
Tujuh bulan sudah berlalu, kini kandungan Risa sudah sangat membesar. Badannya bertambah montok karena Kevin selalu memastikan Risa makan tepat waktu dan juga rajin mengonsumsi vitamin serta susu ibu hamil.
Kevin juga jarang pergi ke store karena semuanya sudah di urus oleh Miko dan Dina. Sehari-hari dia hanya menemani Risa bermalas-malasan di rumah, terkadang dia menemani Risa mengikuti kelas kehamilan.
Jeanny sudah melahirkan sebulan yang lalu dan bayinya berjenis kelamin perempuan yang diberi nama Jasmine Sophia Aletta. Kondisi mentalnya sudah semakin membaik setelah beberapa bulan menjalani pengobatan, ditambah lagi dengan adanya seorang putri kecil di hidupnya. Rendi selalu menemani Jeanny sehingga Jeanny tidak merasa lagi sebagai orang yang ditinggalkan. Namun sikap selalu ada Rendi bukan sebagai laki-laki terhadap perempuan. Keduanya seperti adik dan kakak, dan sekarang Jeanny juga sudah bisa menerima Kevin dan Risa.
"Sayang.. untuk apa kamu membeli bandana dan jepit rambutnya ini, kamu tau kalau anak kita adalah laki-laki.. kenapa membeli barang-barang ini" seru Kevin yang terkejut melihat barang-barang untuk calon anaknya yang diketahui berjenis kelamin laki-laki, tetapi dia malah melihat barang-barang untuk anak perempuan
"Jangan teriak yank.. telingaku sakit kalau kamu ngomongnya kenceng.
Ini untuk baby Jasmine, hari ini ayo kita menengok Jeanny dan baby Jasmine" sahut Risa yang berjalan pelan menghampiri Kevin
"Oh untuk baby Jasmine, harusnya kamu bilang dong waktu membeli ini" ujar Kevin tidak merasa bersalah
Risa duduk di sofa dekat dengan Kevin, dirinya sudah tidak kuat lagi untuk berdiri lama-lama. Mereka seminggu sekali melihat kondisi Jeanny, karena om Han masih di penjara dan ibunya sudah meninggal ketika Jeanny SMA, jadi selama ini Jeanny ditemani oleh Rendi atau sesekali Kevin dan Risa.
Rumah om Han
"Sayang.. sekarang badan kamu sudah semakin montok sama seperti badan aunty ya.." ucap Risa gemas yang sedang menggendong baby Jasmine di tangannya
"Kakak itu naiknya kebanyakan, masa iya mau sampai dua puluh kilo.." gerutu Jeanny yang melihat kondisi tubuh Risa
"Salahkan itu kakakmu. Aku sudah berencana diet tapi dia merasa kalau aku harus selalu sehat dengan bertambah berat badan setiap bulan" gerutu Risa dengan kesal sambil melirik ke arah Kevin. Sedangkan Kevin yang menjadi sasaran malah merasa acuh tidak merasa bersalah.
"Tidak papa gendut, yang penting kamu dan adek sehat" sahut Kevin datar
"Ya tapi aku terlihat jelek yank.." ujar Risa
"Kata siapa? Bagiku kamu selalu cantik dan sexy dengan badan seperti ini" sahut Kevin kemudian menghampiri Risa dan mengecup puncak kepala Risa
Risa hanya bisa menghela nafas, Kevin tidak tahu bahwa Risa sudah merasa tidak nyaman dan merasa tidak pede dengan tubuhnya saat ini.
"Hari perkiraan lahirnya kapan kak?" Tanya Jeanny yang sedang memangku baby Jasmine
"Masih tiga minggu lagi.." sahut Risa
__ADS_1
"Sudah disiapkan namanya?" Tanya Jeanny lagi
"Kak Kevin yang memberikan nama. Mungkin sudah dipikirkan sama dia" sahut Risa jujur karena memang Kevin yang akan memberi nama untuk bayi mereka
"Siapa namanya kak?" Tanya Jeanny melihat Kevin yang sedang asyik dengan ponselnya
"Rahasia.." sahut Kevin singkat membuat Jeanny dan Risa kecewa
Setelah hampir dua jam Kevin dan Risa di rumah om Han, keduanya memutuskan pulang karena hari sudah sore. Jeanny tidak sendirian, karena sudah ada dua pembantu dan juga satu baby sitter yang akan menemaninya.
