tas hitam besar yang berisi keperluan bayi
"tolong bawa tas ini juga bi" pinta Kevin menyodorkan tas
"ayo yank.. kita jalan pelan" ajak Kevin lalu menuntun Risa
"iya yank" sahut Risa singkat
Sesekali Kevin melirik Risa dari kaca spion, terkadang Risa terlihat meringis menahan sesuatu sambil memegangi perut besarnya.
Setelah hampir setengah jam mengemudi, akhirnya mereka sampai di rumah sakit dan Kevin segera menuntun Risa keluar dari mobil.
Dokter Tyas menghampiri Kevin yang sebelumnya Kevin sudah mengabari dokter Tyas jika Risa sudah merasakan kontraksi
"di buat rileks saja ya bu. Tarik nafas yang dalam ketika rasa sakitnya datang. Dan tetap berjalan pelan, karena itu akan membantu jalannya persalinan" pesan dokter Tyas
"Iya dok.." sahut Risa singkat
"Itu air apa dok?" seru Kevin melihat lantai di bawah Risa yang tiba-tiba basah
Risa dengan terkejut kemudian ikut melihat arah pandang Kevin. Risa meraba area pahanya dan ternyata memang basah.
"Air ketubannya sudah pecah dok.." ucap Risa sedikit bergetar
"Tenang ya Bu Risa. Silahkan berbaring, saya akan persiapkan untuk proses kelahirannya" ucap dokter Tyas kemudian meninggalkan Risa
__ADS_1
"Sayang.. apa kamu merasakan sakit?" tanya Kevin lembut sambil memegang tangan Risa
"iya terkadang sakitnya datang dan pergi. Kata dokter masih pembukaan dua. Masih harus menunggu delapan bukaan lagi" sahut Risa lirih
"Kamu yang kuat ya, ini demi anak kita" ucap Kevin lembut lalu mengusap kepala Risa
Dokter Tyas masuk ke dalam ruangan Risa dan mengecek apakah pembukaan Risa sudah bertambah
"Masih pembukaan dua bu. Jika dalam satu jam pembukaannya masih belum sempurna. Kita harus melakukan tindakan operasi Caesar, karena air ketuban ibu Risa sudah pecah, kami tidak mau ambil resiko dengan keselamatan bayinya" jelas dokter Tyas
"Lakukan apa saja yang penting ibu dan bayinya selamat dok" pinta Kevin dengan cemas mendengar penjelasan dokter Tyas
"Baik pak.." sahut dokter Tyas singkat kemudian meninggalkan ruangan Risa
"Tidak papa jika kamu tidak bisa melahirkan normal. Melahirkan normal ataupun dengan jalan operasi semuanya sama-sama memiliki kewajiban sebagai ibu. Kamu akan selalu menjadi wanita yang sempurna jika bisa melewati ini dengan baik sayang" ucap Kevin memberi semangat karena Risa sudah bermimpi akan melahirkan secara normal.
"Kamu temani aku ya mas.." pinta Risa lemah
"aku akan selalu bersamamu sayang" sahut Kevin lalu mengecup puncak kepala Risa
Sudah hampir satu jam, dokter Tyas masuk ke dalam ruang Risa dan kembali melihat pembukaan Risa, ternyata baru pembukaan tiga. Kemudian dokter Tyas menyalakan alat Doppler untuk mendengar detak jantung bayinya.
"Kami harus melakukan operasi sekarang juga pak, detak jantung bayinya sudah mulai menurun" jelas dokter Tyas
"Iya dok, lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya" sahut Kevin pasrah
Dokter Tyas meninggalkan Risa dan Kevin, beberapa menit kemudian dua orang perawat masuk ke dalam ruangan Risa dan mulai mengganti baju pasien Risa dengan baju operasi. Persiapan semuanya dilakukan dan saatnya Risa di dorong menuju ruang operasi. Kevin menemani Risa dan mengikutinya sampai masuk di ruang operasi
"Permisi ya bu, saya akan menyuntikkan obat bius" ucap seorang perawat, Risa merasakan dingin di area punggungnya
Risa melihat dokter Tyas sudah memasuki ruang operasi. Kevin menggenggam tangan Risa yang dingin dan mencoba mengalihkan perhatiannya dengan beberapa obrolan ringan.
Tidak terasa setelah sepuluh menit, terdengar suara tangisan bayi. Risa terkejut mendengarnya karena sejak tadi dia hanya mengobrol dan bercanda dengan Kevin
"Mas.. suara anak kita.." ucap Risa bergetar lalu menitikkan air matanya
"Iya sayang.. kamu dan dia sangat hebat. Dengarlah dia menangis sangat kencang" sahut Kevin mengecup pipi dan kening Risa
__ADS_1