Pilihan Takdir

Pilihan Takdir
Persidangan (3)


__ADS_3

Pagi ini aura kebahagiaan sedang menyelimuti perasaan Kevin dan Risa. Dengan keteguhan hati yang kuat keduanya sangat yakin bahwa hari ini akan menjadi hari paling membahagiakan untuk mereka.


"Makan yang banyak sayang.." ucap Kevin kepada Risa lalu menambahkan sepotong daging ke dalam piring Risa


"Eemhh, melihatnya saja aku sudah mual sayang. Sepertinya aku tidak bisa menghabiskan makanan ini" sahut Risa sambil melihat piringnya yang masih terisi setengah


"Kamu harus banyak makan, nutrisi yang kamu makan akan kamu bagi dengan anak kita" ucap Kevin memberi perhatian


"Aku akan minum jus alpukat dan juga susu hamil saja yank. Aku benar-benar tidak bisa menghabiskan makanan ini" tolak Risa sambil menggeser piringnya


"Oke baiklah yank.." sahut Kevin pasrah


Setelah memastikan Risa sudah minum susu dan vitamin, Kevin akhirnya pamit untuk berangkat ke store lalu ke persidangan.


"Sayang.. aku berangkat dulu. Doakan yang terbaik untuk permasalahan ini semoga cepat selesai" ucap Kevin membelai rambut Risa. Risa mengangguk tersenyum


"Sayang... baik-baik di rumah sama mama. Papa harus pergi menyelesaikan masalah ini supaya kita bisa bersama tanpa ada yang menggangu." ucap Kevin yang sedang berjongkok mengelus perut datar Risa. Kevin mengecupi perut datar tersebut dengan penuh cinta.


"Siap papaku sayang.." jawab Risa tersenyum sambil menirukan suara anak-anak


"Oke.. aku berangkat sayang" pamit Kevin kemudian mengecup kening Risa


Setelah kepergian Kevin, Risa bergegas masuk ke rumah. Menjelang siang perasaan bosan melanda hati Risa. Untuk menghilangkan rasa bosan Risa memutuskan untuk menonton drama korea di ruang keluarga. Di tengah-tengah asyiknya sedang menonton tiba-tiba pintu diketuk oleh seseorang.


**

__ADS_1


Pukul setengah sepuluh pagi Kevin sudah sampai di pengadilan. Dia hanya bersama pengacara Crist di ruang tunggu. Miko dan Jafar sedang mengurus kepentingan lain.


Setelah hampir setengah jam menunggu, satu persatu hakim mulai memasuki ruang persidangan. Terlihat Ana masih berbicara serius dengan pengacara Han di luar ruangan persidangan.


"Baik.. kita akan melanjutkan sidang yang tertunda kemarin. Silahkan pihak penggugat mengemukakan hal-hal untuk pembelaan" ucap ketua hakim kepada pihak Kevin


"Terimakasih yang mulia. Saya mewakili klien saya ingin menggugat saudara Ana tentang penipuan, pencemaran nama baik dan pemalsuan data. Klien saya menolak keras jika harus menikahi dan bertanggungjawab terhadap saudara Ana. Saya akan menghadirkan ayah kandung dari janin yang dikandung saudara Ana" ucap pengacara Crist dengan lugasnya


Ana yang mendengar ucapan pengacara Crist pun seketika terlihat terkejut. Raut wajah panik tidak bisa disembunyikan dari wajah Ana. Namun tidak bagi pengacara Han yang masih tetap tenang tidak bergeming.


Ketua hakim mempersilahkan seseorang untuk memasuki ruang persidangan. Terlihat seorang laki-laki mulai berjalan menghampiri kursi saksi, wajahnya terlihat kusut dengan lingkaran hitam di bawah mata yang terlihat jelas.


"Silahkan saudara Doni untuk berbicara.." perintah pengacara Crist pada Doni.


Kevin dengan wajah sinisnya enggan menatap laki-laki tersebut yang ikut dalam usaha penghancuran kebahagiaan rumah tangganya. Kevin mengetahui fakta bahwa Doni adalah ayah dari anak yang dikandung Ana sejak seminggu yang lalu. Berkat kerja keras Miko selama hampir dua minggu yang melakukan tes DNA antara janin yang dikandung Ana dengan beberapa laki-laki yang pernah berhubungan dengan Ana, akhirnya terbongkarlah bahwa Doni adalah tersangkanya. Tidak pernah terpikirkan bahwa laki-laki yang sering mondar-mandir di storenya akan membawa permasalahan rumit seperti ini.


"Mohon maaf yang mulia, disini saya akan mengatakan suatu hal yang mungkin akan membantu permasalahan persidangan tanpa paksaan dari pihak manapun" ucap Doni sedikit gugup


"Saya pernah memiliki hubungan dengan saudara Ana sekitar enam bulan yang lalu. Saya mengenalnya karena dia adalah sekretaris dari teman saya" lanjut Doni menjelaskan. Kevin yang mendengar kata teman lalu memalingkan muka dan tersenyum sinis.


"Karena kekhilafan saya sebagai laki-laki saya melakukan kesalahan yang tidak seharusnya kepada saudara Ana. Hal tersebut terjadi sekitar empat bulan yang lalu tepatnya awal bulan September di hari ulang tahun saya." imbuh Doni dengan menundukkan wajahnya.


Ana juga terlihat sedang menundukkan kepalanya. Tampaknya dia sedang terisak, entah karena malu atau merasa bersalah kepada Kevin tidak ada yang tahu.


"Saya sangat tidak setuju dengan pernyataan saudara Doni yang mulia. Klien saya menolak keras bahwa beliau pernah memiliki hubungan dengan saudara Doni" bela pengacara Han lalu melirik tajam ke arah Ana. Ana masih diam berkutik tidak mendongakkan kepalanya.

__ADS_1


"Sekitar tiga bulan yang lalu, saudara Ana datang menemui saya untuk meminta saya segera menikahinya" lanjut Doni masih memberi pernyataan


Flashback On


Ana yang sedang disibukkan dengan berkas-berkas data keuangan store tiba-tiba merasakan mual dan pusing. Keinginan untuk segera memuntahkan isi perutnya tidak dapat dibendung lagi.


"Week.. week.. " Ana mencoba mengeluarkan isi perutnya. Kepalanya sangat berat dan tubuhnya sangat lemas


Ketika jam makan siang tiba, Ana memutuskan ke apotek terdekat untuk membeli obat.


"Tolong resepkan obat untuk saya dengan gejala mual dan pusing" pinta Ana kepada apoteker


"Sudah berapa hari nona mengalami gejala tersebut?" tanya apoteker


"Baru pagi ini" jawab Ana


"Apakah siklus menstruasi nona datang tepat waktu?" tanya apoteker lagi


Ana terdiam dan mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali dia menstruasi. Dan benar saja, dia sudah terlambat selama hampir dua bulan.


"Jika nona memang sudah terlambat, saya sarankan nona untuk menghubungi dokter kandungan" lanjut apoteker tersebut


Ana tidak menghiraukan ucapan apoteker tersebut. Dengan hati dan perasaan yang berantakan Ana berlalu meninggalkan apotek dengan segala perasaan yang berkecamuk di hatinya.


Flashback Off

__ADS_1


__ADS_2