Ketika Kevin sudah di mobilnya dan hendak mengemudi, sebuah mobil BMW warna putih memasuki rumah om Han. Kevin penasaran dengan sosok yang ada di dalam mobil tersebut.
Seorang laki-laki tampan dan gagah turun dari mobil tersebut. Sosok tersebut sangat dikenal Kevin. Dia adalah dokter Andreas teman dekat Kevin ketika masih kuliah.
"Andreas.." ujar Kevin membuat Risa ikut menatap arah yang dilihat oleh Kevin
"Kamu kenal yank?" Tanya Risa
"Tentu saja sayang, dia temanku. Untuk apa dia kesini?" Ucap Kevin penasaran
"Ayo kita lihat dulu.." ajak Kevin yang sedikit khawatir karena kedatangan dokter Andreas
"Iya yank.." Sahut Risa yang kemudian ikut turun dari mobil
Mereka berjalan sedikit terburu-buru masuk ke dalam rumah om Han
"Andre.." panggil Kevin ketika melihat dokter Andreas sedang duduk dan memangku baby Jasmine di sofa
"Kevin.. " seru dokter Andreas yang sedikit terkejut
"Ada urusan apa kamu kemari.." selidik Kevin sedikit curiga
"Emmm.. " sahut dokter Andreas sedikit kebingungan
"Kakak.. aku kira kamu sudah pulang" ujar Jeanny yang tiba-tiba muncul dengan membawa baki berisi minuman
__ADS_1
"Kakak mengenal dokter Andre?" Tanya Jeanny dengan mata yang bertanya-tanya
"Dia teman kakak.." sahut Kevin singkat
"Dia calon suamiku.." ucap Jeanny mantap
"Apa.. sejak kapan kalian saling kenal??" Seru Kevin yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya
"Sejak dokter Andre menjadi dokter kandungan ketika aku di rawat" sahut Jeanny tenang
"Tunggu-tunggu.." ujar Kevin mencoba mencerna ucapan Jeanny
"Jadi begini Vin, aku adalah dokter kandungan yang menangani Jeanny ketika dia sedang menjalani perawatan. Setiap hari kita bertemu, dan ternyata setelah dia sudah melahirkan perasaanku masih ingin selalu bertemu dengannya. Oleh karena itu aku melamarnya dan dia ternyata menerima lamaranku" ucap dokter Andre menjelaskan
"Apa kamu tau kalau dia adalah putri pengacara Han?" Selidik Kevin dengan menyipitkan matanya
"Iya aku tau setelah beberapa bulan merawatnya. Tapi aku benar-benar tidak tahu kalau kalian saling mengenal. Yang aku tahu laki-laki yang sering menjenguknya adalah Rendi" sahut dokter Andre
"Iya karena aku sibuk dengan kandungan istriku sendiri.
Lalu, apa kamu menerima kondisi Jeanny? Dia pernah sedikit terguncang, dia hamil di luar nikah dan yang terpenting dia adalah putri pengacara Han yang pernah mencoba menghasutmu" jelas Kevin memberi tahu
"Kakak.." ucap Jeanny lirih
"Aku tidak mau melepas adikku yang seperti itu ke sembarang laki-laki, sudah cukup dia menderita sendirian" ucap Kevin sinis
"Iya aku tahu semuanya. Aku menerima dengan tulus, aku juga mencintai baby Jasmine. Dan mengenai pengacara Han, aku sudah menemuinya dan beliau mengatakan keputusannya ada di tangan Jeanny" sahut dokter Andreas
"Jeanny.. bagaimana denganmu?" Tanya Kevin kepada Jeanny
"Aku mencintai dokter Andre kak. Selama aku di rawat, dia selalu ada untuk menemaniku. Dan lihatlah dia, dia juga mencintai anakku" ucap Jeanny sembari matanya berkaca-kaca
Kevin memeluk Jeanny yang mulai bersedih dan mengelus rambutnya
"Sudah jangan menangis, kalau kebahagiaanmu memang dengan dokter Andre, kakak mengizinkannya" ucap Kevin kemudian membelai rambut panjang Jeanny
__ADS_1
Jeanny membalas pelukan Kevin dan sesaat kemudian melepaskannya. Senyum kebahagiaan dan kelegaan terpancar jelas dari wajah Jeanny.