
"Tidak.. aku sedang tidak bertengkar dengan Kevin" elak Risa kepada Rendi
"Lalu.. kenapa kamu membawa tas sebesar itu?" selidik Rendi masih tidak percaya
"Sudahlah.. Ayo cepat kita berangkat ke apartemenmu. Nanti aku ceritakan semuanya" mohon Risa kepada Rendi
"Apa Kevin tau kalau kamu akan ke apartemen milikku?" tanya Rendi lagi
"Nanti aku akan menghubunginya" jawab Risa singkat
Dengan perasaan penuh tanda tanya, Rendi mengiyakan saja permintaan Risa. Karena dirinya cukup malu dilihat beberapa orang yang menatap mereka.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya mereka sampai di apartemen Rendi.
"Cepat hubungi Kevin kalau kamu sudah sampai di apartemenku" perintah Rendi kepada Risa
"Hmmmm.. " Risa hanya berdehem karena dia sedang fokus mengamati sekeliling dalam ruang apartemen Rendi yang tertata sangat rapi. Risa sedikit kagum dengan kepribadian Rendi yang sangat berbeda dengan Kevin. Ya karena memang mereka bukan saudara kandung. Tetapi keduanya dibesarkan dan dididik oleh ayah dan lingkungan yang sama.
"Sebenarnya ada masalah apa kamu sama Kevin?" tanya Rendi begitu keduanya sudah duduk di sofa
"Sebenarnya.. emm, sebelumnya apa aku boleh tanya sesuatu?" ucap Risa dengan sedikit gugup
Rendi mengerutkan dahinya, merasa melihat gelagat aneh dari sikap Risa yang tidak pernah dilihatnya selama ini.
"Tanya tentang apa?" ucap Rendi
"Emm..
Apa mas Kevin tipe laki-laki yang senang bermain dengan perempuan?" tanya Risa dengan ragu
Rendi kembali mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Risa
"Ada apa? apakah kamu memergoki Kevin sedang berselingkuh dengan perempuan lain?" tanya Rendi dengan sikap yang tenang
"Bukaaan.. ta-taapii.. " jawab Risa ragu. Apakah benar jika dirinya menceritakan masalah rumah tangganya dengan orang lain.
"Tapi apa? Cepat katakan.." tanya Rendi sedikit memaksa
"Ada perempuan lain lagi yang mengatakan bahwa dia sedang mengandung anak mas Kevin" jawab Risa lirih
__ADS_1
"Lagi..?? Kali ini siapa??" tanya Rendi dengan terkejut dan penasaran
Risa yang melihat sikap Rendi pun merasa terkejut
"Apa Rendi tau masalah mas Kevin dengan mbak Ana.." gumam Risa dalam hati
"Katakan.. siapa wanita itu.." desak Rendi
"Apa kamu tau kalau mbak Ana sedang mengandung?" tanya Risa dengan hati-hati
"Ya aku tau itu.. dan ayah dari janin itu bukanlah Kevin" jawab Rendi dengan serius
"Jadi kamu tau permasalahan antara mas Kevin dan mbak Ana?" selidik Risa masih tidak percaya
"Iya aku tau. Bahkan aku juga tau siapa ayah kandungnya. Bukankah hari ini sidang keputusan? Kenapa kamu malah tidak ikut bersama Kevin?" tanya Rendi berbondong-bondong
"Siapa ayah kandungnya?" tanya Risa penasaran
"Doni. Teman Kevin.. dia sering datang ke store Kevin, mungkin itu sebabnya mereka bisa memiliki hubungan" sahut Rendi
"Jadi siapa perempuan lain yang datang menemuimu?" desak Rendi tidak sabar
"Tunangan??" sahut Rendi masih tidak percaya dengan ucapan Risa
"Aku tidak mengenalnya.. yang aku tau namanya Jeanny. Dia sangat sombong dan angkuh" jelas Risa
"Jeanny??" ucap Rendi dengan terkejut
"Seharusnya sekarang dia ada di luar negeri" lanjut Rendi
"Kamu mengenalnya?" tanya Risa
"Iya. aku, Kevin dan Jeanny saling kenal. Bisa dikatakan kita teman dekat. Dia adalah putri tunggal pengacara Han" sahut Rendi
"Tapi seiring berjalannya waktu, Jeanny mencintai Kevin" imbuh Rendi menjelaskan
"Jadi benar kalau mereka saling mencintai?" ucap Risa lirih namun masih bisa didengar Rendi
"Siapa yang mengatakan kalau mereka saling mencintai?" tanya Rendi
__ADS_1
"Jeanny mengatakannya sendiri. Dan dia juga membawa foto USG janinnya" ucap Risa yang tidak terasa sudah meneteskan air mata
Rendi yang melihat Risa mulai bersedih dan meneteskan air mata, hatinya mulai sakit dan tidak rela melihat Risa seperti itu. Tidak bisa dipungkirinya bahwa dia memiliki perasaan pada Risa.
"Sudahlah, jangan bersedih dan menangis. Belum pasti juga anak itu adalah anak Kevin" ucap Rendi mencoba menghibur Risa, lalu menepuk-nepuk pundak Risa dengan lembut.
Mendapat perlakuan seperti itu dari Rendi membuat Risa semakin terisak. Rendi semakin tidak tega dan tidak rela melihat Risa menangis seperti itu.
Lama Risa menangis dan Rendi dengan sabar menunggui dan menemani Risa yang sedang sedih. Sampai Risa lupa bahwa handphonenya sudah dimatikan sejak masuk ke dalam mobil Rendi.
"Kamu istirahatlah dulu disini. Jangan memikirkan banyak hal, itu tidak baik untuk kesehatanmu" ucap Rendi memberi pesan setelah mengantarkan Risa ke dalam kamar miliknya
"Terimakasih Ren. Untung saja ada kamu, aku tidak tau apa jadinya aku kalau tidak ada kamu. Aku tidak memiliki siapa-siapa disini" ucap Risa lirih sambil menundukkan kepalanya
"Tenang saja. Istirahatlah" ucap Rendi lalu ingin berlalu meninggalkan Risa
"Ren.. lalu kamu akan tidur dimana?" panggil Risa menatap Rendi
"Apartemen sebelah milik temanku. Aku bisa menginap disana" sahut Rendi tenang
"Oh.. baiklah
Emm.. " ucap Risa ragu
"Apa ada yang ingin kamu katakan?" tanya Rendi
"A-aku lapar Ren.. dan aku sedang ingin makan bebek goreng" ucap Risa sedikit ragu
"Hahaha.. aku pikir kamu akan mengatakan apa. Ternyata kamu lapar
Tapi sepertinya di depan tidak ada penjual bebek goreng. Apa kamu bisa memilih menu yang lain??" sahut Rendi dengan masih tersenyum
"Tidak.. aku hanya menginginkan bebek goreng" jawab Risa lalu menggelengkan kepalanya
Rendi menatap aneh pada Risa
"Jangan-jangan kamu sedang hamil?" selidik Rendi
"Iya.." sahut Risa datar
__ADS_1
"Apa?? kamu hamil lagi??" ucap Rendi yang terkejut membuat Risa juga terkejut.