
Kevin sedang mempelajari berkas perjanjian dengan beberapa garmen baru sebagai penyedia produk store nya. Tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara pintu ruangannya yang dibuka dengan sangat kasar.
"Apa maksud kamu menuntutku?? Haa?? Kamu laki-laki baj*ngan yang tidak mau bertanggungjawab dan malah mau memenjarakanku?" teriak Ana di hadapan Kevin yang sedang tersulut emosi
Kevin tetap tenang lalu tersenyum sinis mendengar ucapan dan teriakan Ana
"Aku tidak pernah menyangka kamu bisa berubah menjadi perempuan gila seperti ini. Laki-laki mana yang bisa merubah perempuan diam dan penurut menjadi perempuan gila sepertimu ini? Atau mungkin sebenarnya inilah sifat asli kamu yang selama ini kamu tutup-tutupi dengan sikap sok lembutmu" ejek Kevin menekankan setiap ucapannya
"Aku sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Bisa-bisanya kamu menghianati atasan kamu sendiri dan menjebaknya dengan alasan yang sangat menjijikkan. Kurang baik apa aku padamu? Ataukah aku pernah memiliki kesalahan padamu?" lanjut Kevin tetap tenang duduk di kursi kerjanya
"Aku sudah memperingatkanmu. Seharusnya kamu mengakui semua kebohongan yang sudah kamu lakukan dan segera meminta maaf kepadaku dan Risa. Tapi ternyata apa, kamu malah lebih berani mencoba menghancurkan rumah tangga kami. Aku tidak pernah bercanda dengan kata-kataku, sampai bertemu lagi di pengadilan. Kita akan lihat perempuan dan laki-laki bodoh yang mencoba menghancurkan kebahagiaan keluarga lain." imbuh Kevin yang sudah sangat muak melihat Ana di hadapannya.
"Sekarang kamu keluar dari ruanganku, aku tidak mau melihat perempuan mengerikan sepertimu" usir Kevin tegas dengan teriakan yang menakutkan
"Kamu..!!!! Benar-benar baj*ngan..!!! Teriak Ana
Dengan matanya yang merah, Ana terlihat sangat emosi mendengar semua cercaan Kevin. Dengan membuang nafas kasar Ana berlalu dan membanting pintu ruangan Kevin.
"Ibu hamil tidak baik jika marah-marah mbak. Kasihan bayinya" ucap Miko yang melihat Ana keluar dari ruangan Kevin
__ADS_1
Ana hanya melihat ketus ke arah Miko. Ana dengan segala perasaan marahnya meninggalkan store yang pernah menjadi tempat dia mengais rezeki.
Miko dengan ekspresi senangnya masih senyum-senyum sendiri begitu Ana sudah berlalu
"Kamu kenapa sih Mik.." tanya Dina yang baru dari toilet heran melihat Miko yang sedang senyum-senyum sendiri
"Eh.. tidak apa-apa mbak." sahut Miko menyeringai
"Kamu lihat wanita yang sering ke ruangan pak Kevin kan. Itu siapa sih?" tanya Dina kepada Miko
"Nenek lampir itu mbak" ujar Miko lalu bergidik ngeri
"Huss, kamu itu ngawur aja ngomongnya" ucap Dina mengingatkan Miko
"Apakah bos ada di dalam?" tanya Jafar yang sudah datang untuk menemui Kevin
"Ada di dalam mas" sahut Miko mengisyaratkan jari telunjuknya
Jafar masuk ke dalam ruangan Kevin begitu sudah mendapat izin melalui Miko.
__ADS_1
"Laki-laki itu juga terlihat menyeramkan. Siapa lagi dia?" tanya Dina yang terus saja penasaran
"Mbak Dina kerja aja, tidak usah memikirkan hal lain. Banyak pikiran tidak baik untuk kesehatan mbak" ujar Miko menggoda Dina
"Ah kamu ini" sahut Dina sedikit kecewa dengan jawaban Miko
"Kenapa banyak sekali hal rumit yang terjadi di store ini sih" gumam Dina tetapi masih terdengar oleh Miko. Miko yang mendengarnya pun hanya tersenyum.
Kevin melihat Jafar yang masuk ke ruangannya. Keduanya membahas beberapa hal penting tentang perampokan di store.
"Saya akan mengurus orang ini bos. Serahkan saja semuanya pada saya" ujar Jafar percaya diri
"Segera kirimkan kabar baik kepadaku" sahut Kevin berharap
Beberapa saat kemudian, Jafar keluar dan pergi menjalankan perintah dari Kevin.
Kevin mengambil tas kerja dan ponselnya lalu berjalan keluar
"Saya akan pulang dulu, kalian urus dulu store nya" titah Kevin kepada Miko dan Dina yang ada di depan ruangannya
__ADS_1
"Baik pak" sahut Miko dan Dina
Setelah itu Kevin melajukan mobilnya pulang ke rumah. Pikirannya sedang ingin tenang, oleh karena itu dia memutuskan pulang dan melihat Risa. Dalam perjalanan pulang, Kevin melihat kedai es krim dan membelokkan mobilnya kesana. Kevin memesan dua es krim untuk dirinya dan juga Risa.